Makalah Mukzizat


BAB I
PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang Masalah
Sekolah sebagai institusi pendidikan yang berperan aktif menanamkan nilai-nilai kepada para peserta didik harus memberikan perhatian yang serius terhadap pendidikan ini. Penerapan pendidikan Al-Qur’an di sekolah maupun di pesantren harus melibatkan semua unsur yang terlibat didalamnya. Iklim sekolah maupun pesantren harus memberi peluang terjadinya interaksi positif antara peserta didik dengan pelajaran yang akan diinternalisasikan, baik melalui keteladanan personal, diskusi, maupun proses belajar mengajar dalam arti seluas-luasnya.
Pendidikan Al-Qur’an harus ditanamkan kepada peserta didik sebelum mencapai usia akhir pembentukan kepribadian pada usia 20 atau 21 tahun. jika melewati batas ini, sudah amat sulit memasukkan nilai-nilai tersebut karena harus membangun kembali kepribadian yang telah terbentuk ( reconstruction of personality ). Disinilah peran Al-Qur’an memegang peran penting karena mendidik perasaan manusia agar peka terhadap nilai-nilai akhlak yang luhur untuk diimplementasikan dalam kehidupan maupun kelompak.1
  1. Rumusan Masalah
Bagaimana pengertian dan pengetahuan tentang mukjizat Al-qur’an
  1. Tujuan Pembahasan
  1. Mengetahui pengertian dan pengetahuan mukjizat Al-qur’an
  2. Memahami macam-macam dan segi-segi mukjizat Al-qur’an
BAB I
PEMBAHASAN
  1. Pengertian Mukjizat
Kata “mukjizat” diambil dari bahasa Arab a’jaza-I’jaz yang berarti melemahkan atau menjadikan tidak mampu. Ini sejalan dengan firman Allah:

٠٠٠ ﺍﻋﺠﺰﺕ ﺍﻦ ﺍﻜﻭﻦ ﻤﺜﻝ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻐﺭﺍﺏ ﻔﺄﻮﺍﺭﻱ ﺴﻮﺍﺓ ﺍﺧﻲ٠٠٠ ﴿ﺍﻟﻤﺎﺌﺪﺓ ٣١﴾
Artinya:
“_mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini,lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” (QS. Al-Maidah: 31)
Pelakunya (yang melemahkan) dinamai mukjiz dan bila kemampuannya melemahkan pihak umat menonjol sehingga mampu menghubungkan lawan, ia dinamai “mukjizat”. Tambahan ta’marbhuthah pada akhir kata itu mengandung makna mubalaghah (superlatif).¹
Mukjizat didefinisikan oleh pakar agama Islam, antara lain adalah sebagai “suatu hal atau peristiwa luar biasa yang terjadi melalui seorang yang mengaku nabi, sebagai bukti kenabiannya yang ditantangkan hal pada orang-orang yang ragu, untuk melakukan atau mendatangkan hal serupa, tetapi mereka tidak mampu melayani tantangan itu”.² Dengan redaksi yang berbeda, mukjizat didefinisikan pula sebagai sesuatu luar biasa yang diperlihatkan Allah melalui para nabi dan rasul-Nya, sebagai bukti atas kebenaran pengakuan kenabian dan kerasulannya.³ Manna’ Al-Qaththan mendefinisikannya adalah:

