makalah tentang jual beli


BAB I
PENDAHULUAN



1.1  Latar Belakang Masalah
Dalam agama Islam muamalah merupakan bagian yang mengatur tentang hubungan antara sesama manusia (hablu minannas). Hukum asal dalam bermuamalah adalah “segala sesuatu diperbolehkan, kecuali yang dilarang dalam Al-Qur’an dan Sunnah”. Sehingga banyak sekali bidang yang tercakup dalam muamalah.
ماَ أَحَلَّ اللهُ فِى كِتَابِهِ فَهُوَ حَلاَلٌ وَمَا حَرَّمَ فَهُوَ حَرَامٌ وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ عَفْوٌ، فَاقْبَلُوْا مِنَ اللهِ عَافِيَتَهُ، فَإِنَّ اللهَ لمَ ْيَكُنْ لِيَنْسَى شَيْئًا. (رواه الحاكم)
Artinya: "Apa-apa yang dihalalkan oleh Allah dalam kitab-Nya (al-Qur'an) adalah halal, apa-apa yang diharamkan-Nya, hukumnya haram, dan apa-apa yang Allah diamkan/tidak dijelaskan hukumnya, dimaafkan. Untuk itu terimalah pemaafan-Nya, sebab Allah tidak pernah lupa tentang sesuatu apapun".[1] (HR. al-Hakim)
Praktik yang paling nyata terkait dengan ini adalah kegiatan jual beli atau bisnis. Bisnis, meskipun bertujuan untuk mendapat keuntungan akan tetapi harus tetap melalui cara-cara yang sesuai dengan syariah dan berorientasi untuk mendapatkan keridhaan Allah SWT. Dasar dari jual beli adalah firman Allah  surat al-baqoroh ayat 275

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا[2]

  "Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba."
Dari dalil diatas maka  diperlukan identifikasi mengenai hal-hal apa saja yang dilarang, agar selanjutnya dapat dihindari. Dimungkinkan juga dilakukan penambahan, penciptaan, pengembangan namun harus melalui ijtihad berdasarkan aturan syariah.
 Dalam Al-Qur’an Allah berfirman :
“....mereka berkata bahwa jual beli sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba...” (al-Baqarah : 275)
Perdagangan adalah jual beli dengan tujuan untuk mencari keuntungan (laba). Jual beli barang merupakan transaksi paling kuat dalam dunia perniagaan (bisnis), bahkan secara umum adalah bagian terpenting dalam aktivitas usaha. Jika asal jual beli adalah disyariatkan, sesungguhnya diantara bentuk jual beli ada pula yang diharamkan dan ada juga yang diperselisihkan hukumnya. Oleh sebab itu, menjadi satu kewajiban bagi usahawan muslim untuk mengenal hal-hal yang menentukan sahnya usaha jual beli tersebut, dan mengenal mana yang halal dan mana yang haram dari kegiatan itu, sehingga betul-betul mengerti persoalan.[3]
Dalam makalah ini, penulis akan memaparkan beberapa hal yang berkaitan dengan masalah jual beli. Untuk pembahasan selengkapnya akan diuraikan pada bab selanjutnya.

1.2  Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
  1. Bagaimanakah Definisi Jual Beli?
  2. Bagaimanakah Rukun dan Syarat Jual Beli?
  3. Bagimanakah Syarat Sah Ijab Qabul?
  4. Bagaimanakah Macam-Macam Jual Beli?
  5. Bagaimanakah Khiar dalam Jual Beli?
  6. Apakah yang Disebut Badan Perantara?
7.      Apakah yang Disebut dengan Lelang (Muzayadah)?
8.      Bagaimanakah Sistematika Penjualan Tanah atau Status Buah-Buahan yang Rusak Setelah Dijual?
9.      Apa Sajakah Sebab-Sebab Dilarangnya Jual Beli?
10.   Bagaimanakah Jual Beli yang Diharamkan?
11.  Bagaimanakah Jual Beli yang Masih Diperdebatkan?

1.3  Tujuan Penulisan
Dalam makalah ini, penyusun bertujuan untuk mengetahui :
1.      Bagaimanakah Definisi Jual Beli;
2.      Bagaimanakah Rukun dan Syarat Jual Beli;
3.      Bagimanakah Syarat Sah Ijab Qabul;
4.      Bagaimanakah Macam-Macam Jual Beli;
5.      Bagaimanakah Khiar dalam Jual Beli;
6.      Apakah yang Disebut Badan Perantara;
7.      Apakah yang disebut Dengan Lelang (Muzayadah);
8.      Bagaimanakah Sistematika Penjualan Tanah atau Status Buah-Buahan yang Rusak Setelah Dijual;
9.      Apa Sajakah Sebab-Sebab Dilarangnya Jual Beli?
10.  Bagaimanakah Jual Beli yang Diharamkan?
11.  Bagaimanakah Jual Beli yang Masih Diperdebatkan?

