Tampilkan postingan dengan label Skripsi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Skripsi. Tampilkan semua postingan

Bekal Utama Berumah Tangga


“Apabila Allah menghendaki kebaikan pada suatu keluarga. Dia
memperdalamkan pengetahuan agama kepada mereka. Menjadikan anak-anak mereka menghormati orang tua mereka. Memberikan kemudahan pada kehidupan mereka. Kesederhanaan dalam nafkah mereka dan memperlihatkan aib mereka, sehingga mereka menyadarinya,lalu menghentikan perbuatannya. Namun,apabila menghendaki sebaliknya, Dia meninggalkan dan menelantarkan mereka.” (H.R. Daaruqthni ) 

Semoga Allah yang Maha Mengatur Segala Kejadian serta Maha Memudahkan Segala Urusan melindungi hamba-hamba-Nya dari sikap berkecil hati,terutama manakala kepada kita dikaruniakan niat dan keinginan untuk memiliki pasangan hidup. Sebagian kecil dari kisah kehidupan yang terpapar berikut ini, masya Alloh,telah menunjukan kepada kita betapa tidak mudah mengayuh bahtera rumah tangga itu. Tidak cukup hanya diawali dengan keinginan untuk menikah belaka. Karena, ternyata tidak sedikit pasangan yang telah memasuki dunia rumah tangga menemui kenyataan bahwa pergantian hari-harinya telah menjadi pergantian kesusahan yang satu ke kesusahan berikutnya. Pernik-pernik masalah seakan telah menjadi seluruh dinding rumahnya.

Seorang ibu rumah tangga yang mengaku telah 16 tahun berumah tangga serta telah dikaruniai 3
orang putra-putri yang sehat dan cerdas, menumpahkan keluhan mengenai masalah rumah tangganya di rubrik konsultasi sebuah surat kabar. Dari segi materi duniawi, mereka keluarga yang
berkecukupan karena keduanya bekerja di kantor.

Akan tetapi, ada ganjalan yang semula diabaikan dari pikiran sang istri. Ia merasakan
pernikahannya terasa manis pada hari Sabtu dan Minggu saja, yakni ketika keduanya tidak ngantor, sehingga dapat berkumpul dengan seluruh keluarga. Selebihnya, dari Senin sampai Jumat, terasa hambar. Suaminya berkantor di sebuah gedung pusat perkantoran modern, yang menurut anggapan sang istri,tentulah setiap harinya akan bertemu dengan segala macam wanita, dari yang berbusana minim sampai yang bergaun sebatas tumit. Pemandangan semacam itu akan ditemui sang suami dari Senin hingga Jumat. Sedangkan, sang istri mengaku penampilannya di rumah biasa-biasa saja. Kini ia rasakan tidak lagi seramping dulu. Rata-rata suaminya pergi ke kantor sejak subuh dan pulang malam hari. Artinya, selama 15 jam setiap harinya. Ketika tiba di rumah pun, kegiatan-nya hanya makan malam , lalu pergi tidur. Begitu yang terjadi setiap hari. Suaminya seperti sudah tidak mempunyai waktu lagi untuk berbincang-bincang dengannya. Kalaupun ia bertanya tentang sesuatu , jawaban yang keluar dari mulut sang suami singkat-singkat saja. Kalau suatu ketika ia bercerita tentang sesuatu, ia tidak tahu apakah didengarkan atau tidak karena suaminya Cuma diam dan acuh tak acuh. Kalaupun mengomentarinya, pastilah kata-kata yang terlontar itu berbau memojokkan sang istri.

Satu hal yang paling ia benci adalah saat tiba hari Minggu malam. Sepulang dari suatu tempat
,biasanya suaminya mulai ketus. Bahkan tidak jarang keduanya terlibat lagi dipersoalkan sang
suami adalah sikap sang istri yang dinilai cerewet dan suka mengatur. Suaminya mulai bersikap
baik lagi kalau tiba Jumat malam. Karena, Sabtu paginya mereka akan berkumpul bersama lagi
hingga Minggu petang. Yang lebih repot lagi, ia sering bermimpi bahwa suaminya menyeleweng
dengan wanita lain. Sehingga, kalau sang suami lagi tampak terdiam melamun, ia pun langsung
teringat akan mimpinya tersebut. Karuan saja dari hari ke hari kian bergumpal kecemasan dan
kegelisahan yang tak berujung dan berpangkal.

Itulah gambaran tentang satu sisi getir dari kehidupan berumah tangga, yang bias dialami oleh
siapa saja, tanpa terkecuali. Lebih-lebih pada pasangan muda, yang notabene pengalaman berumah tangganya masih sedikit. Tentu cerita nyata ini tidak mengajak siapa pun untuk bersikap
pesimistis dan cemas sebelum berbuat. Bagaimanapun pernik-pernik problematika rumah tangga 
semacam ini bisa juga terjadi menimpa kita. Terutama, kalau ada sesuatu yang tidak sempat kita
persiapkan, baik sebelum memasuki gerbang pernikahan maupun setelah menjalani kehidupan berumah tangga. Faktor-faktor apa saja yang perlu kita persiapkan itu? Mudah-mudahan beberapa “resep” ini kalau dicoba diterapkan, bisa membuat perjalanan pernikahan yang kita titi menjadi indah dan menenteramkan kalbu.

Bekal Ilmu 

Faktor yang pertama adalah bahwa sebuah rumah tangga akan menjadi kokoh,kuat, dan mantap kalau suami istri sam-sama mencintai ilmu. Rasullulah SAW pernah bersabda,”Barangsiapa yang
menginginkan dunia,(mendapatkannya) harus memakai ilmu. Barangsiapa yang menginginkan
akhirat,(mendapatkannya) harus memakai ilmu. Barangsiapa yang menginginkan dunia dan akhirat
(mendapatkannya pun) harus memakai ilmu.” 

Artinya, bila ada yang bertanya, mengapa rumah tangga yang dijalaninya terasa berat, banyak
kesulitan, dan tidak menemukan kedamaian, jawabannya adalah karena ternyata ilmu tentang berumah tangga yang dimiliki tidak sebanding dengan masalah yang dihadapi. Setiap hari akan selalu bertambah maslah, kebutuhan, maupun peluang munculnya konflik. Semua ini merupakan kenyataan hidup yang tidak akan pernah bisa dipungkiri .Bila pertambahan segala pernik kehidupan ini tidak diimbangi dengan pertambahan ilmu untuk menyiasatinya, maka pastilah sebuah keluarga tidak akan pernah mampu menghadapi hidup ini dengan bai Jangan heran kalau rumah tangga yang seperti ini bagaikan perahu yang kelebihan muatan. Dia akan tampak oleng, miring ke kiri, tak mau melaju denhgan semestinya, bahkan bias-bisa akan tenggelam karam.

Adapun ciri khas yang tampak adalah para penghuni rumah tangga itu selalu sangat mengandalkan
emosi di dalam mengatasi setiap masalah yang muncul.



“Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.”
(Q.S.Shaad [38]:26

ManajemenQolbu.Com : Ciri khas yang tampak dari keluarga yang tidak memiliki ilmu dalam berumah tangga adalah para penghuninya selalu sangat mengandalkan emosi di dalam mengatasi setiap masalah yang muncul . Betapa tidak ! Karena, mereka tidak pernah tahu bagaimana cara menghadapi masalah yang selalu muncul seiring bertambahnya jumlah anggota keluarga. Seorang ayah yang kurang ilmu akan sangat mengandalkan kekerasan dalam mengatasi setiap persoalan yang muncul. Ini dikarenakan semakin hari tuntutan kebutuhan hidup terus meningkat , sehingga potensial akan bertumpuk dalam pikiran , berjalin berkelindan dengan beban stressing mental karena rutinitas kesibukan kantor.Manakala iman tengah menipis, kendati batin pun akan mengendur. Ini mengakibatkan tindakan mencari nafkah untuk mengatasi pertambahan kebutuhan tersebut menjadi kurang terkontrol. Tak ayal , pertimbangan halal haram dan hak bathil pun jadi tertepiskan. Keberkahan atas rezeki yang diperoleh pun praktis terkikis. Ketika rezeki itu telah dinikmati oleh istri dan anak-anak di rumah, maka tidak bisa tidak , ia bukannya membuahkan ketenangan batin, melainkan kegundahgelisahan, yang ujung-ujungnya malah bisa menaikkan kadar emosionalitas sang ayah. 

Sementara itu, anak-anak semakin hari semakin beranjak besar. Ketika masih bayi mereka butuh
perhatian khusus. Keterbatasan ilmu orang tua, tidak bisa tidak, akan mengakibatkan bayi menjadi
teraniaya, baik ketika itu maupun setelah mereka besar kelak. Tidakkah kalau mereka menjadi
penyakitan karena orang tua tidak mengetahui cara memperhatikan aspek kesehatan mereka, akan membuat mereka menjadi sengsara dan menderita hidup di dunia? Tidakkah kalau mereka kelak menjadi rendah kadar intelektualitasnya, akan membuatnya tidak memiliki prestasi hidup,
sehingga menjadi manusia yang gagal dan tersisihkan? Bukankah kalau kelak mereka menjadi
anak-anak nakal, tersesat dari jalan yang benar akan membuat mereka menderita dunia akhirat ?
Masih banyak lagi akibat buruk lainnya yang akan menimpa anak-anak karena kita para orang tua
tidak memiliki bekal ilmu.

Belum lagi kalau pihak orang tua terlalu mengandalkan emosi dan kekerasan , sehingga praktis
segala pendekatan yang kita gunakan hampir bisa dipastikan selalu membuahkan kegagalan dalam
memecahkan masalah. Menghadapi anak-anak yang nakal dan enggan menuruti nasihat orang tua,
misalnya. Tentulah akan didekati dengan kepala and hati yang panas membara. Menghadapi istri
yang terkesan rewel , sok mengatur, dan mulai membosankan , atau sebaliknya, menghadapi suami yang terkesan otoriter , banyak tuntutan , sering telat pulang ke rumah, misalnya. Tentulah
semua itu akan membuat rumah menjadi terasa gerah karena darah yang selalu bergolak panas.
Na’udzubillah! 

Walhasil, sekiranya ada diantara suami-istri yang jarang mendatangi majelis-majelis ilmu,
enggan menyisihkan waktu untuk membuka bahan bacaan ataupun berdialog dengan orang yang lebih tahu, hampir dapat dipastikan rumah tangganya akan tidak seimbang, akan selalu dekat dengan kesusahan dan penderitaan batin, tidak arif dalam menyelesaikan aneka masalah, dan bukan mustahil akan berujung pada kegagalan yang sangat menyakitkan dan merugikan. Oleh karena itu, tampaknya kita harus mempersiapkan bekal ilmu ini justru semenjak kita berkeinginan untuk menikah. Atau, kalaupun kita sudah lama berumah tangga , belum terlambat untuk menyadari  bahwa ilmu adalah bekal utama yang harus segera digapai. Jangan merasa sayang untuk menyisihkan sebagian dari waktu maupun penghasilan nafkah kita untuk menambah ilmu. Apakah itu untuk membeli buku dan bahan bacaan lainnya yang dibutuhkan, untuk mendatangi
majelis-majelis ta’lim yang di dalamnya justru tidak hanya bertaburkan ilmu, tetapi juga rahmat
dan pertolongan Allah , mengikuti training, kursus, dan sejenisnya.

Ingat, gagalnya seorang ayah atau ibu dalam menyelesaiakan aneka masalah yang muncul di
tengah-tengah keluarga, bukannya karena masalahnya yang berat atau rumit, melainkan lebih
dikarenakan lemahnya keterampilan dan sikap kita dalam menyikapi dan menyiasati masalah itu
sendiri.

Jangan salahkan siapapun kalau rumah tangga kita dari hari ke hari selalu terasa runyam dan
tidak nyaman. Salahkanlah diri sendiri sebagai orang tua yang enggan menjadikan ilmu sebagai
bekal utama untuk mengarungi samudera kehidupan yang memang penuh ombak dan badai ini. Ilmu
agama adalah utama, tetapi ilmu dunia pun tak kalah pentingnya. Rumah tangga yang tidak dekat
dengan ilmu adalah rumah tangga yang akan selalu dekat dengan kesusahan dan kesempitan.
Camkanlah!

Gemar Beramal

Ternyata setiap ilmu itu tidak membawa manfaat, kecuali bila sudah mewujud dalam bentuk amal.
Rumus kehidupan ini sebenanya sederhana saja, yakni: seseorang tidak akan mendapatkan sesuatu dari apa yang diinginkan, tetapi dari apa yang bisa ia lakukan. Karenanya, syarat yang kedua bagi tercapainya rumah tangga yang ideal setelah menguasai ilmu adalah gemar mengamalkannya. Hidup ini bagaikan gaung di pegunungan. Apa yang kembali kepada kita tergantung dari apa yang kita bunyikan. Sekiranya menginginkan suatu kebaikan menghampiri kita, maka ia tidak bisa datang hanya dengan cara meminta orang lain berbuat baik. Akan tetapi, terlebih dulu harus melakukan suatu kebaikan kepada orang lain.

Suami yang sibuk menyayangi dan membahagiakan istrinya lahir batin, niscaya akan mendapatkan
balasan yang amat mengesankan dari sang istri. Demikian pun kalau istri ingin disayangi dan
dibahagiakan suami. Jawabannya hanya satu : barangsiapa bisa memuliakan suaminya dengan ikhlas, Allah pun akan melembutkan hati sang suami untuk menyayanginya dengan penuh keikhlasan pula.



“Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya.
Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.”(Q.S. Al-An’aam [6]: 132) 

ManajemenQolbu.Com : Jangan menuntut sesuatu kepada orang lain, tetapi tuntutlah terlebih
dahulu diri kita untuk berbuat suatu kebaikan semaksimal mungkin. Tidakkah Allah Azza wa Jalla 
telah berfirman,”Barangsiapa yang mengerjakan kebaiakan sebesar dzarrah pun,niscaya ia akan
melihat (balasannya). Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya
ia akan melihat (balasannya) pula. ?”(Q.S. Az-Zalzalah[99]:7-8 ). Artinya, segalanya tergantung
kita. Sesungguhnyalah balasan Allah itu akan sangat dirasakan adilnya mana kala kita menyadari
satu hal, yakni bahwa segalanya akan kembali kepada kita, tergantung apa bentuk amal yang
dilakukan.

