makalah Interaksi Sosial


BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang Masalah
Manusia senantiasa melakukan hubungan dan pengaruh timbal balik dengan manusia yang lain dalam rangka memenuhi kebutuhan dan mempertahankan kehidupannya. Bahkan, secara ekterm manusia akan mempunyai arti jika ada manusia yang lain tempat ia berinteraksi.
Interaksi sosial bisa didefinisikan sebagai hubungan dan pengaruh timbal balik antara individu dengan individu, individu dengan kelompok individu yang lainnya. Interaksi sosial merupakan bentuk dari dinamika sosial budaya yang ada didalam masyarakat. Dengan demikian, dengan interaksi sosial akan memungkinkan terjadinya perubahan-perubahan didalam masyarakat yang akan membentuk hal-hal yang baru yang membuat dinamika masyarakat menjadi hidup. Perubahan-perubahan ini akan terjadi sambung-menyambung dari generasi yang satu ke generasi berikutnya sepanjang zaman.
Interaksi sosial itu sifatnya dinamis. Dalam kenyataan sehari-hari terdapat tiga macam cakupan interaksi dalam definisi interaksi sosial yaitu interaksi antara individu dengan individu, individu dengan kelompok dan kelompok dengan kelompok.
B.     Rumusan Masalah
1.      Pengertian Interaksi Sosial
2.      Ciri-ciri Interaksi Sosial
3.      Arah Komunikasi dalam Interaksi Sosial
4.      Faktor-faktor Pendorong Interaksi Sosial
5.      Kontak Sosial
6.      Tindakan Sosial
7.      Bentuk dan Sifat Interaksi Sosial
8.      Interaksi berdasarkan hubungan
9.      Status Sosial
BAB II
PEMBAHASAN MASALAH
Ø      Pengertian Interaksi Sosial
Interaksi sosial adalah hubungan timbal balik antara individu dan individu, antara individu dengan kelompok atau antara kelompok dengan kelompok dalam berbagai bentuk seperti kerjasama, persaingan ataupun pertikaian.
1.      Interaksi antara individu dengan individu
Adalah individu yang satu memberikan pengaruh, rangsangan/stimulus kepada individu lainnya dan sebaliknya, individu yang terkena pengaruh itu akan memberikan reaksi, tanggapan atau respon.
2.      Interaksi antara individu dengan kelompok
Secara konkret bentuk interaksi sosial antara individu dengan kelompok bisa digambarkan seperti seorang guru yang sedang berhadapan dan mengajari siswa-siswinya didalam kelas/seorang penceramah yang sedang berpidato didepan orang banyak. Bentuk interaksi semacam ini juga menunjukkan bahwa kepentingan seseorang individu berhadapan/bisa ada saling keterkaitan dengan kepentingan kelompok.
3.      Interaksi antar kelompok dengan kelompok
Bentuk interaksi antara kelompok dengan kelompok saling berhadapan dalam kepentingan, namun bisa juga ada kepentingan individu disitu dan kepentingan dalam kelompok merupakan satu kesatuan, berhubungan dengan kepentingan individu dalam kelompok lain.
Ø      Ciri-ciri Interaksi Sosial
Sistem sosial dalam masyarakat akan membentuk suatu pola hubungan sosial yang relatif baku/tetap, apabila interaksi sosial yang terjadi berulang-ulang dalam kurun waktu relatif lama dan diantara para pelaku yang relatif sama. Pola seperti ini dapat dijumpai dalam bentuk sistem nilai dan norma. Sejarah pola yang melandasi interaksi sosial adalah tujuan yang jelas, kebutuhan yang jelas dan bermanfaat, adanya kesesuaian dan berhasil guna, adanya kesesuaian dengan kaidah sosial yang berlaku dan dapat disimpulkan bahwa interaksi sosial itu memiliki karakteristik sebagai berikut :
1.      Ada pelaku dengan jumlah lebih dari satu orang.
2.      Interaksi sosial selalu menyangkut komunikasi diantara dua pihak yaitu pengirim (sender) dan penerima (receiver).
3.      Interaksi sosial merupakan suatu usaha untuk menciptakan pengertian diantara pengirim dan penerima.
4.      Ada tujuan-tujuan tertentu, terlepas dari sama atau tidaknya tujuan tersebut. Interaksi sosial menekankan juga pada tujuan mengubah tingkah laku orang lain yang meliputi perubahan pengetahuan, sikap dan tindakan dari penerima.