1.4  Sistematika Pembahasan
BAB I        Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Masalah
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan Penulisan
1.4 Sistematika Pembahasan

BAB II       Pembahasan
1.1        Pengertian Jual Beli
1.1.1 Disyariatkannya Jual Beli
1.2        Rukun dan Syarat Jual Beli
1.3        Syarat Sah Ijab Qabul
1.4        Macam-Macam Jual Beli
1.5        Khiar dalam Jual Beli
1.6        Berselisih dalam Jual Beli
1.7        Badan Perantara
1.8        Lelang (Muzayadah)
1.9        Penjualan Tanah
1.10          Buah-Buahan yang Rusak Setelah Dijual
1.11          Apa Sajakah Sebab-Sebab Dilarangnya Jual Beli?
1.12          Bagaimanakah Jual Beli yang Diharamkan?
1.13          Bagaimanakah Jual Beli yang Masih Diperdebatkan?

BAB III      Penutup
                  3.1 Kesimpulan
                  3.2 Saran

Daftar Pustaka


BAB II
PEMBAHASAN



2.1  Pengertian Jual Beli
Perkataan jual beli dalam bahasa Arab disebut al-Bai’ (البيع) yang merupakan bentuk masdar dari  باع – يبيع – بيعا yang artinya menjual.[4] Sedangkan kata beli dalam bahasa arab dikenal denganشراء yaitu masdar dari kata شرى – يشرى - شراء namun pada umumnya kata بيع sudah mencakup keduanya, dengan demikian kata بيعberarti jual dan sekaligus berarti membeli.
Maksudnya adalah melepaskan harta dengan mendapat harta lain berdasarkan kerelaan atau memindahkan milik dengan mendapatkan benda lain sebagai gantinya secara sukarela dan tidak bertentangan dengan syara’.
Sedangkan Hasbi ash-Shiddeqy mendefinisikan jual (menjual sesuatu) adalah memilikkan pada seseorang sesuatu barang dengan menerima dari padanya harta (harga) atas dasar kerelaan dari pihak penjual dan pihak pembeli.
Dari beberapa pengertian di atas, Abdul Mujieb merumuskan definisi al-Bai sebagai pelaksanaan akad untuk penyerahan kepemilikan suatu barang dengan menerima harta atau atas saling ridla, atau ijab dan qabulatas dua jenis harta yang tidak berarti berderma, atau menukar harta dengan harta bukan atas dasar tabarru.[5]
Dengan memahami beberapa arti di atas maka dapat disimpulkan bahwa jual beli itu dapat terjadi dengan cara:
1.     Pertukaran antar dua pihak atas dasar rela, dan
2.     Memindahkan milik dengan ganti yang dapat dibenarkan yaitu berupa alat tukar yang diatur sah dalam lalu lintas perdagangan.
Dalam cara pertama, yaitu pertukaran harta atas dasar rela ini dapat dikatakan jual beli dalam bentuk barter (dalam pasar tradisional). Sedangkan dalam cara yang kedua, berarti barang tersebut dipertukarkan dengan alat ganti yang dapat dibenarkan, yang dimaksud dengan ganti rugi yang dapat dibenarkan berarti milik atau harta tersebut dipertukarkan dengan alat pembayaran yang sah dan diakui keberadaannya, misalnya uang rupiah dan lain sebagainya.

1.1.1        Disyariatkannya Jual Beli
Jual beli disyariatkan berdasarkan konsensus kaum muslimin. Karena kehidupan umat manusia tidak bisa tegak tanpa adanya jual beli. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat  275:

الرِّبَا وَحَرَّمَ اللَّهُ الْبَيْعَ وَأَحَلَّ

  "Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba."[6]