Camkan sekali lagi :bahwa kita tidak akan mendapatkan sesuatu dari apa yang kita inginkan dan
harapkan, tetapi kita akan mendapatkan banyak dari apa yang diberikan. Semakin gemar bersedekah,
maka insya Allah akan semakin melimpah rezeki hak kita dari -Nya. Semakin senang menolong orang
lain, akan semakin banyak pula orang menolong kita. Semakin kita biasakan untuk membahagiakan
dan memudahkan urusan orang lain, maka rasakanlah, betapa akan semakin banyak hal-hal yang dapat
mendatangkan kebahagiaan sementara segala urusan kita pun dimudahkan oleh Allah Azza wa Jalla.
Hendaknya di mana kita berada harus membuat orang lain merasa diuntungkan dengan kehadiran
kita. Setidaknya keberadaan kita jangan sampai merugikan orang lain. Rumah tangga yang memiliki
komitmen hidup semacam ini niscaya akan mendapati betapa jaminan Allah itu teramat
mengesankan. “ Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka
sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Menegtahui.”(Q.S. Al-Baqarah[2]: 158)

Sebaliknya, semakin pelit kepada orang lain, maka hidup ini akan terasa banyak menemukan
kesulitan. Semakin senang berlaku aniaya terhadap orang lain, niscaya akan semakin banyak yang
menzhalimi kita. Demikian pun, rumah tangga yang banyak menyakiti orang lain, niscaya akan
menjadi rumah tangga yang banyak tersakiti pula. Inilah rumus sunatullah yang akan dialami
oleh siapapun, sebagaimana pula yang telah ditegaskan oleh-Nya, “Dan masing-masing orang
memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah
dari apa yang mereka kerjakan. “(Q.S. Al –An’aam[6]:132)

Jadi,janganlah ingin menjadi suami yang disayangi istri, tetapi jadilah suami yang menyayangi
istri. Janganlah ingin dihormati oleh anak-anak atau mertua, namun hormatilah mereka. Nanti toh
semuanya akan kembali kepada kita jua. Janganlah ingin diberi sesuatu oleh tetangga, namun
berilah mereka. Nanti Allah akan menggerakkan hati mereka untuk mengulurkan tangan bantuannya
kepada kita. Walhasil, rumus yang kedua setelah ilmu sebagai bekal utama dalam berumah tangga,
adalah hendaknya di mana pun kita berada menjadi orang yang selalu bisa berbuat sesuatu. Itulah
amal-amal kebaikan.

Ikhlas

Ternyata sehebat apapun amal-amal kita tidak akan bermanfaat dihadapan Allah, kecuali 
amal-amal yang dilakukan dengan ikhlas. Orang yang ikhlas adalah orang yang berbuat sesuatu
tanpa berharap mendapatkan apa pun ,kecuali ingin disukai oleh Allah. Inilah bekal utama ketiga
dalam berumah tangga. Dalam mengarungi kehidupan ini akan banyak didapati aneka masalah. Kita
pasti akan menemukan berbagai kesulitan ,kesempitan, dan kesengsaraan lahir batin, kecuali kalau
mendapat pertolongan-Nya. Allah tahu persis kebutuhan kita, lebih tahu daripada kita sendiri.
Dia tahu persis masalah yang akan menimpa kita , lebih tahu daripada kita sendiri. Karenanya,
Allah menjanjikan , “Wa man yattaqillah yaj’allahu makhrajan.” (Q.S. Ath-Thalaaq [65]: 2) Rumah
Tangga yang terus-menerus meningkatkan ketaatannya kepada Allah , akan senantiasa dikaruniai
oleh-Nya jalan keluar atas segala urusan dan masalah yang dihadapinya. Anak-anak membutuhkan
biaya , Allah akan mencukupi mereka karena Dia Dzat yang Mahakaya. Pelacur,perampok, dan
orang-orang zhalim saja diberi rezeki,bagaimana mungkin anak-anak kita dilalaikan-Nya? Suami
hatinya keras membatu, otoriter, dan suka bertindak kasar, apa sulitnya bagi Allah 
membolak-balikkan setiap hati, sehingga menjadi berhati lembut,baik, dan bijak. 

Masalahnya, adakah keluarga kita layak mendapat jaminan-Nya ataukah tidak? Kuncinya adalah
bahwa rumah tangga yang selalu dekat kepada Allah dan sangat menjaga keikhlasan dalam
beramal, itulah rumah tangga yang layak memperoleh jaminan pertolongan -Nya. Semakin suatu
rumah tangga jarang shalat, enggan bersedekah dan menolong orang lain, malas melakukan
amal-amal kebaikan, ditambah lagi berhati busuk, maka semakin letihlah dalam mengelola rumah
tangga ini. Rumah seluas apa pun akan tetap terasa sempit kalau hati para penghuninya sempit.
Ketika berada di lapangan yang luas , lalu menemukan anjing atau ular, kita toh tidak merasa
gentar. Akan tetapi, ketika di kamar mandi , berdua dengan tikus saja bisa jadi masalah. Apa
sebab ? Di ruangan kecil, perkara kecil akan menjadi besar. Sebaliknya diruangn yang lapang,
perkara besar akan menjadi kecil. Karenanya, rumah tangga itu akan dirasakan kebahagiaannya
hanya oleh orang-orang yang berhati bersih dan ikhlas. Bila kita temukan beberapa kekurangan 
pada istri kita , bukan masalah , karena toh isteri kita bukan malaikat. Demikian pun kekurangan
yang ada pada suami, janganlah sampai jadi masalah, karena suami pun bukan malaikat. Kekurangan
yang ada untuk saling dilengkapi, sedangakan kelebihannya untuk disyukuri. Lain lagi,bagi yang
berhati busuk, kekurangan yang ditemukan pada istri atau suami akan dijadikan jalan untuk saling
berbuat aniaya. Na’udzubillah!



“Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji. apa yang ada dalam hatimu Allah Maha Mengetahui
isi hati”(Q.S. Ali Imran [3]: 154)

ManajemenQolbu.Com : Dalam kaca mata ruhiyah,bersatunya seorang laki-laki dan seorang perempuan dalam satu ikatan pernikahan, adalah berhimpunnya dua hati yang memiliki harapan mulia, yakni membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Demikianlah sesungguhnya yang dikehendaki Allah yang memiliki sifat Rahman dan Rahim, sebagaimana firman-Nya, “Dan diantara bukti-bukti kekuasaan-Nya ialah diciptakan-Nya untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri supaya kamu mendapatkan ketenangan hati dan dijadikan-Nya rasa kasih sayang di antara kamu. Sesungguhnya yang demikian itu menjadi tanda-tanda kebesaran –Nya bagi orang-orang yang berpikir.”(Q.S. Ar-Ruum [30]: 21)

Namun, dalam sisi lain, ternyata ikatan pernikahan itu berarti juga berhimpunnya dua manusia
yang memiliki aneka sisi perbedaan. Demikian pula halnya manakala dikemudian hari hadir
anak-anak di tengah-tengah mereka. Jenis kelaminnya saja sudah berbeda, apalagi karakternya,
emosinya, keinginannya ,harapannya, sikapnya terhadap sesuatu, dan sebagainya. 

Kalaupun sepasang suami istri tampak sering sejalan dalammenyikapi dan melakukan berbagai hal,
itu hampir dapat dipastikan karena ada upaya dari masing-masingnya untuk rela saling menahan
diri serta saling mengorbankan apa-apa yang potensial bisa memicu perbedaan itu sendiri.
Walhasil, lahirlah dalam rumah tangga yang mereka bina perasaan tenteram,lapang hati , dan
cinta kasih. 

