Perubahan Sikap


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Sebagai manusia kita hidup penuh perubahan. Perubahan merupakan suatu hal yang pasti (terjadi, dan akan terjadi), hal ini sudah diketahui oleh manusia sejak zaman dahulu, yang diungkapkan mereka melalui kata-kata “Panta Rei” (bahasa Belanda: alles verandert- bahasa Inggris: everything changes).
Manusia perlu berubah sesuai dengan tuntutan perubahan itu sendiri. Perubahan yang dimaksud misalnya perubahan dalam perilaku. Tetapi tidak semua perubahan yang terjadi akan menimbulkan kondisi yang lebih baik.
Terkadang perubahan pun akan mendapatkan tentangan. Sumber penyebab timbulnya tentangan terhadap perubahan terdapat pada karakteristik dasar manusia seperti: persepsi, kepribadian, dan kebutuhan-kebutuhan. Menurut Robbins terdapat adanya 5 macam alasan mengapa individu-individu menentang perubahan.
1.              Kebiasaan
2.              Kepastian
3.              Faktor Ekonomi
4.              Pemprosesan informasi secara selektif
5.              Takut terhadap yang tidak diketahui
B.     Rumusan Masalah

A.    Apa itu Perubahan Sikap?
B.     Apa Saja Faktor-Faktor Terjadinya Perubahan Sikap?
C.     Bagaimana Cara Mengatasi Perubahan Sikap





BAB II
PEMBAHASAN

A.   Pengertian Perubahan Sikap
Sikap dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti “perbuatan, perilaku, atau gerak”, sedangkan dalam kamus Psikologi oleh Chaplin, diungkapkan bahwa “Sikap” berarti “Satu predisposisi atau kecenderungan yang relative stabil dan berlangsung terus-menerus untuk bertingkah laku atau untuk mereaksi dengan satu cara tertentu terhadap pribadi lain, objek, lembaga, atau persoalan tertentu”.
Sikap merupakan suatu presdiposisi untuk melakukan perbuatan, suatu keadaan siap untuk bertindak dengan cara tertentu. Sikap adalah keadaan umum pada individu yang mengacu keberbagai tingkah laku.
Sikap adalah proses orientasi yakni proses yang memungkinkan seseorang berinteraksi secara selektif dengan lingkungannya, dengan sikap itu seseorang akan berorientasi untuk melakukan suatu perbuatan yang serasi dengan sikapnya.
Sikap sebagai proses inferensi, artinya sikap itu sendiri tak dapat di amati secara langsung. Yang dapat di amati adalah tingkah laku. Berdasarkan tingkah laku itu, dapat di tafsirkan, ditentukan sikapnya.
Sikap adalah keadaan organisme yang merupakan dis posisi awal bagi individu untuk di motivasi dengan cara-cara yang khusus, tetapi sikap bukan sesuatu motif yang ada . misalnya sikap positif terhadap pekerjaan merupakan predisposisi untuk di motivasi dengan penugasan tetentu.
Sikap menurut Hubert Bonner di defenisikan sebagai respons implisit untuk melakukan kegatan menuju ke atau menjauh dari seseorang atau nilai sosial.
Sikap menurut Dr Gerungan yaitu kesediaan beraksi pada suatu hal.
a)      Ciri-Ciri Sikap
1.      Sikap menunjukkan adanya hubungan antara subyek dan obyek.
2.      Sikap memiliki arah tertentu.
3.      Sikap bercirikan suatu faktor intensitas.
4.      Sikap bukan merupakan pemmbawaan manusia sejak di lahirkan, melainkan terbentuk selama perkembangannya, sebagai akibat hubungannya dengan obyek-obyek di lingkungannya.
5.      Sikap dapat berubah sebagai hasil interaksi antara seorang dengan orang lain.
6.      Sikap bersangkutan dengan dimensi waktu
7.      Sikap mengandung faktor-faktor motivasi dan emosi.
8.      Sikap itu diperoleh.
Individu (person) Lingkungan Sosial

Terbentuknya/ perubahan sikap

1.      Proses
Identifikasi
(Individual)
a.       Imitasi
b.      Identifikasi
2.      Pengaruh Kelompok
(Sosial)
a.       Inhibisi Sosial
b.      Tekanan
c.       Konformitas
d.      Brainstorming
e.       Kerja kelompok
3.      Komunikasi