1.2  Rukun dan Syarat Jual Beli
Perjanjian jual beli ini merupakan perbuatan hukum yang mempunyai konsekuensi terjadinya peralihan hak atas sesuatu barang dari pihak penjual kepada pihak pembeli, maka dengan sendirinya dalam perbuatan hukum ini haruslah dipenuhi rukun dan syarat sahnya jual beli.
Dalam menentukan rukun jual beli ini, terdapat perbedaan pendapat ulama Hanafiyah dengan jumhur ulama. Menurut ulama Hanafiyah, rukun jual beli adalah ijab dan qabul yang menunjukkan adanya tukar menukar atau yang serupa dengannya dalam bentuk saling memberikan (at-Ta’ati).[7] Menurutnya yang menjadi rukun dalam jual beli itu hanya kerelaan kedua belah pihak untuk berjual beli.
Sedangkan rukun jual beli menurut jumhur ulama terdiri dari:
1.      Pihak-pihak yang berakad (al-‘aqidani)
2.      Adanya uang (harga) dan barang (ma’qud alaih)
3.      Adanya akad.
Di samping harus memenuhi rukun-rukun tersebut di atas, dalam transaksi jual beli juga harus memenuhi syarat-syarat yang sah antara lain yaitu:[8]
1.      Tentang pihak-pihak yang berakad, syarat-syaratnya:
a.       Para pihak (penjual dan pembeli) berakal.
Bagi setiap orang yang hendak melakukan kegiatan tukar menukar sebagai penjual atau pembeli hendaknya memiliki pikiran yang sehat. Dengan pikiran yang sehat dirinya dapat menimbang kesesuaian antara permintaan dan penawaran yang dapat menghasilkan persamaan pendapat. Maksud berakal disini yaitu dapat membedakan atau memilih yang terbaik bagi dirinya, dan apabila salah satu pihak tidak berakal maka jual beli tersebut tidak sah.

b.      Atas kehendak sendiri.
Niat penuh kerelaan yang ada bagi setiap pihak untuk melepaskan hak miliknya dan memperoleh ganti hak milik orang lain harus diciptakan dalam kondisi suka sama suka. Maksudnya adalah bahwa dalam melakukan perbuatan jual beli tersebut salah satu pihak tidak melakukan suatu tekanan atau paksaan terhadap pihak lainnya, sehingga apabila terjadi transaksi jual beli bukan atas kehendak sendiri tetapi dengan adanya paksaan, maka transaksi jual beli tersebut tidak sah. Hal ini ditegaskan dalam ayat:
الا ان تكون تجارة عن تراض منكم ...   [9]

c.       Bukan pemboros (mubazir)
Maksudnya adalah bahwa para pihak yang mengikatkan diri dalam perjanjian jual beli tersebut bukanlah orang yang pemboros, karena orang yang pemboros dalam hukum dikategorikan sebagai orang yang tidak cakap bertindak hukum, artinya ia tidak dapat melakukan sendiri suatu perbuatan hukum walaupun hukum itu menyangkut kepentingannya sendiri. Orang pemboros dalam perbuatan hukumnya berada dalam pengawasan walinya. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah SWT:
ولا تؤتؤا السفهاء اموالكم التي جعل الله لكم فيما وارزقوهم فيها واكسهم وقولوالهم قولا معروفا… [10]

2.      Tentang keadaan objek atau benda yang ditransaksikan, syarat-syaratnya adalah:[11]
a.         طهارة العين (Suci barangnya)
Artinya adalah barang yang diperjualbelikan bukanlah barang yang dikategorikan barang najis atau barang yang diharamkan, oleh syara’barang yang diharamkan itu seperti minuman keras dan kulit binatang yang belum disamak.

b.        الإنتفاع به (dapat dimanfaatkan)
Maksudnya adalah setiap benda yang akan diperjualbelikan sifatnya dibutuhkan untuk kehidupan manusia pada umumnya. Bagi benda yang tidak mempunyai kegunaan dilarang untuk diperjualbelikan atau ditukarkan dengan benda yang lain, karena termasuk dalam arti perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT yaitu menyia-nyiakan harta. Akan tetapi, pengertian barang yang dapat dimanfaatkan ini sangat relatif. Sebab, pada hakekatnya seluruh barang yang dijadikan objek jual beli adalah barang yang dapat dimanfaatkan, baik untuk dikonsumsi secara langsung ataupun tidak. Sejalan dengan perkembangan zaman yang makin canggih, banyak orang yang semula dikatakan tidak bermanfaat kemudian dinilai bermanfaat.

c.      ملكية العاقدله (milik orang yang melakukan akad)
Maksudnya adalah bahwa orang yang melakukan transaksi jual beli atas suatu barang adalah pemilik sah dari barang tersebut atau orang yang telah mendapat izin dari pemilik sah barang. Dengan demikian, jual beli barang oleh seseorang yang bukan pemilik sah atau berhak berdasarkan kuasa si pemilik sah, dipandang sebagai jual beli yang batal.

