Fungsi dan Peran Pemimpin dalam Organisasi Dakwah

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Pemimpin merupakan faktor penentu dalam meraih sukses bagi sebuah organisasi. Sebab pemimpin yang sukses akan mampu mengelola organisasi, dapat memengaruhi orang lain secara konstruktif, dan mampu menunjukkan jalan serta tindakan benar yang harus dilakukkan secara bersama-sama. Seorang pemimpin mutlak harus ada dalam sebuah organisasi, karena organisasi tidak akan bisa berjalan dengan sendirinya tanpa adanya seorang pemimpin yang menggerakkan organisasi tersebut. Peran pemimpin juga sangat memengaruhi dalam menentukan nasib organisasi tersebut, apakah organisasi tersebut akan sukses atau tidak salah satunya tergantung pada peran pemimpin sebagai pengendali dalam sebuah organisasi. B. RUMUSAN MASALAH Dari uraian di atas akan menimbulkan rumusan masalah sebagai berikut: 1. Apakah fungsi pemimpin dalam organisasi dakwah? 2. Bagaimana peran pemimpin dalam organisasi dakwah ? C. MAKSUD DAN TUJUAN PENULISAN Makalah yang berjudul Peran dan Fungsi Pemimpin dalam Organisasi Dakwah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas dari mata kuliah Dasar-dasar Manajemen Dakwah. Selain itu dengan penyusunan makalah ini diharapkan agar mahasiswa mampu memahami makna dan maksud serta mengambil kesimpulan dari materi yang dijelaskan dalam makalah ini. BAB II PEMBAHASAN 1. PENGERTIAN PEMIMPIN Dalam bahasa Indonesia “pemimpin” sering disebut penghulu, pemuka, pelopor, pembina, panutan, pembimbing, pengurus, penggerak, ketua, kepala, penuntun, raja, tua-tua, dan sebagainya. Pemimpin adalah suatu lakon atau peran dalam sistem tertentu, karenanya seorang dalam peran formal belum tentu memiliki keterampilan kepemimpinan dan belum tentu mampu memimpin. Pengertian pemimpin menurut sudut pandang Islam adalah sebuah amanah yang harus di emban dengan sebaik-baiknya, dengan penuh tanggung jawab, professional, dan keikhlasan. Sebagai konsekuensinya pemimpin harus mempunyai sifat amanah, professional dan juga memiliki sifat tanggung jawab. Sebagaimana dalam al-Qur’an Q.S al-Mu’minun: 8-11:                   •     8. dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. 9. dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. 10. mereka Itulah orang-orang yang akan mewarisi, 11. (yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. mereka kekal di dalamnya. Definisi pemimpin menurut para ahli dan dalam beberapa kamus modern, diantaranya: 1. Robert Tanembaum Pemimpin adalah mereka yang menggunakan wewenang formal untuk mengorganisasikan, mengarahkan dan mengontrol para bawahan yang bertanggungjawab, supaya semua bagian pekerjaan dikoordinasikan demi mencapai tujuan perusahaan. 2. Miftha Thoha dalam bukunya perilaku organisasi (1983: 255) Pemimpin adalah seseorang yang memiliki kemampuan memimpin, artinya urukemampuan untuk mempengaruhi orang lain atau kelompok tanpa mengindahkan bentuk alasannya. 3. Kartini Kartono (1994. 33) Pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan khususnya kecakapan dan kelebihan khususnya kecakapan dan kelebihan disatu bidang, sehingga dia mampu mempengaruhi orang-orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu, demi pencapaian satu atau beberapa tujuan. 4. Drs. H. Malayu S.P Hasibuan Pemimpin adalah seseorang dengan wewenang kepemimpinannya mengarahkan bawahannya untuk mengerjakan sebagian dari pekerjaannya dalam mencapai tujuan. 5. Menurut Pancasila Seorang pemimpin harus bersikap sebagai pengasuh yang mendorong, menuntun dan membimbing asuhannya. Dengan kata lain beberapa asas utama dari Kepemimpinan Pancasila adalah: Ing ngarsa sung tuladha: seorang pemimpin harus mampu dengan sifat dan dan perbuatannya menjadikan dirinya pola anutan dan ikutan bagi orang-orang yang dipimpinnya. Ing madya magun karsa: seorang pemimpin harus mampu membangkitkan semangat berswakarsa dan berkreasi pada orang-orang yang dibimbingnya. Tut wuri handayani: seorang pemimpin harus mampu mendorong orang-orang yang diasuhnya berani berjalan di depan dan sanggup bertanggung jawab. 