Itulah pula hikmah dari pernikahan itu sendiri, yakni dikaruniai-Nya mereka nikmat sakinah,
mawaddah, warahmah. Titik-titik perbedaan itu sendiri, sewaktu-waktu bisa muncul ke permukaan, terutama bila diantara mereka sudah tumbuh keinginan untuk saling memaksakan kehendak dan enggan saling menghargai aspirasi masing-masing. Apalagi dan biasanya kalau semua itu lahir dari karakter dan tingkat emosionalitas masing-masing. Tidak jarang kita temukan rumah tangga yang hari-harinya penuh dengan pertengkaran dan kesalahpahaman , sehingga tidak sedikit berakhir dimeja perceraian.

Inilah justru bagian dari fenomena yang mungkin akan dihadapi oleh setiap pasangan suami istri,
sehingga kita butuh bekal yang efektif untuk menyikapi dan menyiasatinya, agar kemungkinan
munculnya potensi konflik semacam ini bisa dihilangkan atau setidak-tidaknya diminimalisasi.
Apakah bekal yang harus kita miliki itu ? Mudah-mudahan Allah Azza wa Jalla mengaruniai kita
ilmu yang bermanfaat serta kesanggupan untuk mengamalkannya dengan tepat.

Bersih Hati

Setiap saat ujian dan aneka masalah bukan tidak mungkin akan datang mendera rumah tangga dengan tiba-tiba. Bagaimana seorang suami atau seorang istri menyikapinya, ternyata tergantung dari satu hal, yakni qalbu ! Terserah kita, apa yang akan kita lakukan dengan masalah itu? Mau
dibuat rumit, perumitlah. Nanti kita sendiri yang akan melihat dan merasakan buahnya.Namun, mau
dibuat sederhana juga, silakan sederhanakan , nanti kita pun akan melihat dan merasakan
buahnya. 

Setiap masalah dalam rumah tangga bisa menjadi rumit dan bisa juga menjadi sederhana,tentu
bergantung bagaimana kondisi hati kita yang kita miliki, yang akhirnya membuat kita harus
memutuskan langkah bagaimana menyikapinya. Padahal,bagi kita kuncinya hanya satu : sesungguhnya tak ada masalah dengan masalah karena yang menjadi masalah adalah cara kita yang salah dalam menyikapi masalah.

Oleh sebab itu, hati yang bersih adalah bekal utama keempat yang harus dimiliki oleh para
pelaku rumah tangga, setelah memiliki bekal ilmu , amal,dan keiklasan. Bersih hati,tidak bisa
tidak, akan menjadi senjata pamungkas dalam menyiasati serumit dan sesulit apapun masalah yang muncul dalam sebuah keluarga. Adapun buahnya hampir dapat dipastikan adalah rumah tangga yang tenang tenteram, penuh cinta kasih , dan selalu saling mengingatkan dalam hal mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla. Sedangkan rumah tangga yang di dalamnya banyak disebut nama Allah, banyak dikumandangkan ayat-ayat -Nya, dan mampu menyempurnakan ikhtiar dalam mencari jalan keluar atas setiap masalah,niscaya akan menjadi keluarga yang sangat dekat dengan pertolongan–Nya dan akan menjadi suri tauladan bagi yang lain. 

Subhanallah! Ujian dan masalah rumah tangga memang akan datang setiap saat, suka atau tidak
suka. Namun,bagi suami dan istri yang berhati bersih ,semua itu akan disikapi sebagai nikmat
dari Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang. Karena, bagaimanapun dibalik setiap ujian dan
masalah itu pasti terkandung hikmah yang luar biasa mengesankan, yang akan semakin
meningkatkan,kedewasaan dan kearifan, sekiranya mampu menyikapi segalanya dengan tepat , yang hal ini justru lahir dari hati yang bening dan bersih dari segala noktah-noktah kekotoran hawa nafsu.

Ujian dan persoalan hidup yang menimpa justru benar-benar akan membuat kita semakin merasakan indahnya hidup ini karena yakin bahwa semua itu merupakan perangkat kasih sayang Allah, yang membuat sebuah rumah tangga tampak semakin bermutu. Tidak usah heran, sehebat apapun kesulitan hidup yang menimpa, sungguh bagaikan air di relung lautan yang dalam. 

Tidak usah heran, sehebat apa pun kesulitan hidup yang menimpa , sungguh bagaikan air di relung
lautan yang dalam. Tidak akan pernah terguncang meski ombak dan badai saling menerjang. Pun
laksana karang yang tegak tegar, yang tak akan pernah bergeser saat dihantam gelombang sedahsyat apapun. Sekali-kali tidak akan terbersit rasa putus asa ataupun keluh kesah berkepanjangan.


Memang, betapa luar biasa para penghuni rumah tangga yang memiliki hati yang bersih. Nikmat
datang tak akan pernah membuatnya lalai dari bersyukur. Andai pun musibah yang menerjang, ia
akan mampu menegndalikan kayuh bahtera dengan tenang. Subhanalloh, sungguh teramat menegesankan.
Wallahu a’lam Bisshowab.

Allah Yang Maha Menguasai Segala-galanya

Terjemahan Surat Ar-Ra’d (13) ayat 8 – 9
8.       Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang bertambah. Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya.
9.       Yang mengetahui semua yang gaib  dan yang tampak; Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi
Subhanalloh, jadi yang Menciptakan bayi di dalam perut seorang ibu hanyalah Allah SWT,Dia-lah yang membentuk rupa, Allah  Maha Tahu  setiap bayi yang ada kekurangannya, karena Allah-lah yang Menciptakan dan juga Allah Maha Tahu mana yang dilahirkan kembar bahkan kembar siam ,kembar laki-perempuan.
Ada yang persis sama ada yang berbeda ,sepasang suami-istri yang memiliki janin tidak berdaya sedikit pun untuk membentuk anaknya diluar kemampuan, lalu apa hikmahnya ? jadi andaikata seorang perempuan menginginkan kehamilan harus menikah dahulu  karena jika tidak menikah kehamilannya tidak halal tetapi sang janin  bukanlah anak yang haram hanya prosedurnya haram.
Andaikata hamil ,minta tolonglah kepada Allah yang menciptakan makhluk  supaya diberi rupa  sebaik baik  rupa yang dapat  dipertanggungjawabkan,diberi umur sebaik-baik umur yang barokah,diberi takdir sebaik-baik takdir yang mengundang ridho Allah ,diberi rejeki sebaik-baik rezeki yang barokah dan melimpah sehingga hidupnya menjadi  ahli shodaqoh  yang penuh manfaat.
Mintalah hanya kepada Allah, laki- laki ataupun perempuan sama saja karena Allah yang menciptakan. Andaikata kita ingin perempuan tetapi diberi anak laki-laki kita harus bersyukur karena para bapak atau laki-laki yang sholeh itu adalah laki-laki, dan andaikata kita menginginkan anak laki-laki tetapi kemudian diberikan anak perempuan kita pun harus bersyukur karena laki-laki yang sholeh itu dilahirkan dari seorang perempuan.
Terjemahan Surat Ar-Ra’d (13) ayat 10
10.    Sama saja (bagi Tuhan) , siapa diantaramu yang merahasiakan ucapannya, dan siapa     yang berterus terung dengan ucapan itu, dan siapa yang bersembunyi  di malam hari  dan yang berjalan (menampakkan diri ) di siang hari.
Mau diucapkan ataupun tidak, apa yang  terlintas didalam hati Sesungguhnya Allah Maha Tahu , semua bisikan-bisikan di telepon walaupun sembunyi-sembunyi tidak ada yang tersembunyi , yang berpacaran  lewat telpon walaupun mencari tempat yang tersembunyi tetap tidak bisa , mana ada tempat yang tersembunyi bagi Allah baik itu gelap maupun terang sama saja,karena tidak ada yang gelap ataupun terang bagi Allah karena Dia-lah yang Menciptakan gelap dan terang.
Terjemahan Surat Ar-Ra’d (13) ayat 11
11.    Bagi  manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di maka dan di belakangnya , mereka  menjaganya  atas perintah Allah,  Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan  yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah Menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya ; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.
Malaikat mencatat amal-amal manusia ,dimanapun kita berada,masuk ke manapun akan selalu diikuti , semuanya dicatat dan tercatat tiada satupun yang luput dan nanti catatan itu dibeberkan di akherat, semua orang akan tahu
 