Ø      Arah Komunikasi dalam Interaksi Sosial
Menurut Gibson (1996) desain organisasi harus memungkinkan terjadinya komunikasi 4 arah yang berbeda, yaitu :
1.      Komunikasi ke bawah (down ward communication) adalah komunikasi yang mengalir dari tingkat atas ke tingkat bawah dalam sebuah organisasi seperti kebijakan pimpinan, instansi/memoresmi.
2.      Komunikasi keatas (up ward communication) adalah komunikasi yang mengalir dari tingkat bawah ke tingkat atas sebuah organisasi seperti kotak saran, pertemuan kelompok dan prosedur keluhan.
3.      Komunikasi horizontal (horizontal communication) adalah komunikasi yang mengalir melintasi berbagai fungsi dalam organisasi.
4.      Komunikasi diagonal (diagonal communication) adalah komunikasi yang bersifat melintasi fungsi dan tingkatan dalam organisasi.
Ø      Faktor-faktor Pendorong Interaksi Sosial
1.      Faktor Internal
a.    Dorongan untuk meneruskan/mengembangkan keturunan.
Secara naluriah, manusia mempunyai dorongan nafsu birahi untuk saling tertarik dengan lawan jenis. Dorongan ini bersifat kodrati artinya tidak usah dipelajaripun seseorang akan mengerti sendiri dan secara sendirinya pula orang akan berpasang-pasangan untuk meneruskan keturunannya agar tidak mengalami kepunahan.
b.    Dorongan untuk memenuhi kebutuhan.
Dorongan untuk memenuhi kebutuhan manusia memerlukan keberadaan orang lain yang akan saling memerlukan, saling tergantung untuk saling melengkapi kebutuhan hidup.
c.       Dorongan untuk mempertahankan hidup.
Dorongan untuk mempertahankan hidup ini terutama dalam menghadapi ancaman dari luar seperti ancaman dari kelompok atau suku bangsa lain, ataupun dari serangan binatang buas.
d.      Dorongan untuk berkomunikasi dengan sesama.
Secara naluriah, manusia memerlukan keberadaan orang lain dalam rangka saling berkomunikasi untuk mengungkapkan keinginan yang ada dalam hati masing-masing dan secara psikologis manusia akan merasa nyaman dan tentram bila hidup bersama-sama dan berkomunikasi dengan orang lain dalam satu lingkungan sosial budaya.
2.      Faktor Eksternal
a.       Imitasi
Imitasi dapat diartikan sebagai suatu perbuatan atau tindakan seseorang untuk meniru sesuatu yang ada pada orang lain.
b.      Identifikasi
Merupakan kecenderungan/keinginan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan pihak lain.
c.        Sugesti
Merupakan cara pemberian suatu pandangan/pengaruh oleh seseorang kepada orang lain dengan cara tertentu sehingga seseorang tersebut mengikuti pandangan atau pengaruh yang diberikan tanpa berpikir panjang.
d.      Simpati
Merupakan sikap keterkaitan terhadap orang lain. Sikap ini timbul karena adanya kesesuaian antara nilai yang dianut oleh kedua belah pihak.
e.        Empati
Merupakan proses sosial yang hampir sama dengan simpati, hanya perbedaannya adalah bahwa empati lebih melibatkan emosi atau lebih menjiawai dalam diri seoang yang lebih daripada simpati.
f.        Motivasi
Adalah suatu dorongan atau rangsangan yang diberikan seseorang kepada orang lain sedemikian rupa sehingga orang yang diberi motivasi tersebut menuruti atau melaksanakan yang dimotivasikan kepadanya.
Ø      Kontak Sosial
Merupakan awal dari terjadinya interaksi sosial dan masing-masing pihak saling berinteraksi meskipun tidak saling bersentuhan secara fisik. Jadi kontak tidak harus selalu berkomunikasi.
Dalam kehidupan sehari-hari dikenal beberapa macam kontak sosial yaitu :
1.      Menurut cara yang dilakukan
Kontak langsung dan kontak tidak langsung.
2.      Menurut proses terjadinya/tingkat hubungannya
Kontak primer dan kontak sekunder.
3.      Menurut sifat
Kontak positif dan kontak negatif.
4.      Komunikasi
Merupakan pengiriman pesan dan penerimaan pesan dengan maksud untuk dapat dipahami. Proses komunikasi terjadi pada saat kontak sosial berlangsung.