d.      القدرة على تسليمه (dapat diserahkan),
Maksudnya adalah bahwa barang yang ditransaksikan dapat diserahkan pada waktu akad terjadi, tetapi hal ini tidak berarti harus diserahkan seketika. Maksudnya adalah pada saat yang telah ditentukan objek akad dapat diserahkan karena memang benar-benar ada di bawah kekuasaan pihak yang bersangkutan. Hal ini dinyatakan dalam hadis:
ولاتشتروا السمك فى الماء فإنه غرر [12]
e.       العلم به (dapat diketahui barangnya),
Maksudnya keberadaan barang diketahui oleh penjual dan pembeli, yaitu mengenai bentuk, takaran, sifat dan kualitas barang. Apabila dalam suatu transaksi keadaan barang dan jumlah harganya tidak diketahui, maka perjanjian jual beli tersebut tidak sah karena perjanjian tersebut mengandung unsur penipuan (garar). Hal ini sangat perlu untuk menghindari timbulnya peristiwa hukum lain setelah terjadi perikatan. Misalnya dari akad yang terjadi kemungkinan timbul kerugian di pihak pembeli atau adanya cacat yang tersembunyi dari barang yang dibelinya.

f.        كون المبيع مقبوضا (barang yang ditransaksikan ada di tangan),
Maksudnya bahwa objek akad harus telah wujud pada waktu akad diadakan penjualan atas barang yang tidak berada dalam penguasaan penjual adalah dilarang, karena ada kemungkinan kualitas barang sudah rusak atau tidak dapat diserahkan sebagaimana perjanjian.[13]

3.      Tentang sighat akad (ijab dan qabul)
ijab dan qabul merupakan bentuk pernyataan (serah terima) dari kedua belah pihak (penjual dan pembeli). Dalam hal ini Ahmad Azhar Basyir telah menetapkan kriteria yang terdapat dalam ijab dan qabul, yaitu:
a.       Ijab dan qabul harus dinyatakan oleh orang sekurang-kurangnya telah mencapai umur tamyiz, yang menyadari dan mengetahui isi perkataan yang diucapkan, sehingga ucapannya itu benar-benar merupakan pernyataan isi hatinya. Dengan kata lain, ijab dan qabul harus keluar dari orang yang cukup melakukan tindakan hukum.
b.      Ijab dan qabul harus tertuju pada suatu objek yang merupakan objek akad.
c.       Ijab dan qabul harus berhubungan langsung dalam suatu majelis, apabila  kedua belah pihak sama-sama hadir atau sekurang-kurangnya dalam majelis diketahui ada ijab oleh pihak yang tidak hadir.
Ijab dan qabul.
Ijab dan qabul  dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu:
1)                             Secara lisan, yaitu dengan menggunakan bahasa atau perkataan apapun asalkan dapat dimengerti oleh masing-masing pihak yang berakad.
2)      Dengan tulisan, yaitu akad yang dilakukan dengan tulisan oleh salah satu pihak atau kedua belah pihak yang berakad. Cara yang demikian ini dapat dilakukan apabila orang yang berakad tidak berada dalam satu majelis atau orang yang berakad salah satu dari keduanya tidak dapat bicara.
3)      Dengan isyarat, yaitu suatu akad yang dilakukan dengan bahasa isyarat yang dapat dipahami oleh kedua belah pihak yang berakad atau kedua belah pihak yang berakad tidak dapat berbicara dan tidak dapat menulis.[14]
Mengingat posisi akad demikian pentingnya, maka unsur yang paling asasi dalam akad adalah adanya suka sama suka atau kerelaan. Sesuai dengan apa yang difirmankan oleh Allah SWT.
ياأيها الذين أمنوا لاتأكلوا أموالكم بينكم بالباطل إلا أن تكون تجارة عن تراض منكم… [15]
d.      Menurut Ahmad Azhar Basyir, adanya beberapa hal yang dipandang dapat merusakkan akad, yaitu adanya paksaan, adanya penipuan atau pemalsuan, adanya kekeliruan dan adanya tipu muslihat.
Suatu akad jual beli dapat dikatakan mengandung unsur penipuan apabila penjual menyembunyikan aib terhadap barang dagangannya agar tidak tampak seperti sebenarnya, atau dengan maksud untuk memperoleh keuntungan harga yang lebih besar. Penipuan itu dapat terjadi dengan dua macam cara, yaitu: penipuan yang dilakukan dalam suatu harga atau disebut dengan penipuan yang bersifat ucapan dan penipuan yang terdapat dalam sifat suatu barang atau disebut dengan penipuan yang bersifat perbuatan.
e.       Kejujuran dan kebenaran dalam jual beli merupakan nilai yang terpenting. Sehubungan dengan ini, maka sikap yang mengeksploitasi orang lain dan menjahili atau membuat pernyataan palsu merupakan perbuatan yang dilarang.[16] Hadis Nabi SAW.
نهى رسول الله صلى الله عليه و سلم عن بيع الحصاة وعن بيع الغرر [17]
Hadis di atas memberi pengertian bahwa segala bentuk jual beli yang mengandung unsur adanya tipuan, maka hukumnya dilarang, karena dalam jual beli tersebut tidak berterus terang tentang kondisi barang yang terkena cacat. Apabila penjual mengetahui bahwa dalam barang dagangannya tersebut mengandung cacat, maka harus menjelaskan sifat-sifat tersebut pada pembeli. Hadis Nabi SAW.
المسلم أخو المسلم ولا يحل لمسلم باع من أخيه بيعا فيه عيب الا بينه له[18]
  