 











b)      Proses Pembentukan Sikap
a.      Tingkah laku Imitasi (Peniruan)
Imitasi (peniruan) berarti mengkopi, adalah proses dimana seseorang memperoleh pola-pola tingkah laku orang lain dengan cara mengkopi (meniru persis) pola-polanya. Hampir semua tingkah laku diperoleh dengan proses peniruan.
b.      Proses Identifikasi
Suatu proses dimana seorang individu terlibat secara psikologis di dalam dan menerima pola-pola tingkah laku orang lainnya. Prorses ini memerlukan model-model yang baik untuk ditiru dan diidentifikasi, sehingga diperlukan figur tokoh yang memang baik untuk ditiru, dan manajer yang populer dan sukses dalam bidangnya.
c)      Pengaruh Kelompok Terhadap Pembentukan Sikap
Hubungan-hubungan kelompok dan kelompok-kelompok mempengaruhi sikap para anggotanya. Para anggota tiap organisasi mempunyai sikap-sikap umum. Keanggotaan dalam suatu kelompok menganjurkan agar individu-individu yang telah menjadi anggota atau yang ingin menjadi anggota kelompok mempunyai sikap-sikap yang sama seperti yang berlaku dalam kelompok tersebut.
d)     Fungsi Sikap
a)      Penyesuain : Menyesuaikan diri dengan lingunngan.
b)      Ketahanan Diri : Elak Konflik, ikut sikap diterima orang lain.
c)      Harga Diri : Pendirian, pandangan orang lain, tidak puas terhadap apa yang ada
d)     Pengetahuan: Memahami ilmu, lebih serius.
e)      Pengaruh Kelompok Terhadap Pembentukan Sikap
Hubungan-hubungan kelompok dan kelompok-kelompok mempengaruhi sikap para anggotanya. Para anggota tiap organisasi mempunyai sikap-sikap umum. Keanggotaan dalam suatu kelompok menganjurkan agar individu-individu yang telah menjadi anggota atau yang ingin menjadi anggota kelompok mempunyai sikap-sikap yang sama seperti yang berlaku dalam kelompok tersebut.
Perubahan
Suka atau tidak, beberapa tugas memang membosankan dan tak menarik. Tugas-tugas seperti pada umumnya Perubahan mematikan semangat orang lain (mendemotivasi). Hal seperti ini juga akan terjadi jika orang membawa masalah eksternal ke tempat kerja yang dapat merusak antusiasme.
Jadi, dapat ditarik kesimpulan bahwa definisi perubahan sikap yaitu “Peralihan atau pergeseran kecenderungan untuk bertingkah laku terhadap suatu objek karena adanya suatu perubahan dari lingkungannya”.
Perubahan Sikap adalah suatu gejala yang kompleks yang berkaitan dengan individu-individu di dalam lingkungan kerja baik lembaga, atau  perusahaan.
B.   Faktor-faktor terjadinya perubahan sikap