Ø      Tindakan Sosial
Adalah tindakan yang mempengaruhi individu yang mempengaruhi individu lain dalam masyarakat dan merupakan tindakan bermakna yaitu tindakan yang dilakukan dengan mempertimbangkan keberadaan orang lain. Berdasarkan cara dan tujuan yang akan dilakukan, maka tindakan sosial dapat dibedakan menjadi 4, yaitu :
1.     Tindakan rasional instrumental
Adalah tindakan sosial yang dilakukan oleh seorang dengan memperhitungkan kesesuaian cara yang digunakan lalu tujuan apa yang hendak dicapai dalam tindakan itu.
2.     Tindakan rasional berorientasi nilai
Merupakan tindakan yang begitu memperhitungkan cara.
3.     Tindakan tradisional
Merupakan tindakan yang tidak memperhitungkan pertimbangan rasional. Tindakan ini dilaksanakan karena pertimbangan adat dan kebiasaan.
4.     Tindakan efektif
Tindakan efektif seringkali dilakukan tanpa suatu perencanaan matang dan kesadaran penuh. Tindakan ini muncul karena dorongan perasaan atau emosi dalam diri pelaku.
Ø      Bentuk dan Sifat Interaksi Sosial
Dalam proses interaksi sosial menghasilkan 2 bentuk yaitu proses sosial asosiatif dan disosiatif.
a.     Proses/interaksi Sosial Asosiatif
Adalah proses sosial yang membawa ke arah persatuan dan kerja sama. Proses ini disebut juga sebagai proses yang positif. Beberapa proses sosial yang bersifat asosiatif adalah :
1.         Akulturasi (acculturation)
Merupakan proses sosial yang timbul akibat suatu kebudayaan asing/kebudayaan lain tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan sendiri.
2.         Asimilasi
Proses asimilasi terjadi apabila dalam masyarakat terdapat perbedaan kebudayaan diantara kedua belah pihak, ada proses saling menyesuaikan, ada interaksi intensif antara kedua belah pihak.
3.         Kerja sama (cooperation)
Merupakan bentuk yang paling utama dalam proses interaksi sosial karena interaksi sosial yang dilakukan oleh seorang/kelompok orang bertujuan untuk memenuhi kepentingan/kebutuhan bersama.
-         Kerjasama spontan : kerjasama yang timbul secara spontan.
-         Kerjasama langsung : kerjasama yang terjadi karena adanya perintah dari atasan.
-         Kerjasama kontrak : kerjasama yang terjadi atas dasar ketentuan tertentu yang disetujui bersama untuk jangka waktu tertentu.
-         Kerjasama tradisional : kerjasama yang terbentuk karena adanya sistem tradisi yang kondusif.
4.         Akomodasi
Sebagai proses usaha-usaha yang dilakukan manusia untuk meredakan atau memecahkan konflik dalam rangka mencapai kestabilan.
b.      Proses/interaksi sosial disosiatif
Merupakan interaksi sosial yang membawa ke arah perpecahan. Ada beberapa bentuk interaksi sosial disosiatif yaitu :
1.      Konflik Sosial/pertentangan
Dapat diartikan sebagai suatu proses antara dua orang atau lebih, maupun kelompok berusaha menyingkirkan pihak lain dengan jalan menghancurkan atau membuatnya tidak berdaya.
2.      Persaingan (competition)
Merupakan suatu proses sosial yang melibatkan mencapai keuntungan melalui bidang kehidupan yang pada suatu saat tertentu menjadi pusat perhatian umum, tanpa ancaman/kekerasan.
3.       Kontrovensi
Merupakan suatu proses sosial yang posisinya berada diantara persaingan dan konflik. Kontrovensi dapat berwujud sikap tidak senang, baik secara terbuka/sembunyi-sembunyi.
Ø      Interaksi berdasarkan hubungan
1.     Hubungan antar status
Adalah hubungan antara dua pihak dalam masyarakat yang berada dalam satu lingkungan organisasi yang bersifat formal sehingga masing-masing pihak didalam melakukan interaksinya didasarkan pada statusnya masing-masing.
-         Ciri-ciri hubungan antar status.
-         Masing-masing pihak berpijak pada statusnya.
-         Bentuk hubungan tersebut didasarkan pada aturan yang berlaku.
-         Toleransi bersifat terbatas.
-         Bentuk-bentuk hubungan lebih bersifat formal.