1.3  Macam-Macam Jual Beli
Selagi manusia masih hidup dan bermasyarakat serta masih berhubungan dengan orang lain akan selalu mengadakan transaksi jual beli dalam rangka memenuhi segala kebutuhannya. Seiring dengan kebutuhan manusia yang bermacam-macam, baik kecil maupun besar, bersifat rutin maupun insidental, maka jual beli juga bermacam-macam:
1.      Jual beli dilihat dari segi sifatnya:
a.       Jual beli yang sah
Yaitu jual beli yang dibenarkan oleh syara’ dan telah memenuhi segala rukun dan syaratnya, baik dengan orang yang mengadakan transaksi, objek transaksi serta ijab dan qabul.

b.      Jual beli yang batal
Yaitu jual beli yang seluruh atau salah satu syarat dan rukunnya tidak terpenuhi atau jual beli yang menurut asalnya tidak dibenarkan olehsyara’, seperti transaksi jual beli yang dilakukan oleh orang gila, anak kecil atau jual beli barang haram. Termasuk jual beli yang batal ini, antara lain:
1)      Jual beli yang tidak ada pada penjual
2)      Memperjual belikan suatu barang yang tidak dapat diserah terimakan dari penjual kepada pembeli
3)      Menjual benda-benda yang hilang, seperti lepas dari peliharaan
4)      Jual beli yang mengandung unsur penipuan
5)      Jual beli benda najis, seperti jual beli babi, khamr, bangkai, anjing, dan sebagainya.
6)      Jual beli yang menjadi milik umum, seperti air sungai, danau, dan laut.

c.       Jual beli yang fasid
Ulama Hanafiyah membedakan arti jual beli yang fasid dan jual beli yang batal. Apabila dalam jual beli tersebut terkait dengan barang yang diperjualbelikan, maka hukumnya batal, seperti jual beli barang-barang yang haram diperjualbelikan. Tetapi jika kerusakan tersebut terkait dengan harga barang dan bisa diperbaiki maka hukumnya jual beli fasid.[19]
Di samping beberapa bentuk jual beli yang telah disebut di atas terdapat juga pembagian jual beli yang lain, yaitu:
a.       Jual beli yang tidak sah tetapi dilarang, yaitu jual beli yang tidak diizinkan oleh syariat Islam karena ada alasan-alasan tertentu seperti:
1)      Menyakiti kepada salah satu atau orang lain yang terlibat dalam jual beli tertentu.
2)      Menyempitkan gerakan pasaran.
3)      Merusak ketentraman umum.
b.      Jual beli yang sah tapi dilarang, antara lain:
1)     Membeli barang dengan harga yang lebih mahal dari harga pasar, padahal si pembeli tidak menginginkan barang tersebut, tetapi semata-mata bertujuan supaya orang lain tidak membeli barang tersebut.
2)      Membeli barang yang sudah dibeli oleh orang lain atau sudah ditawar oleh orang lain yang masih dalam masa khiyar.
3)      Membeli barang dari orang yang datang dari luar kota sebelum sampai di pasar dan belum mengetahui harga yang ada di pasar.
4)      Membeli barang untuk ditahan dan dijual kembali pada saat-saat tertentu dengan harga yang lebih mahal, padahal masyarakat umum berhajat terhadap barang tersebut.
5)     Jual beli dengan mengicuh atau menipu baik dari pihak penjual maupun si pembeli.[20] Sabda Nabi SAW:
نهي عن بيع الحصاة و عن بيع الغرر[21]