Allah menguasai setiap takdir, takdir Allah diantaranya diberikan kepada kita untuk dirubah  ke takdir lainnya. Kalau kita malas maka rezeki- nya akan sedikit , tetapi kalau kita gigih maka rezekinya Insya Allah lebih besar, kalau membaca Alquran malas maka jangan salahkan jika kita hanya hapal sedikit ayat Quran,tetapi kalau kita gigih akan menjadi penghapal Al Qur’an, kalau dahsyat mengamalkan menjadi ahli Al Qur’an bukan hanya hapal tapi akhlakpun akan mirip Al Qur’an.
 
Allah menguasai segala-galanya dengan sempurna,  Allah Maha Tahu keadaaan George W  Bush , Allah tahu keadaan saudara kita di tanah palestina, orang Palestina ada dalam genggaman Allah , yang menjadi masalah bukan masalah mati tetapi mati khusnul khotimah atau mati su’ul khotimah,karena tidak ada perang pun kematian tetap akan dialami semua orang, semua orang ada ajalnya tidak boleh dipakai main-main karena semua ada waktunya. Semua musibah terjadi dengan izin Allah.
“Maa ashaaba mimmushiibatiin illa bi idznillah”Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah.(QS. 64 ; 11)
Terjemahan Surat Ar-Ra’d (13) ayat 12 - 13
12.    Dia-lah Tuhan yang Memperlihatkan kilat kepadamu untuk menimbulkan ketakutan dan harapan, dan Dia Mengadakan awan mendung
.
13.    Dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah , (demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya, dan Allah Melepaskan halilintar, lalu Menimpakannya kepada siapa yang Dia Kehendaki, dan mereka berbantah-bantahan  tentang Allah, dan Dia-lah Tuhan Yang Maha keras Siksa-Nya
Ketika ada petir ada yang ketakutan tetapi ada juga yang gembira, yang gembira karena ada petir karena mereka berharap akan turun hujan, yang bersikap ketakutan adalah orang  yang takut kesambar petir ,Suatu saat ada bos yang sedang menyukai golf, dia mempunyai pengawal yang banyak,uang yang berlimpah , rumahnya dilengkapi alarm, ada anjing penjaga ,tetapi ketika Allah menakdirkan bos tersebut terkena petir maka tidak dapat ditahan oleh siapapun , seketika itu pula dia terbujur kaku dan tubuhnya hangus terbakar,pada saat yang sama tidak ada satupun pengawalnya yang mau menyelamatkannya.Sesungguhnya Guruh,malaikat bertasbih memuji Allah karena takut padanya-Nya semua yang ada di langit bertasbih kepada Allah, Yusabbihu lahuu man fissamaawaati wal ardh
Terjemahan Surat Ar-Ra’d (13) ayat 14
14.    Hanya bagi Allah –lah (Hak Mengabulkan ) doa yang benar. Dan berhala-hala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatu pun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air  supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan doa (ibadat)orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka. (QS:AR- RA’D{13};8-14)  
Seluruh dukun tidak ada yang dapat mengabulkan doa, andaikata seorang dukun dapat mengetahui nomor judi, kenapa tidak dia saja yang membeli ?saudaraku jangan pernah mau datang ke dukun karena mereka adalah penipu ,termasuk penipuan baru-baru ini yang mengguncangkan Indonesia yang telah dibeberkan oleh Allah , selain itu dukun sering dipakai oleh jin sebagai alat untuk memperdaya manusia , Allah Maha Dekat kenapa kita minta kepada dukun yang sudah pasti mati ,minta tolonglah hanya kepada Allah Yang Menguasai Segala-galanya dengan Maha Cermat.

Mudah-mudahan Allah Yang Maha Mendengar Membimbing kita untuk dapat memperbaiki kekurangan diri kita karena Allah memberi hidayah dan taufik kepada  siapa  yang dikehendaki.wallahu a’lam (mikha)

Alat Ukur Keberuntungan

Ciri kapitalis itu dua. Pertama, dalam mencari keuntungan mereka tidak menggunakan tata nilai yang baik, mengeksploitir semuanya demi kepentingan diri dan konglomerasinya. Kedua, setelah mendapatkannya mereka kikir dan sibuk membesarkan dirinya.

Islam menghadirkan solusi, ada dua ciri profesional Muslim. Pertama, ketika mencarinya, sangat menjaga nilai-nilai, sehingga kalau dia mendapatkan sesuatu, dirinya lebih bernilai daripada yang dia dapatkan. Kalau dia mendapat uang, maka dia dihormati bukan karena uangnya, tapi karena kejujurannya. Kalau dia mempunyai jabatan, dia disegani bukan karena jabatannya, tapi karena kepemimpinannya yang bijak, adil dan mulia.

Kedua, setelah mendapatkannya dia distribusikan untuk sebesar-besar manfaat bagi kemaslahatan umat. Makin kaya, makin banyak orang miskin yang menikmati kekayaannya.

Kita seringkali menganggap bahwa keuntungan itu adalah finansial (uang), sehingga sibuk menumpuk harta kekayaan untuk bermewah-mewahan. Inilah di antaranya yang membuat bangsa kita hancur.

Firman Allah, "Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung." (QS Al Jumu'ah [62]: 10).

Carilah karunia Allah, bukan uang. Sesungguhnya keuntungan itu tidak identik dengan uang. Walaupun tidak mendapatkan uang, jika niatnya lurus dan cara berikhtiarnya benar, maka kita sudah beruntung, Allah yang akan mendatangkannya suatu saat kelak.

Alat ukur keuntungan dalam berbisnis atau bekerja itu ada lima. Pertama, yang namanya untung itu adalah kalau apa yang kita lakukan menjadi amal shaleh. Walaupun belum (atau bahkan tidak) mendapatkan uang, tetapi jika telah berkesempatan menolong orang lain, meringankan beban orang lain, memuaskan pembeli atau melakukan apapun yang menjadi kebaikan di sisi Allah, maka semua itu sudah merupakan keuntungan.