ﺍﻤﺭ ﺧﺎﺭﻕ ﻟﻟﻌﺎﺪﺓ ﻤﻘﺮﻭﻦ ﺒﺎ ﻟﺘﺣﺪﻱ ﺴﺎﻟﻣ ﻋﻦ ﺍﻟﻣﻌﺎﺭﻀﺔ
Suatu kejadian yang keluar dari kebiasaan, disertai dengan unsure tantangan, dan tidak akan dapat ditandingi.”
Unsur-unsur yang terdapat pada mukjizat, sebagaimana dijelaskan oleh Quraish Shihab, adalah:
    1. Hal atau peristiwa yang luar biasa
    2. Terjadi atau dipaparkan oleh seorang yang mengaku Nabi
    3. Mengandung tantangan terhadap yang meragukan kenabian
    4. Tantangan tersebut tidak mampu atau gagal dilayani
Al-Quran digunakan oleh Nabi Muhammad SAW. untuk menantang orang-orang pada masa beliau dan generasi sesudahnya yang tidak percaya terhadap kebenaran Al-Quran sebagai firman Allah (bukan ciptaan Muhammad) dan risalah serta ajaran yang dibawanya. Terhadap mereka sungguh pun mereka memiliki tingkat fashahah dan balaghah sedemikian tinggi di bidang bahasa Arab, Nabi meminta mereka untuk menandingi Al-Quran dalam tiga tahapan:

      1. Mendatangkan semisal Al-Quran secara keseluruhan, sebagaimana dijelaskan pada surat Al-Isra’ ayat 88.
      2. Mendatangkan sepuluh surat yang menyamai surat-surat yang ada dalam Al-Quran, sebagaimana dijelaskan pada surat Hud ayat 13.
      3. Mendatangkan satu surat saja yang menyamai surat-surat yang ada dalam Al-Quran, sebagaimana dijelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 23.
Untuk lebih meyakini akan kebenaran Al-Quran sebagai wahyu dari Allah, bukan ciptaan Muhammad, dapat pula diketahui dari keadaan Nabi yang tidak pandai membaca dan menulis. Beliau juga tidak hidup dan bermukim di tengah-tengah masyarakat yang relatif telah mengenal peradaban, seperti Mesir, Persia, atau Romawi.
Beliau dibesarkan dan hhidup di tengah-tengah kaum yang oleh beliau sendiri dilukiskan sebagai:
ﺇﻦ ﺃﻣﺔ ﻻ ﻨﻜﺘﺐ ﻭﻻ ﻨﺤﺴﺏ2
Artinya: “kami umat yang tidak (dapat) menulis dan berhitung.”
Al-Quran sendiri juga menyatakan bahwa seandainya Muhammad dapat membaca atau menulis, pastilah akan ada yang meragukan kenabian beliau:

ﻭ ﻤﺎ ﻜﻨﺕ ﺘﺘﻟﻭﺍ ﻤﻥ ﻗﺒﻟﻪ ﻤﻥ ﻜﺘﺐ ﻭ ﻻ ﺘﺨﻃﻪ ﺒﻴﻤﻴﻨﻙ ﺍﺬ ﺍﻻﺭ ﺗﺎﺐ ﺍﻟﻤﺒﻃﻟﻭﻦ
Artinya:
dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al-Quran) suatu kitab pun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu; andai kata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang-orang yang mengikari (mu).” (QS. Al-‘Ankabut:48)
Di samping itu, apa yang keluar dari mulut Nabi terdiri atas bahasa hadits dan Al-Quran. Bahasa Al-Quran terkenal mempunyai nilai sastra yang tertinggi bila dibandingkan dengan bahasa hadits, sehingga untuk menyusunnya sudah tentu dibutuhkan waktu yang relatif lama untuk berpikir dan merenung. Sebagaimana seorang penyair yang ingin mengubah syair-syairnya agar bernilai tinggi kandungan syairnyapun membutuhkan waktu yang relatif lama untuk berfikir, merenung, berimajinasi, dan sebagainya. Al-Quran sering kali tuun secara spontan (keluar dari mulut Nabi) guna menjawab pertanyaan atau mengomentari suatu peristiwa. Oleh karena itu, tidak mungkin Al-Quran diciptakan Muhammad.