2.      Jual beli dilihat dari segi harganya:
a.       Jual beli musawamah, yaitu menjual sesuatu dengan jalan tawar menawar.
b.      Jual beli tauliyah, yaitu menjual dengan harga modal artinya harga jual dan harga beli sama.
c.       Jual beli murabahahyaitu jual beli yang dilakukan dengan mencari laba yang diketahui.
d.      Jual beli wadi’ah, yaitu jual beli barang yang harga jualnya lebih rendah dibandingkan dengan harga pembelian barang tersebut.[22]

1.4  Khiar dalam Jual Beli
Islam memperbolehkan memilih dalam jual beli, apakah memilih untuk meneruskan membeli atau akan membetalkannya. Hal itu dapat terjadi jika disebabkan oleh sesuatu hal.
Khiar ada tiga macam :

1.      Khiar Majelis
Yaitu antara penjual dan pembeli boleh memilih akan melanjutkan jual beli atau membatalkannya selama keduanya masih berada dalam satu tempat, khiar ini boleh dilakukan dalam berbagai jual beli.
Rasul Bersabda: “Penjual dan pembeli boleh khiar selama belum berpisah” (HR. Bukhari dan Muslim)

2.      Khiar Syarat
Yaitu penjualan yang di dalamnya disyaratkan sesuatu baik oleh penjual ataupun oleh pembeli.
Rasul bersabda : “Kamu boleh khiar pada setiap benda yang telah dibeli selama tiga hari tiga malam” (HR. Baihaqi)

3.      Khiar ‘Aibi
Yaitu jual beli yang disyaratkan kesempurnaan benda-benda yang dibeli.[23]

1.5  Berselisih dalam Jual Beli
Penjual dan pembeli dalam melakukan jual beli hendaknya berlaku jujur, terus terang dan mengatakan yang sebenarnya, maka jangan berdusta dan jangan bersumpah dusta, sebab sumpah dan duta menghilangkan barokah jual beli. “Bersumpah dapat mempercepat lakunya dagangan, tetapi dapat menghilangkan berkah” (Bukhari Muslim)
Apabila antara penjual dan pembeli berselisih pendapat dalam suatu benda yang diperjual belikan, maka yang dibenarkan adalah kata-kata ang punya barang, bila diantara keduanya tak ada saksi dan bukti lainnya. “Apabila penjual dan pembeli berselisih dan antara keduanya tak ada saksi, maka yang dibenarkan adalah perkataan yang punya barang atau dibatalakan.” (HR. Abu Dawud).[24]
1.6  Badan Perantara
Badan perantara (simsar) yaitu seseorang yang menjualkan barang orang lain atas dasar bahawa seseorang itu akan diberi upah oleh yang punya barang sesuai dengan usahanya.
Berdagang secara simsar diperbolehkan berdasarkan agama asal dalam pelaksanaannya tidak terjadi penipuan dari yang satu terhadap yang lain.[25]

1.7  Lelang (Muzayadah)
Penjualan dengan cara lelang (muzayadah) diperbolehkan dalam islam, sesuai hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, “Dari Anas RA, Rasul SAW menjual sebuah pelana dan sebuah mangkuk air, dengan berkata : ‘Siapa yang mau membeli pelana dan mangkuk air ini?’ seorang lelaki menyahut: ‘Aku bersedia membelinya seharga satu dirham’ lalu nabi berkata lagi : ‘Siapa yang berani menambahi?’ maka dibeli dua dirham oleh seorang laki-laki kepada beliau, lalu dijuallah kedua benda itu kepada laki-laki tadi.”[26]

1.8  Penjualan Tanah
Apabila seseorang menjual sebidang tanah atau lapangan, sedangkan di dalamnya terdapat pohon, rumah, dan lainnya, menurut madzhab Syafi’i semua bangunan dan pohon-pohonan yang berada di dalanya turut terjual, tetapi tidak termasuk di dalamnya barang-barang yang dapat diambil sekaligus, seperti padi, jagung, bawang, dan benih serta tanamannya, kalau menjual tanah itu tidak dipisahkan dari penjualan benih dan tanaman itu, maka penjualan itu batal karena tidak jelas, apakah hanya tanah atau dengan tanaman dan biji-bijian.
Yang termasuk dalam penjualan sebidang tanah adalah:
1.      Batu yang ada di dalamnya;
2.      Barang – barang yang terpendam di dalamnya, seperti simpanan barang-barang berharga.
Adapun menjual sebidang kebun, yang termasuk di dalamnya adalah:
1.      Pohon-pohonannya;
2.      Bangunan-bangunnya yang ada di dalamnya, kecuali barang-barang yang dikecualikan dalam akad dan disepakati dua belah pihak;
3.      Pekarangan yang melingkari;
4.      Tanahnya.
Bila menjual rumah, di dalamnya ialah :
1. Tanah tempat mendirikan;
2. Apa yang ada dalam pekarangannya.
Bila menjual seekor binatang, maka yang termasuk di dalamnya adalah:
1. Sandal/Sepatunya;
2. Pelananya.
Bila yang dijual itu pohon-pohon yang sedang berbuah, buahnya adalah milik penjual, kecuali pembeli mensyaratkan agar buahnya untuk dia.[27]