1)      Ketidakpuasaan terhadap jabatan/kedudukan yang diberikan
Adakalanya tingkahlaku seseorang bertentangan dengan sikapnya. Misalnya, seorang karyawan karena satu dan lain hal menaruh rasa benci kepada atasannya (itu sikapnya), tetapi di depan mata atasannya ia bekerja sungguh-sungguh (itu tingkahlakunya). Begitu atasannya pergi, ia bermalas-malasan. Ketika atasannya kembali, ia bekerja lagi dengan tekun. Dengan sikapnya yang membenci atasannya itu, si karyawan tadi bertingkahlaku semu untuk memperoleh keuntungan tertentu, misalnya pujian atau kenaikan pangkat.  
2)      Mendapatkan tekanan; (keluarga, kerabat, sahabat, orang tua, piminan/manajer)
3)      Kejenuhan dalam bekerja
4)      Pergeseran kelompok referensi
Kelompok referensi adalah kelompok yang mempunyai norma-norma, nilai-nilai sosial, kebiasaan-kebiasaan tingkahlaku, dan lain-lain yang dianggap paling sesuai oleh sesorang untuk dijadikan pedoman dan pegangan hidupnya. Sebagai contoh dapat diterangkan sebagai berikut: Seorang siswa SMA ketika berada di Desa, kelompok keanggotaannya adalah keluarga dan kelompok referensinya adalah juga keluarganya. Sebagai anggota keluarga ia dalam kehidupannya bertingkahlaku menurut norma-norma, nilai-nilai sosia dan kebiasaan-kebiasaan tingkah laku keluarganya. Ketika pada suatu waktu ia pindah ke kota besar untuk kuliah di sebuah perguruan tinggi, maka di tempat ini kelompk keanggotannya adalah kelompok mahasiswa. Sekarangg kelompok reeferensinya bisa salah satu diantara dua, yakni tetap keluarganya di desa atau kelompok mahasiswa. Apaabila kelompok mahasiswa yang dijadikan kelompok referennsinya maka ini berarti bahwa pada diri si pemuda asal desa itu terjadi pergeseran kelompok referensi.
Situasi tersebutdapat terjadi pula pada karyawan-karyawan perusahaan, instanis militer dan lain-lain orgnisasi. Yang tampak jelas pergeseran kelompok referensi, jika terjadi pada seorang Indonesia yang bekerja di luar negeri Amerika Serikat misalnya, dimana ia menikah dengan wanita Amerika dan menjadi warga negara Amerika. 
5)      Kebutuhan masing-masing individu
6)      Kecemburuan profesi. Adanya kecemburuan profesi, Benarkah?
Banyak orang merasa asing dengan alasan profesi kerja ini. mereka akan bertanya-tanya dalam dirinya, mungkinkah itu terjadi? Mengapa? Sebab dengan fitrahnya yang murni, tentu mereka mendambakan sebuah komunitas kerja yang bersih. Bagaimana para buruh itu saling merasa cemburu antara satu sama lainnya? Bagaimana mungkin sementara ketulusan itu merupakan kunci sebuah kemajuan.  Sebab-sebab kecemburuan profesi
a)                   Kehilangan pandangan yang komprehensif
b)                  Kritik yang keras
c)                   Manajemen yang buruk
Pemimpin yang bijak adalah pemimpin yang baik dalam membantu setiap orang dalam tim kerjanya untuk mencapai tujuannya, serta baik dalam meramu jadwal-jadwal ini untuk menyalurkan kemampuan-kemampaun yang ada. Juga direktur yang baik dalam membentuk sebuah manajemen, akan selalu waspada dalam berbicara agar tidak terlalu memuji sosok bawahan tertentu atau menjatuhkan sosok yang lain ke level yang paling bawah.
d)                  Lemah dalam pengawasan
Barbagai penyakit muncul dalam sebuah lingkungan kerja akibat lemahnya sebuah pengawasan. Pengawasan yang efektif merupaka sinyal kuat yang membuat kita mampu mengenali diri kita yang akan menjadi sebab-sebab penyelewengan.
Terbentuknya atau berubahnya sikap juga dipengaruhi oleh faktor-faktor yang dapat diklasifikasikan sebagai faktor intern dan ekstern.