-         Ada sanksi yang diberlakukan terhadap interaksi yang menyimpang dari ketentuan yang ada.

2.    Hubungan antar kepentingan
Adalah hubungan antarpihak didalam masyarakat yang berorientasi pada terpenuhnya kepentingan dari masing-masing pihak.
-         Ciri-ciri hubungan antar kepentingan
-         Masing-masing pihak berpijak pada kepentingan masing-masing.
-         Bentuk hubungan cenderung bersifat formal.
-         Didasarkan pada norma-norma tertentu yang telah disepakati.
-         Solidaritas relatif lebih tinggi.
-         Masing-masing pihak mempunyai interest dan kepentingan yang sama.
3.     Hubungan kekeluargaan
Adalah hubungan yang terjadi antar pihak dimana masing-masing masih mempunyai hubungan darah.
-         Ciri-ciri hubungan kekeluargaan.
-         Masing-masing pihak masih ada hubungan darah/kekerabatan.
-         Hubungan bersifat non formal.
-         Solidaritas sangat tinggi.
-         Setiap interaksi tidak didasarkan pada peraturan yang berlaku.
-         Masing-masing pihak saling memanjakan.
4.     Hubungan persahabatan
Adalah hubungan antara dua pihak/elbih pihak dimana masing-masing sangat mendambakan komunikasi yang saling menguntungkan untuk menjalin suatu hubungan yang sedemikian dekat/keakraban.
-         Ciri-ciri hubungan persahabatan.
-         Solidaritas sosial tinggi.
-         Bentuk hubungan dapat bersifat formal/non formal.
-         Masing-masing pihak saling mengupayakan agar hubungan tetap harmonis.
Ø      Status Sosial
       Status sosial adalah sekumpulan hak dan kewajian yang dimiliki seseorang dalam masyarakatnya (menurut Ralph Linton). Orang yang memiliki status sosial yang tinggi akan ditempatkan lebih tinggi dalam struktur masyarakat dibandingkan dengan orang yang status sosialnya rendah  Status sosial dapat dipahami sebagai tingkat kehormatan atau prestise yang melekat pada posisi seseorang dalam masyarakat.
Stratifikasi sosial dikaitkan dengan kemampuan individu untuk hidup sampai dengan beberapa set prinsip-prinsip cita-cita atau dianggap penting oleh masyarakat atau kelompok sosial di dalamnya.
1.    Meskipun ada beberapa masyarakat di seluruh dunia yang menganggap setiap orang (setidaknya orang dewasa) status yang sama, sebagian besar masyarakat memiliki beberapa bentuk hirarki sosial dengan beberapa orang di kuat, posisi lebih dominan, dan orang lain lebih lemah, posisi lebih rendah. Seringkali ketidakadilan ini dibangun ke dalam sistem sosial itu sendiri melalui berbagai bentuk komponen struktural dan lembaga.
Peran sosial dan ekonomi dibedakan dan diberikan status diferensial sesuai dengan apa yang masyarakat tertentu atau budaya dianggap berharga. Dalam beberapa kasus, ketimpangan dalam sumber daya dan kewenangan mungkin begitu besar bahwa mereka didominasi pergi bersama dengan itu dengan sedikit kesadaran diri. Sena harfiah berarti 'tentara'. Dalam konteks Bihar-salah satu negara yang paling terbelakang India-itu mengacu pada milisi pribadi dari kasta atas.
Bihar telah melihat konflik antara kasta atas (kelas feodal pemilik tanah dan kontraktor bisnis) dan kasta rendah (biasanya petani penggarap dan buruh tani tak berdaya) sejak kemerdekaan. Pemberdayaan bertahap dari kelas-kelas yang lebih rendah telah memicu reaksi berdarah dari geng (sena) yang mengelilingi bagian atas-kasta penjahat. Penindasan selalu hadir dan pembalasan meningkat pada paruh kedua 1990-an, ketika seluruh populasi dari sejumlah dusun dibantai dalam ledakan Naxalite dan kekerasan sena. Dari Suba Chandran dan Alok Kumar Gupta, India: Kekerasan Kasta dan Kelas di Bihar: The Ranvir Sena. Eropa Platform untuk Pencegahan Konflik dan Transformasi.