  1. Macam-macam Mukjizat
Secara garis besar, mukjizat dapatdibagi dalam dua bagian pokok, yaitu mukjizat yang bersifat material indrawi yang tidak kekal dan mukjizat imaterial, logis, yang dapat dibuktikan sepanjang masa. Mukjizat nabi-nabi terdahulu merupakan jenis pertama. Mukjizat mereka bersifat material dan indrawi dalam artian keluarbiasaan tersebut dapat disaksikan atau dijangkau langsung melalui indra oleh masyarakat tempat nabi tersebut menyampaikan risalahnya.

      1. Mendatangkan semisal Al-Quran secara keseluruhan, sebagaimana dijelaskan pada surat Al-Isra’ ayat 88.
      2. Mendatangkan sepuluh surat yang menyamai surat-surat yang ada dalam Al-Quran, sebagaimana dijelaskan pada surat Hud ayat 13.
      3. Mendatangkan satu surat saja yang menyamai surat-surat yang ada dalam Al-Quran, sebagaimana dijelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 23.
Untuk lebih meyakini akan kebenaran Al-Quran sebagai wahyu dari Allah, bukan ciptaan Muhammad, dapat pula diketahui dari keadaan Nabi yang tidak pandai membaca dan menulis. Beliau juga tidak hidup dan bermukim di tengah-tengah masyarakat yang relatif telah mengenal peradaban, seperti Mesir, Persia, atau Romawi. Beliau dibesarkan dan hhidup di tengah-tengah kaum yang oleh beliau sendiri dilukiskan sebagai:

ﺇﻦ ﺃﻣﺔ ﻻ ﻨﻜﺘﺐ ﻭﻻ ﻨﺤﺴﺏ
Artinya: “kami umat yang tidak (dapat) menulis dan berhitung.”
Al-Quran sendiri juga menyatakan bahwa seandainya Muhammad dapat membaca atau menulis, pastilah akan ada yang meragukan kenabian beliau:

ﻭ ﻤﺎ ﻜﻨﺕ ﺘﺘﻟﻭﺍ ﻤﻥ ﻗﺒﻟﻪ ﻤﻥ ﻜﺘﺐ ﻭ ﻻ ﺘﺨﻃﻪ ﺒﻴﻤﻴﻨﻙ ﺍﺬ ﺍﻻﺭ ﺗﺎﺐ ﺍﻟﻤﺒﻃﻟﻭﻦ
Artinya:3
dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al-Quran) suatu kitab pun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu; andai kata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang-orang yang mengikari (mu).” (QS. Al-‘Ankabut:48)
Di samping itu, apa yang keluar dari mulut Nabi terdiri atas bahasa hadits dan Al-Quran. Bahasa Al-Quran terkenal mempunyai nilai sastra yang tertinggi bila dibandingkan dengan bahasa hadits, sehingga untuk menyusunnya sudah tentu dibutuhkan waktu yang relatif lama untuk berpikir dan merenung. Sebagaimana seorang penyair yang ingin mengubah syair-syairnya agar bernilai tinggi kandungan syairnyapun membutuhkan waktu yang relatif lama untuk berfikir, merenung, berimajinasi, dan sebagainya. Al-Quran sering kali tuun secara spontan (keluar dari mulut Nabi) guna menjawab pertanyaan atau mengomentari suatu peristiwa. Oleh karena itu, tidak mungkin Al-Quran diciptakan Muhammad.
  1. Kajian mu’jijat Al-Quran
Salah satu objek penting lainnya dalam kajian “Ulum Al-Qur’an adalah perbincangan mengenai mukjizat. Persoalan mukjizat, terutama mukjizat Al-Qur’an, sempat menyeret para teolog klasik dalam perdebatan perbedssn ysng berkepanjangan, terutama para teolog dari kalangan Ahlussunnah mengenai konsep”shirfah” sebagaimana yang akan diterangkan lebih lanjut.
Dengan perantaraan mukjizat, Allah menginginkan manusia bahwa para Rasul adalah utusannya yang mendapat dukungan dan bantuan dari langit. Mukjizat yang telah diberikan kepada para Nabi mempunyai fungsi yang sama, yaitu untuk memainkan perannya dalam mengatasi kepandaian kaumnya, disampin membuktikan bahwa kekuasaan Allah diatas segala-galanya.
Suatu umat yang tinggi pengetahuannya dalam ilmu kedokteran, misalnya, n tidak wajar dituntut dan diarahkan dengan mukjizat dan ilu tata bahasa . begitu pula sebaliknya. Tuntunan dan pengarahan yang ditunjukan kepada suatu umat harus berkaitan yang mereka ketahui. Tujuannya adalah tuntunan dan pengarahan Allah itu bermakna. Di situlah, letak nilai mukjizat yang telah diberikan kepada para nabi.
Setiap Nabi yang diutus Allah selalu dibekali mukjizat. Diantara fungsi mukjizat adalah meakinkan yang ragu dan tidak percaya terhadap apa yang telah dibawa ole Nabi tersebut. Mukjizat ini selalu dikaitkan dengan perkembangan dan keahlian masyarakt yang telah dihadapi tiap-tiap Nabi.4
  1. Hukum Ilahi yang sempurna
Al-Quran menjelaskan pokok-pokok akidah, norma-norma keutamaan, sopan-santun, undang-undang ekonomi, politik, sosial dan kemasyarakatan, serta hokum-hukum ibadah. Apabila memperhatikan pokok-pokok ibadah, kita akan memperoleh kenyataan bahwa Islam telah memperluasnya dan menganekaragamkan serta meramunya menjadi ibadah amaliyah, seperti zakat dan sedekah. Ada juga yang berupa ibadah amaliyah sekaligus ibadah badaniyah, seperti berjuang di jalan Allah.
Tentang akidah, Al-Quran mengajak umat manusia pada akidah yang suci dan tingggi, yakni beriman kepada Allah yang Mahaagung; menyatakan adanya nabi dan rasul serta memercayai semua kitab samawi.¹⁰