Sebaliknya, bisnis narkoba, perjudian, dan prostitusi itu menghasilkan banyak uang, tetapi jangan pernah merasa beruntung kalau bisnis itu berkembang. Itu semua bukan keuntungan, melainkan fitnah karena akan mendapat kutukan dan laknat dari Allah.

Kedua, yang namanya untung adalah kalau apa yang kita lakukan itu bisa membangun nama baik (citra diri) kita. Jangan sampai kita mempunyai banyak uang, tetapi nama baik kita hancur, dikenal sebagai penipu, pendusta atau koruptor. Apalah artinya kita mempunyai banyak harta, tapi citra kita hancur sehingga istri dan anak-anak menjadi tercekam dan terpermalukan. Kekayaan kita bukan pada tempelan (uang, pangkat, jabatan), kekayaan kita harus melekat pada citra diri kita.

Ketiga, yang namanya untung adalah kalau apa yang kita lakukan itu bisa menambah ilmu, pengalaman, dan wawasan. Jika kita mempunyai banyak uang, tetapi tidak berilmu, sebentar saja bisa hangus uang kita. Tidak sedikit orang yang mempunyai uang, tetapi tidak memiliki pengalaman, sehingga mereka mudah tertipu. Sebaliknya, misalkan uang kita habis karena dirampok, kalau kita memiliki ilmu, pengalaman, dan wawasan, kita bisa mencarinya lagi dengan mudah.

Keempat, yang namanya untung adalah kalau apa yang kita lakukan itu bisa membangun relasi atau silaturahmi. Oleh karenanya, jangan pernah hanya karena masalah uang hubungan baik kita dengan orang lain menjadi hancur.
Setiap orang yang terluka oleh kita, dia akan menceritakan luka di hatinya kepada orang lain. Dan ini akan menjadi benteng yang memenjarakan, kita semakin kecil. Jangan mencari musuh, tapi perbanyak kawan. Kalau kawan sudah mencintai kita, mereka akan bersedia untuk membela dan berkorban untuk kita, setidaknya mereka akan menceritakan sesuatu yang baik tentang kita.

Kelima, yang namanya untung itu tidak hanya sekadar untuk mendapatkan manfaat bagi diri sendiri, tetapi apa yang kita lakukan itu justru harus banyak menguntungkan dan memuaskan orang lain.

Oleh karena itu, kalau kita sudah meyakini bahwa pembagi rezeki adalah Allah, maka bisnis kita bukan lagi dengan manusia, tetapi dengan Allah, penggenggam setiap rezeki.
Waspadalah terhadap bisnis yang tidak menjadi amal, yang tidak menjadi nama baik, yang tidak menjadi ilmu, yang memutuskan silaturahmi, dan yang mengecewakan orang lain. Karena semua itu bukan keuntungan, tetapi bencana Wallahu a’lam Bishowab