2.    Tapi di mana resistensi muncul, hasil konflik sosial. Konflik dominasi konflik tentang siapa yang di atas (dan bawah) dari konflik hierarchy.Such sosial, ekonomi, dan / atau politik dapat terjadi antara orang pribadi (misalnya, antara saudara kandung, teman sekolah, atau rekan kerja), antara kelompok ( misalnya antara kelompok-kelompok ras atau etnis yang berbeda), atau antara bangsa-bangsa.
Menempati status tinggi karena karakteristik yang dimiliki seseorang berarti bahwa atas dasar perbedaan itu, individu memperoleh lebih banyak kekuasaan dan hak istimewa. Pendapat orang itu, cara berpikir, nilai-nilai, kebutuhan, dan perasaan yang dianggap memiliki nilai lebih. Ada rasa tinggi dari hak untuk sumber daya masyarakat, termasuk perawatan kesehatan, pendidikan, dan pekerjaan yang menarik. Seringkali imbalan ini diturunkan hanya dari memiliki warna kulit tertentu, keberadaan jenis kelamin tertentu, yang berpakaian dengan cara tertentu, atau memiliki profesi tertentu atau gelar.
3.    Sena harfiah berarti 'tentara'. Dalam konteks Bihar-salah satu negara yang paling terbelakang India-itu mengacu pada milisi pribadi dari kasta atas. Bihar telah melihat konflik antara kasta atas (kelas feodal pemilik tanah dan kontraktor bisnis) dan kasta rendah (biasanya petani penggarap dan buruh tani tak berdaya) sejak kemerdekaan. Pemberdayaan bertahap dari kelas-kelas yang lebih rendah telah memicu reaksi berdarah dari geng (sena) yang mengelilingi bagian atas-kasta penjahat. Penindasan selalu hadir dan pembalasan meningkat pada paruh kedua 1990-an, ketika seluruh populasi dari sejumlah dusun dibantai dalam ledakan Naxalite dan kekerasan sena. Dari Suba Chandran dan Alok Kumar Gupta, India: Kekerasan Kasta dan Kelas di Bihar: The Ranvir Sena. Eropa Platform untuk Pencegahan Konflik dan Transformasi.
4.    Teori Dominasi sosial menunjukkan bahwa kebanyakan bentuk konflik kelompok dan penindasan (misalnya, rasisme, etnosentrisme, seksisme, nasionalisme, kelasisme, regionalisme) dapat dianggap sebagai manifestasi yang berbeda dari kecenderungan manusia yang sama dasar untuk membentuk kelompok berbasis hierarchies.Examples sosial dari 20 konflik abad mengakibatkan setidaknya sebagian dari stratifikasi sosial termasuk Holocaust, pembantaian Timor Timur pada 1990-an, Khmer Merah teror akhir 1970-an, dan pembantaian warga Tutsi dan Hutu di Rwanda pada 1990-an. Dalam semua situasi kekerasan, ada hubungan dominasi dan subordinasi di tempat kerja. Berbagai kelompok yang berjuang untuk mempertahankan atau memajukan status sosial mereka.
5.    Ironisnya, sistem stratifikasi telah digunakan oleh beberapa masyarakat untuk mencoba mengurangi konflik terbuka atas distribusi barang dan jasa bernilai dalam suatu masyarakat. Untuk sementara waktu, distribusi penghargaan mungkin tidak diperebutkan dan kekuatan orang-orang di atas tidak akan tertantang. Namun akhirnya, konflik kepentingan mungkin sangat baik naik ke permukaan. Sementara mereka di atas hirarki sosial cenderung untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka di bagian bawah cenderung kurang memiliki akses terhadap penghargaan materi, kebebasan, pengakuan, layanan dari orang lain.
6.    Selain itu, dominasi kelompok sekali keuntungan, itu akan memonopoli sumber daya dalam upaya untuk mempertahankan dan melestarikan status istimewa nya. Karena kemampuan untuk mencapai tujuan seseorang adalah sangat terhubung ke status sosial seseorang, mereka yang berstatus lebih rendah mungkin menemukan kepentingan mereka untuk menantang status quo yang memberikan mereka posisi rendah. Terutama dalam kasus di mana tidak ada sumber daya yang cukup untuk pergi berkeliling, pihak mungkin terlibat dalam persaingan yang ketat untuk posisi status sosial dan hak istimewa.