Dalam bidang undang-undang, Al-Quran telah menetapkan kaidah-kaidah mengenai perdata, pidana politik, dan ekonomi. Mengenai hubungan internasional, Al-Quran telah menetapkan dasar-dasarnya yang paling sempurna dan adil, baik dalam keadaan damai ataupun perang. Al-Quran menggunakan dua cara tatkala menetapkan sebuah ketentuan hukum, yaitu:
          1. Secara global
Persoalan ibadah umumnya diterangkan secara global, sedangkan perinciannya diserahkan kepada para ulama melalui ijtihad.
          1. Secara terperinci
Hukum yang dijelaskan secara terperinci adalah yang berkaitan dengan utang-piutang, makanan yang halal dan yang haram, memelihara kehormatan wanita, dan masalah perkawinan.
      1. Ketelitian redaksinya
          1. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan antonimnya. Beberapa contoh, di antaranya:
Al-hayah” {hidup} dan “al-maut” {mati}, masing-masing 145 kali;
An-naf” {manfaat} dan “al-madharah” {mudarat}, masing-masing 50 kali;
Al-har” {panas} dan “al-bard” {dingin}, masing-masing 4 kali;
Ash-Shayf” {musim panas} dan “Asy-Syita” {musim dingin}, masing-masing 1 kali.
          1. Keseimbangan jumlah bilangan kata dengan sinonimnya/makna yang dikandungnya.
Al-harts” dan “az-zira’ah” {membajak/bertani}, masing-masing 14 kali;
Al-‘Ushb” dan “adh-dhurur” {membanggakan diri/angkuh}, masing-masing 27 kalil;
Adh-dhalum” dan “al-mawta” {orang sesat/mati jiwanya}, masing-masing 70 kali.
          1. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan jumlah kata yang menunjukkan kepada akibatnya.
Al-infaq” (infaq) dengan “ar-ridha” (kerelaan), masing-masing 73 kali;
Al-bukhl” (kekikiran) dengan “al-hasarah” (penyesalan), masing-masing 12 kali;
al-kafirun” (orang-orang kafir) dengan “an-nar/al-ahraq” (neraka/pembakaran), masing-masing 154 kali.
          1. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan kata penyebabnya.
Al-israf” (pemborosan) dengan “as-sur’ah” (ketergesaan), masing-masing 23 kali;
Al-maq’izhah” (masihat/petuah) dengan “al-ihsan” (lidah), masing-masing 25 kali;
al-asra” (tawanan) dengan “al-harb” (perang), masing-masing 6 kali.
as-salam” (kedamaian) dengan “at-hayyibat” (kebijakan), masing-masing 60 kali.
          1. Di samping keseimbangan-keseimbangan tersebut, ditemukan juga keseimbangan khusus.
Kata “Yawm” (hari) dalam bentuk tunggal sejumlah 365 kali, sebanyak hari-hari dalam setahun, sedangkan kata hari yang menunjuk pada bentuk plural (“ayyam”) atau (“yawmayni”), jumlah keseluruhannya hanya tiga puluh, sama dengan jumlah hari dalam sebulan. Di sisi lain, kata yang berarti “bulan” (“syahr”) hanya terdapat dua belas kali, sama dengan jumlah bulan dalam setahun.
Kata-kata yang mennjuk kepada utusan Tuhan, baik rasul atau nabi atau “basyir” (pembawa berita gembira) atau “nadzir” (pemberi peringatan), kesemuanya berjumlah 518 kali. Jumlah ini seimbang dengan jumlah penyebutan nama-nama nabi, rasul, dan pembawa berita yakni 518 kali.¹¹5
      1. Berita tentang hal-hal yang ghaib
Sebagian ulama mengatakan bahwa sebagian mukjizat Al-Quran itu adalah berita-berita gaibin Firaun, yang mengejar-gejar Nabi Musa, diceritakan dalam surat Yunus ayat 92.