Faktor intern yang berpengaruh kepada pembentukan dan perubahan sikap adalah hal-hal yang terdapat dalam diri seseorang. Antra lain adalah: selektivitas seseorang dalam merespon objek-objek yang terdapat diluar dirinya atau dilingkungannya. Dalam melakukan pilihan di antara sekian banyak objek di lingkungannya, sikapnya itu di tentukan ole motif-motif dan siksp-sikap yang terlebih dahulu ada di dlam dirinya.
Faktor ekstern yang berpengaruh kepada pembentukan dan perubahan sikap adalah orang-orang, hal-hal atau peristiwa-peristiwa sebagai obyek ke arah mana sikap itu tertuju, sejauh mana pengaruh obyek tersebut tergantung pada obyek itu an situasi pada saat terjadinya proses pertautan antara sikap dengan obyek bersangkutan.
1.      Komunikasi dan Perubahan Sikap
Sikap tumbuh dari pengalaman: Jika sikap berubah maka individual mesti memiliki pengalaman baru yang relevan dengna perubahan sikap yang diinginkan. Perubahan sikap dapat terjadi melalui komunaksi antar individu dengan orang-orang lainnya, sehingga menimbulkan perubahan cara berpikir dan cara merasakan sesuatu. karena beberapa faktor:
a.       Presdiposisi yang dimiliki oleh individu yakni sikap yang dimilikinya yang membawanya ke situasi dalam proses komunikasi atau belajar.
b.      Faktor kepribadian juga turut mempengaruhi terjadinya perubahan sikap.
c.       Prinsip-prinsip belajar sehingga diperolehnya konsep, prinsip, fakta dan ide.
d.      Peran serta individu dalam kegiatan komunikasi itu, misalnya keaktifan dalam komunikasi dalam diskusi.
Sikap bukan merupakan pembawaan, melainkan terbentuk dalam kontak antara seseorang dengan obyek yang ada di lingkungannya. Adakalnya tingkah laku seseorang bertentangan dengan sikapnya. Misalnya, seorang karyawan karena satu dan lain hal menaruh rasa benci kepada atasnnya (itu sikapnya), tetapi di depan mata atasannya ia bekerja sungguh-sungguh  (itu tingkah lakunya). Begitu atasannya pergi. Ia bermalas malasan, ketika atasannya kembali, ia bekerja lagi dengan tekun. Dengan sikapnya yang membenci atasannya itu, si karyawan tadi bertingkah laku semua untuk memperoleh keuntungan tertentu, misalnya pujian atau kenaikan pangn ekkat.
            Ada beberapa karakteristik komunikasi yang mempengaruhi perubahan sikap, ialah:
1)      Pengaruh penampilan yang menimbulkan kecemasan
penampilan komunikator yang dapat menimbulkan rasa cemas, khawatir, atau ketakutan kepada penerima pesan hanya memberikan pengaruh minimal terhadap perubahan sikap individu. Di sisi lain, jika penampilan itu dilaksanakan dengan emosi yang kuat maka pengaruhnya terbatas, dan dengan cara persuasif ternyata lebih besar pengaruhnya terhadap perubahan sikap  si penerima pesan.
2)      Pengaruh argumen-argumen pesan
penyajian informasi yang berhati-hati yang dilandasi oleh argumen-argumen yang logis serta ditunjang oleh bukti berdasarkan data yang aktual ternyata memberikan pengaruh yang besar terhadap perubahan sikap. Berbeda halnya, andaikata fakta-fakta yang digunakan bertentangan dengan sikap dan tidak mendukung perubahan sikap.
3)      Pengaruh keanggotaan kelompok
Keanggotaan kelompok dapat mempengaruhi sikap kelompok pada tingkat minimal. Pengaruh tersebut kurang jika kelompok berpijak dan memiliki nilai-nilai yang lebih tinggi. Sebaliknya, sikap anggota kelompok dapat diubah berkat pengaruh personal lainnya, sehingga anggota bersangkutan mau meningglkan kelompoknya.
4)      Pengaruh keterlibatan pribadi (Personal)
Keterlibatan individu yang sikapnya hendak diubah dalam proses yang ditempuh untuk menghasilkan perubahan sikapnya berpengaruh nyata melalui peran serta aktif dalam proses tersebut. Dalam berperan serta itu individu langsung berbicara menyajikan informasi, bertindak sebagai komunikator informasi dalam bentuk bermain peran,dalam keadaan dia sudah mulai bersikap dan berperasaan seperti yang dituangkan dalam peran tersebut.