1.9 Buah-Buahan yang Rusak Setelah Dijual
      Buah-buahan yang sudah dijual kemudian rusak atau hilang dan yang lain-lainnya, maka kerusakan itu tanggungan penjual, bukan tanggungan pembeli, seperti yang disebutkan dalam sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Muslim, “Jika engkau telah menjaul buah-buahan kepada saudaramu, lalu buah-buahan itu rusak (busuk), maka haram bagimu mengambil sesuatu darinya, apakah kamu mau mengambil harta saudaramu dengan tidak hak?”[28]

1.14    Sebab-Sebab Dilarangnya Jual Beli
Sebab-sebab dilarangnya jual beli  dapat dikembalikan kepada akad jual beli atau hal lain.
Yang berkaitan dengan tempat akad :
  1. Tidak terpenuhinya syarat wajib adanya objek akad (Jual Beli Ma’dum).
  2. Tidak terpenuhinya syarat dapat dimanfaatkannya objek jual beli tersebut secara syar’i.
  3. Tidak terpenuhinya syarat kepemilikan penuh atas objek akad oleh pihak yang menjual.
Yang berkaitan dengan komitmen terhadap akad jual beli :
  1. Karena akad yang mengandung riba.
  2. Karena akad mengandung gharar.[29]

1.15    Jual Beli yang Diharamkan
  1. Menjual tanggungan dengan tanggungan[30]
  2. Jual beli dengan persyaratan[31]
  3. Dua akad dalam satu jual beli
  4. Mensyaratkan akad lain dalam akad jual beli[32]
  5. Menjual dalam proses Transaksi dengan orang lain dan menawarkan barang yang masih ditawar orang lain
  6. Orang kota menjual barang orang dusun
  7. Menjual anjing
  8. Menjual alat-alat musik dan hiburan
  9. Jual beli saat adzan Jum’at berkumandang

1.16    Jual Beli yang Masih Diperdebatkan
1.      Penjualan Kredit dengan harga lebih mahal
2.      Jual beli ‘Inah
3.      Jual beli Wafa’
4.      Jual beli berpanjar (dengan uang muka)
5.      Jual beli Istijrar[33]

BAB III
PENUTUP



3.1  Kesimpulan
Jual beli adalah pertukaran barang dengan barang antara penjual dan pembeli atas dasar saling  ridla satu sama lain. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat  275:

الرِّبَا وَحَرَّمَ اللَّهُ الْبَيْعَ وَأَحَلَّ

  "Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba."
Rukun jual beli menurut jumhur ulama terdiri dari: Pihak-pihak yang berakad (al-‘aqidani), Adanya uang (harga) dan barang (ma’qud alaih), Adanya akad.
Syarat-syarat yang sah antara lain yaitu: Para pihak (penjual dan pembeli) berakal, Atas kehendak sendiri, Bukan pemboros (mubazir), Suci barangnya, dapat dimanfaatkan, milik orang yang melakukan akad, dapat diserahkan, dapat diketahui barangnya, barang yang ditransaksikan ada di tangan, Ijab Qabul.
Jual beli dilihat dari segi sifatnya:
a.       Jual beli yang sah
b.      Jual beli yang batal
c.       Jual beli yang fasid
Khiar ada tiga macam :
a.       Khiar Majelis
b.      Khiar Syarat
c.       Khiar ‘Aibi
Apabila antara penjual dan pembeli berselisih pendapat dalam suatu benda yang diperjual belikan, maka yang dibenarkan adalah kata-kata ang punya barang, bila diantara keduanya tak ada saksi dan bukti lainnya.
Badan perantara (simsar) yaitu seseorang yang menjualkan barang orang lain atas dasar bahawa seseorang itu akan diberi upah oleh yang punya barang sesuai dengan usahanya.
Penjualan dengan cara lelang (muzayadah) diperbolehkan dalam islam.
Buah-buahan yang sudah dijual kemudian rusak atau hilang dan yang lain-lainnya, maka kerusakan itu tanggungan penjual
Sebab-sebab dilarangnya jual beli  dapat dikembalikan kepada akad jual beli atau hal lain.
Yang berkaitan dengan tempat akad :
  1. Tidak terpenuhinya syarat wajib adanya objek akad (Jual Beli Ma’dum).
  2. Tidak terpenuhinya syarat dapat dimanfaatkannya objek jual beli tersebut secara syar’i.
  3. Tidak terpenuhinya syarat kepemilikan penuh atas objek akad oleh pihak yang menjual.
Yang berkaitan dengan komitmen terhadap akad jual beli :
  1. Karena akad yang mengandung riba.
  2. Karena akad mengandung gharar.