ﻔﺎ ﻠﻴﻮﻡ ﻨﻨﺠﻴﻚ ﺒﺒﺪ ﻨﻙ ﺘﻛﻭﻦ ﻠﻤﻥ ﺧﻠﻔﻙ ﺍﻳﺔۗ ﻭﺍﻦ ﻜﺸﻳﺭﺍ ﻤﻥ ﺍﻠﻨﺎﺱ ﻋﻦ ﺍﻳﺘﻨﺎ ﻟﻐﻔﻟﻮﻦ ﴿ﻴﻮﻨﺲ ٩٢﴾
Artinya:
maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kau dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang dating sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” (QS. Yunus : 92)
Berita-berita gaib yang terdapat pada wahyu Allah, yaitu turat, injil, dan Al-Quran, merupakan mukjizat.¹² Berita gaib dalam wahyu Allah itu membuat manusia takjub karena akal manusia tidak sampai kepada hal-hal tersebut. Salah satu mukjizat Al-Quran adalah bahwa di dalamnya banyak sekali terdapat ungkapan dan keterangan yang rahasianya baru terungkap oleh ilmu pengetahuan dan sejarah pada akhir abad ini, makna yang terkandung di dalamnya sama sekali tidak terbayangkan oleh pikiran orang yang hidup pada masa Al-Quran diturunkan.¹³
      1. Isyarat-isyarat ilmiah
Banyak sekali isyarat ilmiah yang ditemukan dalam Al-Quran. Misalnya:¹⁴
          1. Cahaya matahari bersumber dari dirinya dan cahaya bulan merupakan pantulan. Terdapat dalam surat Yunus ayat 5.
          2. Kurangnya oksigen pada ketinggian dapat menyesakkan napas. Hal ini diisyaratkan dalam surat Al-an’am ayat 125.
          3. Perbedaan sidik jari manusia, hal ini dijelaskan dalam surat Al-qiyamah ayat 4.
          4. Aroma/bau manusia berbeda-beda, dijelaskan dalam surat Yusuf ayat 94.
          5. Masa penyusuan ideal dan masa kehamilan minimal, sebagaimana dijelaskan dalam surat al-baqarah ayat 233.
          6. Adanya nurani (superego) dan bawah sadar manusia, dijelaskan dalam surat al-qiyamah ayat 14-15.
          7. Yang merasakan sakit adalah kulit. Dijelaskan dalam surat An-nisa’ ayat 56.
  1. Perbedaan Pendapat di Kalangan Ulama
Para ulama berbeda pendapat tentang ketidakmampuan manusia menandingi Al-Quran dari aspek bahasa. Pendapat pertama mengatakan bahwa ketidakmampuan manusia itu karena ketinggian dan keindahan susunan bahasa (balaghah)-nya. Tokoh dari para ulama ini adalah As-Suyuthi.
Pendapat kedua mengatakan bahwa ketidakmampuan manusia menandingi Al-Quran karena shirfah, yakni Allah memalingkan manusia untuk tidak menentang Al-Quran atau menghilangkan kemampuan manusia untuk menandingi Al-Quran. Tokohnya adalah An-Nadzham.
Pendapat ketiga mengatakan bahwa segi kemukjizatan Al-Quran adalah sesuatu yang terkandung di dalam Al-Quran itu sendiri, yaitu susunan yang tersendiri dan berbeda dengan bentuk puisi orang Arab maupun prosanya, baik dalam permulaanya, suku kalimatnya maupun dalam pungtuasinya.¹
Pendapat keempat mengatakan bahwa segi kemukjizatan itu terkandung dalam kata-katanya yang jelas, redaksinya yang bernilai sastra, dan susunannya yang indah karena nilai sastra yang terkandung dalam Al-Quran itu sangat tinggi dan tidak ada bandingnya.
BAB III
PENUTUP
  1. Kesimpulan
Mukjizat Al-qur’an adalah sebagai suatu hal atau peristiwa luar biasa yang teradi melalui seseorang yang mengaku nabi , sebagai bukti kenabiannya yang ditangtangkan kepada yang rag, untuk melakukan atau mendatngkan hal serupa, tetapi mereka tidak mampu melayani tantangan itu.
Mukjizat adalah suatu kejadian yang keluar dari kebiasaan, disertai dengan unsur tantangan dan tidak akan dapat ditandingi.
Dan harus kita ketahui bahwa Al-qur’an adalah pedoman bagi semua umat islam dan patut untuk diamalkannya.
1 . Syaikh Mutawali Asy-Sya’rawi, Mukjizat Al-Qur’an, terj, Bungkul indah, 1995, hlm. 3.
. Harum Nasution, et.al. Ensiklopedi Islam Indonesia, Djambatan, Jakarta, 1992, hlm, 794-795.
2 M. Quraish Shihab, Mukjizat Al-Quran, Mizan, Bandung, 1997, hlm. 23.
ibid
Said Agil Husain Al-Munawwar, I’jaz Al-Quran dan Metodologi Tafsir, Dimas, Semarang, 1994, hlm.
Manna’ Al-Qaththan, Mabahits fi ‘Ulum Al-Quran, Mansyurat Al-‘Ashr al-Hadits, ttp., 1973, hlm 259.
3 Shihab, Mukjizat. . . . , hlm. 35.
4 Quraish Syihab, Membumikan Al-Quran, Mizan, Bandung, 1992, hlm. 23.
Subhi Shalih, Mabahits fi ‘Ulum Al-Quran, Dar Al-‘Ilm li Al-Malaya, Beirut, 1988, hlm. 320.
Ash-Shabuni, op. cit., hlm. 198.
5 Shihab, Membumikan…, hlm. 29-31.
Jalal Ad-Din As-Suyuthi, Al-Itqan fi ‘Ulum Al-Quran, Dar Al-Fikr, Beirut, t.t., hlm. 124.
Ridha, op. cit., hlm. 610.
Ibid., hlm. 190-191.



0 komentar:

Poskan Komentar