Indahnya Ramadhan

Allah SWT berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai semua orang beriman, diwajibkan kepadamu berpuasa sebagaimana puasa pernah diwajibkan kepada umat sebelum kamu, semoga kamu terpelihara” (Al Baqarah 183).
Begitu cepat waktu berlalu, tanpa terasa Ramadhan kembali akan kita jelang. Sungguh cepat rasanya perjalanan masa meskipun setahun tak pernah kurang dari 12 bulan. Demikian memang waktu terus berjalan, bergerak dan berputar sesuai dengan porosnya, mengikuti sunnatullah yang tidak bisa dihentikan, kecuali Allah semata. Perjalanan hidup manusia di dunia adalah merupakan waktu yang terus berjalan, dan kelak nanti akan ada pertanggungjawaban di akhirat, untuk apa waktu yang disediakan dalam hidup dipergunakan? Dan Allah SWT banyak bersumpah dalam kitab-Nya dengan menggunakan waktu; seperti yang banyak termaktub dalam Juz 30, disitu Allah bersumpah dengan waktu-waktu yang biasa demi dilalui oleh manusia. secara umum Allah menyebutkan; Demi masa (surat Al-Asr), dan secara khusus Allah menyebutkan demi waktu Fajar (surat Al-Fajr), Demi waktu Dhuha (surat Ad-Dhuha), demi waktu malam dan demi waktu siang (surat Al-Lail) dan lain-lainnya.. Tentunya sumpah tersebut mengisyaratkan akan pentingnya waktu yang harus diperhatikan oleh manusia dan kesempatan emas untuk dipergunakan sebaik-baiknya sehingga tidak menjadi orang yang merugi.
Allah SWT berfirman:
وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ . إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. (Al-Asr:1-3)
Dan dalam ayat lainnya Allah juga berfirman:
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
“(Allah) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (Al-Mulk:2)
Jadi inti dari terhindar dari kerugian terhadap waktu yang disediakan adalan iman dan amal salih.
Dan Allah mempergilirkan kehidupan ini, juga untuk melihat siapa yang memiliki jiwa juhud dan mendapatkan syahadah dalam hidupnya serta mendapatkan ridha dari Allah SWT.
وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ
“Dan masa itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’”. (Ali Imran:140)
Namun, syukur al-hamdulillah kita masih sempat menemui Ramadhan dan semoga semua kita dapat berpuasa sesuai dengan perintah Allah, dan menjadikannya waktu dan kesempatan berharga untuk memperbanyak ibadah, amal shalih dan aktivitas lainnya untuk mendapatkan rihda Allah SWT.
Kita tentunya merindukan kehadiran bulan Ramadhan sebagaimana rindunya Rasulullah SAW dengan bulan ini. Kita tentunya bahagia dengan hadirnya bulan Ramadhan sebagaimana Rasulullah saw bahagia menyambut bulan ini.  Begitupun tentunya kita sangat senang dengan bulan Ramadhan yang kita jelang, sebagaimana Rasulullah saw sangat senang ketika bulan Ramadhan akan dijelang. Oleh karena itulah, sejak bulan Rajab, Nabi saw mulai banyak membaca doa :
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانٍ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
“Ya Allah berkahilah hidup kami di bulan Rajab dan Syakban dan sampaikanlah usia kami hingga bulan ramadhan”.
Dan ketika menyambut terbitnya bulan sabit saat memasuki bulan Ramadhan, Nabi Muhammad SAW berdoa pula :
اللَّهُمَّ أَهْلِلْهُ عَلَيْنَا بِاْلأَمْنِ وَاْلإِيْمَانِ وَالسَّلاَمَةِ وَاْلإِسْلاَم رَبِّيْ وَرَبُّكَ اللهُ هِلاَلَ رُشْدٍ وَخَيْرٍ
“Ya Allah, terbitkanlah (dan tampakkanlah) hilal kepada kami (diiringi) dengan keberkahan dan keimanan serta keselamatan dan keislaman, (jadikanlah dia) sebagai hilal kebaikan dan petunjuk, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Alloh.” (At-Tarmidzi (9/142), imam Ahmad (1/162), Ad-Darimi (2/7) dan lain-lain, dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Al-Wabilush Shayyib, hal. 220).
Selama Ramadhan, Rasulullah SAW senantiasa memperbanyak ibadah dan amal kebajikan, termasuk infak, sedekah dan menyantuni fakir miskin. Dengan demikian, Ramadhan membawa berkah berupa peningkatan nilai keislaman, kekuatan iman dan keamanan, serta merebaknya kedermawanan.
Bulan Ramadhan dengan banyak keistimewaannya telah banyak kita dengar dan ketahui, nama yang tidak asing bagi umat Islam. Sayyidus suhur (penghulu bulan-bulan) adalah merupakan julukan yang sangat indah, bulan nuzulul Quran, bulan tarbiyah, bulan tarqiyah (peningkatan) taqwa dan amal ibadah, sebagaimana bulan ini memiliki banyak gelar sesuai dengan fungsi dan peranannya. Antara lain : Syahrul barakah (bulan penuh kenikmatan dan limpahan karunia), Syahrul Najah (bulan kemenanga dan pelepasan dari azab neraka), Syahrul Juud (bulan kemurahan), Syahrul Muwasah (bulan kepedulian dan memberi pertolongan kepada yang membutuhkan), Syahrul Rahmah (bulan penuh rahmat Allah), dan julukan-julukan indah lainnya.
Namun dari sekian banyak keistimewaan dan keutamaannya, sangat sedikit dari umat islam yang belum menyadarinya, atau mungkin mereka sadar tapi belum menyentuh lubuk hati mereka sehingga saat Ramadhan tiba, tidak ada raut wajah yang sumringah atau bergembira menyambutnya. Mengikuti amaliyah Ramadhan sebagai kegiatan ritual saja, sekedar melepas dan menggugurkan kewajiban atau sekedar adat (kebiasaan) yang sudah biasa dilakukan setiap tahun, sehingga setiap kali selesai bulan Ramdhan kepribadian seseorang tidak meningkat dan berubah, tetap seperti yang lama, yang berubah hanyalah umurnya saja, setiap hari terus bertambah.
Insya Allah, Kami mencoba menghadirkan kajian sederhana, yang berisi tentang hal-hal yang berkaitan dengan amaliyah Ramadhan, yang diberi tema “menjadi hamba “RABBANI bukan sekedar “RAMADHANI”. Dengan maksud bahwa ketika memasuki bulan ini kita dapat menjadi hamba yang benar-benar mengabdikan diri kepada Allah, taat dan patuh kepada perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, benar-benar menjadi hamba rabbbani bukan hanya ramadhani, yang tidak hanya sekedar melewati bulan ramadhan sebagai ritual tahunan tanpa makna, tidak hanya mengubah prilaku makan, menahan haus dan lapar disiang hari tanpa hasil yang berharga, melakukan tarawih di malam harinya, dan aktivitas ritual lainnya yang ada dalam bulan ramadhan tanpa ada perubahan dalam diri secara maksimal, namun berusaha untuk mengambil hikmah yang terkandung dalam segala aktivitas, ibadah dan amaliyah di bulan tersebut sehingga mendapatkan derajat yang paling mulia disisi Allah; yaitu Taqwa.
Karena itulah agar puasa tidak sia-sia, sebelum memasuki bulan suci Ramadhan, maka hendaknya  melakukan persiapan diri dengan cara :
1. Persiapan Ruhiyah; dengan cara membersihkan hati dari penyakit aqidah sehingga melahirkan niat yang ikhlas.
2. Persiapan Fikriyah; melalui pembekalan diri dengan ilmu agama terutama yang terkait secara langsung dengan amaliyah dan ibadah di bulan Ramadhan.
3. Pesiapan Jasadiyah; dengan menjaga kesehatan badan, menciptakan kebersihan lingkungan serta mengubah pola hidup menjadi lebih sehat dan teratur.
4. Maliyah; dengan menyiapkan diri menabung dan menyisihkan sejumlah dana untuk memperbanyak infaq, memberi ifthar kepada orang lain dan membantu orang yang membutuhkan.
Agar kelak menjadi hamba rabbani baik qobla (sebelum), atsna’a (pada saat) dan ba’da (setelah) ramadhan.
Namun menjadi hamba robbani tidaklah mudah seperti membalikkan telapak tangan, perlu waktu, tenaga dan usaha terutama ilmu dan pengetahuan, karena setiap amal ibadah harus dilandasi dengan ilmu pengetahuan agar tidak terjerumus pada taklid, karena itu pula Allah SWT berfirman :
وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ
“… Namun jadilah kalian hamba Robbani, terhadap apa yang telah kalian pelajari dari kitab Al-Quran dan dari apa yang telah kalian kaji”. (Ali Imran:79)
Rasulullah saw bersabda :
لَوْ تَعْلَمُ أُمَّتِي مَا فِي رَمَضَانَ مِنْ خَيْرٍ لَتَمَنَّوْا السَّنَةَ كُلِّهَا رَمَضَانَ
”Andaikan umatku mengetahui apa yang ada dalam Ramadhan, maka ia bakal berharap satu tahun itu puasa terus.”  (HR. Ibnu Khuzaimah).
تُفَتَّحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَتُغَلَّقُ أَبْوَابُ النَّارِ، وَيُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ، وَيُنَادِي فِيهِ مُنَادٍ كُلَّ لَيْلَةٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ هَلُمَّ، وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ اقْتَصِرْ
“Bulan Ramadhan; di dalamnya pintu surga dibuka, pintu neraka di tutup dan syaitan-syaitan dibelenggu, di dalamnya pada setiap malamnya ada seruan; wahai para pencari kebaikan marilah kemari, dan wahai para pelaku kejahatan berhentilah”. (Thabrani)

HADITS TENTANG KEMUNAFIKAN






Hadits :

ءاية المنافقين ثلاث : إذا حدث كذب و إذا وعد أخلف و إذا ائتمن خان

”Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga : Jika berbicara berdusta, jika berjanji tidak menepati, dan jika dipercaya dia berkhianat”

dan dalam riwayat lain disebutkan :

وإذا خاصم فجر وإذا عاهد غدر

”Jika berselisih, maka dia akan berbuat dhalim, dan jika berjanji dia berkhianat”

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu. Sedangkan hadits kedua diriwayatkan oleh keduanya dari Andullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radliyallaahu ‘anhuma, yang di dalamnya disebutkan : ”Barangsiapa pada dirinya terdapat sifat-sifat tersebut, maka padanya terdapat sifat munafik hinga dia meninggalkannya”.

Dengan demikian, sabda Nabi
 صلى الله عليه وسلم : { ءاية المنافقين ثلاث{
“Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga”. Maksudnya, tanda-tanda orang munafik yang menunjukkan kemunafikannya itu ada tiga kriteria. Dan dalam riwayat Muslim disebutkan :
} وإن صام وصلى وزعم أنه مسلم {
“Meskipun dia berpuasa, shalat, dan mengaku dirinya muslim”.
Dan dengan riwayat yang lain, kriteria itu menjadi lima.

Kriteria Pertama : “Jika berbicara, dia berdusta” ( إذا حدث كذب )

Ini merupakan sifat yang sangat tercela ;agi sangat buruk. Sebab, pada dasarnya, dusta itu adalah haram, kecuali yang dikecualikan untuk suatu kemaslahatan tertentu, dan lain sebagainya. Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Imam Nawawi rahimahullah di dalam kitab Riyaadlush-Shaalihiin, dan lain-lain.