Ini perjuangan status sosial seringkali tidak hanya tentang siapa mendapat apa. Status konflik juga cenderung melibatkan penilaian subyektif dari seorang individu atau Kelompok "kebaikan" atau "layak sosial." Sebagai contoh konplik identitas  cenderung melibatkan isu seputar distribusis sumber daya langka serta perjuangan untuk status sosial dan hak istimewa. Dalam banyak kasus, kelompok percaya bahwa mereka layak status yang lebih tinggi dalam kebajikan seharusnya superioritas moral mereka. Banyak teori menunjukkan bahwa manusia memiliki naluri untuk melestarikan diri yang memotivasi mereka untuk memperjuangkan tempat dalam hubungan sosial dan untuk memastikan bahwa ide-ide dan pendapat mereka diperhitungkan.
7.    Mereka dengan peringkat lebih rendah dalam hirarki sosial mungkin merasa status sosial mereka menjadi bentuk ketidakadilan  atau diskriminasi bahwa mereka harus berjuang untuk mengatasi. Dengan demikian, konflik dominasi banyak masalah pihak berjuang untuk lebih banyak ruang untuk masing-masing nilai.
       Karena tak seorang pun ingin berada di bawah hirarki sosial dan sedikit yang bersedia untuk berbagi, atas konflik tersebut cenderung sangat sulit untuk diselesaikan. Selalu, orang-orang di bagian bawah ingin membalikkan hubungan, sementara orang-orang di atas ingin mempertahankan it.This menyebabkan orang untuk ingin mendominasi orang lain dan untuk bersaing dengan orang lain untuk posisi. Hasilnya adalah bahwa pihak merasa terancam dan rasa kebutuhan untuk membalas untuk membela diri. Seperti perjuangan berlanjut, konflik cenderung meningkat dan bahkan mungkin menjadi kekerasan, sebagai contoh genosida dikutip sebelumnya menunjukkan. Kecuali orang-orang atas bersedia untuk berbagi posisi puncak mereka dengan orang lain (sehingga menghilangkan banyak manfaat yang di atas), konflik kemungkinan besar akan terus berlanjut. Selain itu, bahkan jika mereka di bagian bawah bisa membalikkan keadaan dan menjadi kelompok kepemimpinan, konflik baru mungkin timbul seperti yang sekarang di bagian bawah mulai usaha mereka untuk mendaki ke puncak. Dengan demikian, sistem sosial itu sendiri tidak diubah karena perjuangan orang untuk status sosial. Hal ini hanya peran orang-orang yang terbalik.
BAB III
PENUTUP

Ø      Kesimpulan
Berdasarkan tahap-tahap yang kami tempuh melalui pembahasan dan penjelasan yang bertujuan untuk mengembangkan, maka penulis dapat menyimpulkan sebagai berikut :
1.      Pentingnya sebuah sosialisasi dalam kehidupan sehari-hari untuk menciptakan komunikasi yang baik dan benar.
2.      Komunikasi dapat membuat kesejahteraan hidup bagi setiap individu.
3.      Interaksi sosial yang baik dan benar dapat mempererat tali persaudaraan antar umat beragama.
4.      Interaksi sosial antar individu sangat dibutuhkan dalam menjalin sebuah hubungan seperti dalam menjalin hubungan kekeluargaan.

Ø      Saran
Hendaknya berinteraksi sosial dengan lingkungan atau masyarakat dalam kehidupan kita. Semoga karya ilmiah ini menambah wawasan dan pengetahuan kita juga bermanfaat bagi kita semua.
DAFTAR PUSTAKA

[1] Harold Kerbo, Stratifikasi Sosial dan Ketimpangan: Konflik Kelas di Amerika Serikat, (New York: McGraw-Hill Book Co, 1983), 113.
[2] Louis Kriesberg, Konflik Konstruktif: Dari Eskalasi Resolusi, 2 nd edition, (Oxford: Rowman dan Littlefield Penerbit, 2003), 15.
[3] Pat Patfoort, Kekerasan mencabut, Bangunan Tanpa Kekerasan: Dari pengasuhan tanpa kekerasan ke Masyarakat Tanpa Kekerasan, (Freeport, Maine: Cobblesmith, 1995), 20.
[4] Kerbo, 113.
[5] Untuk lebih lanjut tentang Teori Dominasi Sosial, melihat Jim Sidaneus dan Felicia Pratto, Dominasi Sosial: Sebuah Teori Hirarki antargolongan Sosial dan Penindasan, (Cambridge: Cambridge University Press, 1999).

0 komentar:

Poskan Komentar