5)      Keakraban dalam kelompok
Produk kerja sama adalah bertambahnya rasa keakraban dalam kelompok. Keakraban dalam kelompok menitikberatkan pada kebersamaan, “ke-kitaan” bukan “ke-akuan”.
Konsep ini penting dan psikologi manajemen dan merupakan landasan untuk membina sikap kebersamaan dan daya tarik dalam kelompok. Keakraban ini terbentuk dan berkembang berkat faktor-faktor, sebagai berikut:
a)      Interaksi persahabatan; terjadinya interaksi antara individu satu dengan yang lainnya sehingga terpupuk rasa persahabatn diantara para anggota kelompok.
b)      Kerjasama; lebih banyak kerja kelompok dilaksanakan untuk mencapai tujuan bersama, maka lebih berkembang keakraban dalam kelompok.
c)      Tipe kepemimpinan; keakraban kelopmpok akan  lebih besar jika kepemimpinan dilaksanakan secara demokratis.
d)     Kehadiran orang luar; keakraban kelompok akan bertambah jika ada orang atau pihak luar masuk ke dalam kelompok itu.
e)      Kedudukan kelompok; kedudukan kelompok juga berpenagruh pada derajat keakraban kelompok.

C.   CARA MENGATASI PERUBAHAN SIKAP
Dalam menghadapi perubahan sikap ini, khususnya yang sering terlihat diantara para karyawan perusahaan/instansi perlu mencari cara penyelesaiannya. Agar proses kerja perusahaan berjalan dengan baik demi tercapainya tujuan perusahaan. Adapun pendekatan-pendekatan manajemen yang dapat dilakukan antara lain:
1)      Pendekatan Berdasarkan Kelakuan Antar Individu (Interpersonal Behavior Approach)
Melakukan pendekatan berdasarkan hubungan antar manusia, yakni tingkah laku hubungan manajer dan bawahan dan tingkah laku bawahan dengan manajer sebagai manusia. Jelasnya pendekatan yang dipelajari dari sudut “tingkah laku hubungan antarkaryawan perusahaan”. Manajer harus menyadari bahwa manajemen tidaklah dilakukan sendiri, justru manajer harus mampu membuat bawahan melakukannya, berdedikasi dan berartisipasi tinggi pada tugas-tugasnya. Pendekatan ini mencakup “human relation, motivasi, perilaku manusia dan psikologi”.
2)      Pendekatan Berdasarkan Kelakuan Kelompok (Group Behavior Approach)
Dalam pendekatan ini dipelajari dari psikologi sosial suatu studi pola budaya mengenai susunan tingkah laku kelompok manusia, yang diartikan sebagai sistem, pola hubungan manusia antar kelompok.
3)      Pendekatan Sistem Kerja Sama Sosial (Cooperative Social System Approach)
Dalam pendekatan ini meliputi :
a)      Limitasi physic (limitasi alam); untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, ia harus selalu berhubungan dengan alam. Misalnya, untuk memenuhi kebutuhan akan makanan, manusia harus menanam dan dilakukan bersama-sama dengan orang lain.
b)      Limitasi psychologi (ilmu jiwa); dilihat dari aspek ilmu jiwa selalu ingin dihargai, ingin dipuji, ingin dihormati, karena itu manusia terdorong untuk selalu bekerja sama.
c)      Limitasi sociology (limitasi sosial)
d)      Limitasi biologyads
4)      Pendekatan Sumber Daya Manusia (Human Resources/Supportive Approach)
Pendekatan ini dipelajari berdasarkan sumber daya manusia sebagai kajian atau tinjauan. Pendekatan SDM ini diteliti mengenai masalah-masalah individu, kelompok kerja, lingkungan kerja, dan motivasi-motivasi yang dapat meningkatkan produktivitas kerja dari SDM ini.



BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN

Sikap adalah proses orientasi yakni proses yang memungkinkan seseorang berinteraksi secara selektif dengan lingkungannya, dengan sikap itu seseorang akan berorientasi untuk melakukan suatu perbuatan yang serasi dengan sikapnya.
Jadi, Perubahan Sikap adalah suatu gejala yang kompleks yang berkaitan dengan individu-individu di dalam lingkungan kerja baik lembaga, atau  perusahaan.
Faktor-faktor terjadinya perubahan sikap
·         Ketidakpuasaan terhadap jabatan/kedudukan yang diberikan
·         Mendapatkan tekanan; (keluarga, kerabat, sahabat, orang tua, piminan/manajer)
·         Kejenuhan dalam bekerja
·         Pergeseran kelompok referensi
·         Kebutuhan masing-masing individu
·         Kecemburuan profesi. Adanya kecemburuan profesi
cara mengatasi perubahan sikap
Dalam menghadapi perubahan sikap ini, khususnya yang sering terlihat diantara para karyawan perusahaan/instansi perlu mencari cara penyelesaiannya. Agar proses kerja perusahaan berjalan dengan baik demi tercapainya tujuan perusahaan. Adapun pendekatan-pendekatan manajemen yang dapat dilakukan antara lain:
·         Pendekatan Berdasarkan Kelakuan Antar Individu (Interpersonal Behavior Approach)
·         Pendekatan Berdasarkan Kelakuan Kelompok (Group Behavior Approach)
·         Pendekatan Sistem Kerja Sama Sosial (Cooperative Social System Approach)
·         Pendekatan Sumber Daya Manusia (Human Resources/Supportive Approach)


DAFTAR PUSTAKA
Winardi, J., Manajemen Perubahan, Jakarta: Kencana, 2008.
Onong Uchjana E, Psikologi Manajemen dan Administrasi, Bandung: Mandar Maju, 1989.
Ahmad Abdul Jawwad, Manajemen Melawan Arus, Jakarta: Bening Publishing, 2004.
Brian Clegg, Instant Motivation, Jakarta: Erlangga, 2001.
Malayu S.P. Hasibuan, Manajemen “Dasar, Pengertian, dan Masalah”, cet. 5-Jakarta: Bumi Aksara, 2006.
            Oemar Hamalik, Psikologi Manajemen, Bandung: Trigenda Karya, 1993.

0 komentar:

Poskan Komentar