Jual Beli yang Diharamkan :
  1. Menjual tanggungan dengan tanggungan
  2. Jual beli dengan persyaratan
  3. Dua akad dalam satu jual beli
  4. Mensyaratkan akad lain dalam akad jual beli
  5. Menjual dalam proses Transaksi dengan orang lain dan menawarkan barang yang masih ditawar orang lain
  6. Orang kota menjual barang orang dusun
  7. Menjual anjing
  8. Menjual alat-alat musik dan hiburan
  9. Jual beli saat adzan Jum’at berkumandang
Jual Beli yang Masih Diperdebatkan
1.      Penjualan Kredit dengan harga lebih mahal
2.      Jual beli ‘Inah
3.      Jual beli Wafa’
4.      Jual beli berpanjar (dengan uang muka)
5.      Jual beli Istijrar
     
3.2  Saran
Segala kajian tentang muamalah telah dikaji oleh para ulama agar kaum muslimin mengetahui dan menerapkannya. Sebagai generasi selanjutnya, alangkah baiknya jika kita mengetahui bahkan menguasai tentang segala bentuk kajian muamalah dalam Islam dan menerapkannya dalam kehidupan kita ditengah-tengah kondisi muamalah kita yang mayoritas masih didominasi oleh sistem-sistem sosialis dan kapitalis.

DAFTAR PUSTAKA


A. Karim, Adiwarman. 2008, Fikih Ekonomi Keuangan Islam, Jakarta : Darul Haq, Cet. II
Abu Bakar, Muhammad Najtullah. Kegiatan Ekonomi Dalam Islam, alih bahasa Anas Siddiq (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), At-Tirmizial Jami’ as-SahihKitab al-Buyu’ (Beirut: Dar Al-Fikr, t.t.), III:125. Hadis dari Abu Sa’id al-Khudhri
az-ZuhailiWahbah. al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu  (ttp.: Dar al-Fikr, t.t.), IV: 347
Bakri, Nazar . Problematika Pelaksanaan Islam, cet. ke-1, (Jakarta: Raja Grafindo, 1994).
Chairuman Pasaribu dan Suhrawardi, Hukum Perjanjian Fikri Ali. al-Mu’amalah al-Madiyah wa al-Adabiyah (Kairo: Matba’ah al-Baabi al-Halabi wa Auladuhu, 1938), I: 12.
Djamil, R. Abdul. Hukum Islam: Asas-asas Hukum Islam, cet. ke-1 (Bandung: Mandar Maju, 1992),
Haroen, Nasrun. Fiqh Muamalah, cet. ke-1 (Jakarta: Gaya Media Pramana, 2000),
Ibn MajjahSunan Ibn Majjah (Mesir: Isa al-Baabi al-Halabi wa Syarakauhu, t.t.), VI: 755. Hadis dari Muhammad bin Basyar dari Wahab bin Jarir.
Imam MuslimSahih Muslim, Kitab al-Buyu’ (Beirut: Dar al-Fikr, 1992), II: 4. Hadis dari Abu Bakar ibn Abi Syaibah.
Mujieb, M. Abdul dkk. Kamus Istilah Fiqh, cet. ke-2 (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1994)
Munawwir, A.W. Kamus al-Munawir: Arab-Indonesia Terlengkap, cet. ke-14 (Surabaya: Pustaka Progressif, 1997) Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah 13
Suhendi, Hendi. 2002, Fiqh Muamalah, Jakarta : Rajawali Pers.

http://rumahislam.com/tafsir-depag-ri/157-qs-002--al-baqarah/564-tafsir-depag-ri--qs-002-al-baqarah-275.html

0 komentar:

Poskan Komentar