Di antara hadits yang menunjukkan dicelanya perbuatan dusta adalah hadits Abdullah bin Mas’ud radliyallaahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :

إن الصدق يهدى إلى البر وإن البر يهدى إلى الجنة وإن الرجل ليصدق حتى يكتب عند الله صديقا وإن الكذب يهدى إلى الفجور وإن الفجور يهدى إلى النار وإن الرجل ليكذب حتى يكتب عند الله كذابا

”Sesungguhnya kejujuran itu mengantarkan seseorang kepada kebajikan, dan kebajikan itu mengantarkan kepada surga. Dan sesungguhnya seseorang itu akan berbuat jujur sehingga dia ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya dusta itu mengantarkan seseorang kepada keburukan, dan keburukan itu mengantarkan kepada neraka. Dan sesungguhnya seseorang itu akan berdusta sehingga dia ditulis di sisi Allah sebagai seorang pendusta” (Muttafaqun ‘alaih).

Demikian juga hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Samurah bin Jundub radliyallaahu ‘anhu, dari Nabi, di dalam hadits tentang mimpi yang agung yang cukup panjang. Di dalamnya disebutkan : “Adapun orang yang aku datangi, maka dia merobek-robek mulutnya sampai ke tengkuknya, dan membelah hidungnya sampai ke tengkuknya dan kedua matanya sampai ke tengkuknya juga. Sesungguhnya orang itu berangkat dari rumahnya, lalu dia banyak berdusta sampai ke ufuk”. Dan dalam sebuah riwayat disebutkan : “Lalu dia melakukan hal yang aku saksikan itu sampai hari Kiamat kelak”.

Kriteria Kedua : “Jika berjanji, dia mengingkari” ( إذا وعد أخلف)

Mengingkari janji itu ada dua macam :

1.         Dia berjanji dan sejak awal sudah berniat untuk tidak menepatinya. Ini merupakan pengingkaran janji yang paling jahat.

2.         Dia berjanji, pada awalnya dia berniat untuk menepati janji tersebut, lalu di tengah jalan dia berbalik, lalu mengingkarinya tanpa adanya alasan yang benar.

Kriteria Ketiga : “Jika dipercaya, dia berkhianat” ( و إذا ائتمن خان)


Allah ta’ala berfirman :

يَأَيّهَا الّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَخُونُواْ اللّهَ وَالرّسُولَ وَتَخُونُوَاْ أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan juga janganlah kalian mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepada kalian, sedang kalian mengetahui” (QS. Al-Anfaal : 27)

Jika seseorang dipercaya untuk memegang suatu amanah, maka dia wajib untuk menjaga amanah tersebut sebaik mungkin, sebagaimana firman Allah ta’ala :

إِنّ اللّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤدّواْ الأمَانَاتِ إِلَىَ أَهْلِهَا

”Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya” (QS. An-Nisaa’ : 58).

Dan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

أد الأمانةَ إلى من ائتمنك

”Tunaikan amanat kepada orang yang mempercayaimu” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan dia menlainya hasan. Juga Al-Hakim dan dia menilainya shahih serta disepakati oleh Adz-Dzahabi).

Kriteria Keempat : “Jika berselisih, dia berbuat jahat” ( وإذا خاصم فجر )


Yang dimaksud dengan al-fujuur di sini adalah keluar dari kebenaran secara sengaja, sehingga dia menjadikan yang haq menjadi bathil dan yang bathil menjadi haq. Dan ini yang membawanya kepada dusta, sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits Ibnu Mas’ud radliyallaahu ‘anhu terdahulu.

Dan di dalam kitab Ash-Shahihain disebutkan dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bahwasannya beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إن أبغض الرجال إلى الله الألد الخصم

”Sesungguhnya orang yang paling dibenci oleh Allah adalah penantang yang paling keras”.

Di dalam kitan yang sama Shahiih Bukhari dan Shahiih Muslim, beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إن من البان لسحرا

”Sesungguhnya di antara penjelasan (al-bayan) itu adalah sihir (yangmembawa daya tarik)”.

Jika seseorang mempunyaikemampuan pada saat berselisih – baik perselisihan itu berkenaan dengan masalah agama atau masalah dunia – untuk mempertahankan kebathilan, lalu dia menyuarakan kepada orang-orang bahwa kebathilan itu sebagai suatuyang haq, serta menyamarkan yang haq dan menampilkannya dalam bentuk kebathilan, maka yang demikian itu merupakan keharaman yang paling buruk serta kemunafikan yang paling busuk.

Di dalam kitab Sunan Abi Dawud disebutkan, dari Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhuma, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda :

”Barangsiapa yang berselisih pendapat mengenai suatu hal yang bathil, sedang dia mengetahuinya, maka dia senantiasa berada dalam murka Allah hingga dia melepaskan diri darinya” (HR. Ahmad, Al-Hakim, dan dia menilainya shahih, serta disepakati oleh Adz-Dzahabi).

Dan dalam sebuah riwayat disebutkan :

”Dan barangsiapa yang membantu perselisihan dengan cara yang dhalim, maka dia kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah”.

Kriteria Kelima : “Jika berjanji dia berkhianat” ( وإذا عاهد غدر ), yaitu tidak mau menepati janjinya.


Allah ta’ala telah memerintahkan supaya menepati janji, sebagaimana yang difirmankan Allah ta’ala :

وَأَوْفُواْ بِعَهْدِ اللّهِ إِذَا عَاهَدتّمْ وَلاَ تَنقُضُواْ الأيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلاً

”Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpah itu)….” (QS. An-nahl : 91).

Dan dalam kitab Ash-Shahihain disebutkan dari Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhuma, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda :

لكل غادر لواء يوم القيامة، فيقال : ألا هذه غدرة فلان

”Bagi setiap pengkhianat memliki bendera pada hari Kiamat kelak. Lalu dikatakan kepadanya : “Ketahuilah, inilah pengkhianat si Fulan”

Ketahuilah bahwa pengkhianatan itu haram hukumnya dalam setiap perjanjian antara seorang muslim dengan meslim lainnya, sekalipun yang dijanjikan itu adalah orang kafir. Yang demikian itu sesuai dengan apa yang disebutkan di dalam hadits ‘Abdullah bin ‘Amr radliyallaahu ‘anhuma, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda :

من قتل نفسا معاهد بغير حقها لم يرح رائحة الجنة وإن ريحها ليوجد من مسيرة أربعين عاما

”Barangsiapa yang membunuh satu jiwa yang sedang dalam suatu perjanjian dengan cara yang tidak benar, niscaya dia tidak akan mencium bau surga. Sesungguhnya bau surga itu tercium dari jarak perjalanan empat puluh tahun” (HR. Bukhari).

Dan Allah ta’ala telah memerintahkan untuk menepati janji dengan orang-orang musyrik, jika mereka menepati janji-janji mereka dan tidak merusak satu janji. Adapun perjanjian di antara kaum muslimin, maka menepatinya sudah pasti lebih ditekankan dan merusaknya merupakan dosa besar.

Maksudnya, bahwa kriteria ini termasuk salah satu sifat orang-orang munafik. Dan kriteria ini termasuk kemunafikan kecil yang merupakan jalan menuju kemunafikan yang besar. Oleh karena itu, seorang muslim harus berhati-hati, menghindarinya, serta tidak meremehkan sedikitpun darinya, dengan alas an karena ia hanya kemunafikan kecil. Karena yang demikian itu termasuk sesuatu yang menghinakan. Wallaahul-Musta’an.

Al-Tanbihat Al-Mukhtasharah (edisi Indonesia : Penjelasan Hal-Hal yang Wajib Diketahui – Pustaka Imam Syafi’i) oleh Ibrahim bin Asy-Syaikh Shalih bin Ahmad Al-Khuraishi