2. FUNGSI PEMIMPIN DALAM ORGANISASI DAKWAH Fungsi pemimpin dalam suatu organisasi tidak dapat dibantah merupakan sesuatu fungsi yang sangat penting bagi keberadaan dan kemajuan organisasi yang bersangkutan. Pada dasarnya fungsi kepemimpinan memiliki 2 aspek yaitu : a. Fungsi administrasi, yakni mengadakan formulasi kebijaksanaan administrasi dan menyediakan fasilitasnya. b. Fungsi sebagai Top Manajemen, yakni mengadakan planning, organizing, staffing, directing, commanding, controling, dsb. Fungsi kepemimpinan menurut Hadari Nawawi memiliki dua dimensi yaitu: 1. Dimensi yang berhubungan dengan tingkat kemampuan mengarahkan dalam tindakan atau aktifitas pemimpin, yang terlihat pada tanggapan orang-orang yang dipimpinya. 2. Dimensi yang berkenaan dengan tingkat dukungan atau keterlibatan orang-orang yang dipimpin dalam melaksnakan tugas-tugas pokok kelompok atau organisasi, yang dijabarkan dan dimanifestasikan melalui keputusan-keputusan dan kebijakan pemimpin. Sehubungan dengan kedua dimensi tersebut, menurut Hadari Nawawi, secara operasional dapat dibedakan lima fungsi pokok kepemimpinan, yaitu: 1. Fungsi Instruktif Pemimpin berfungsi sebagai komunikator yang menentukan apa (isi perintah), bagaimana (cara mengerjakan perintah), bilamana (waktu memulai, melaksanakan dan melaporkan hasilnya), dan dimana (tempat mengerjakan perintah) agar keputusan dapat diwujudkan secara efektif. Sehingga fungsi orang yang dipimpin hanyalah melaksanakan perintah. 2. Fungsi konsultatif Pemimpin dapat menggunakan fungsi konsultatif sebagai komunikasi dua arah. Hal tersebut digunakan manakala pemimpin dalam usaha menetapkan keputusan yang memerlukan bahan pertimbangan dan berkonsultasi dengan orang-orang yang dipimpinnya. 3. Fungsi Partisipasi Dalam menjaiankan fungsi partisipasi pemimpin berusaha mengaktifkan orang-orang yang dipimpinnya, baik dalam pengambilan keputusan maupun dalam melaksanakannya. Setiap anggota kelompok memperoleh kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam melaksanakan kegiatan yang dijabarkan dari tugas-tugas pokok, sesuai dengan posisi masing-masing. 4. Fungsi Delegasi Dalam menjalankan fungsi delegasi, pemimpin memberikan pelimpahan wewenang membuay atau menetapkan keputusan. Fungsi delegasi sebenarnya adalah kepercayaan ssorang pemimpin kepada orang yang diberi kepercayaan untuk pelimpahan wewenang dengan melaksanakannya secara bertanggungjawab. Fungsi pendelegasian ini, harus diwujudkan karena kemajuan dan perkembangan kelompok tidak mungkin diwujudkan oleh seorang pemimpin seorang diri. 5. Fungsi Pengendalian Fungsi pengendalian berasumsi bahwa kepemimpinan yang efektif harus mampu mengatur aktifitas anggotanya secara terarah dan dalam koordinasi yang efektif, sehingga memungkinkan tercapainya tujuan bersama secara maksimal. Dalam melaksanakan fungsi pengendalian, pemimpin dapat mewujudkan melalui kegiatan bimbingan, pengarahan, koordinasi, dan pengawasan. Selain itu, fungsi pemimpin dalam mempengaruhi dan mengarahkan individu atau kelompok bertujuan untuk membantu organisasi bergerak kearah pencapaian sasaran. Dengan demikian, inti kepemimpinan bukan pertama-tama terletak pada kedudukannya daiam organisasi, melainkan bagaimana pemimpin melaksanakan fungsinya sebagai pemimpin. Fungsi kepemimpinan yang hakiki adalah : 1. Selaku penentu arah yang akan ditempuh dalam usaha untuk pencapaian tujuan 2. Sebagai wakil dan juru bicara organisasi dalam hubungan dengan pihak luar. 3. Sebagai komunikator yang efektif. 4. Sebagai integrator yang efektif, rasional, objektif, dan netral. Fungsi pokok pimpinan adalah: 1. Memberikan kerangka pokok yang jelas yang dapat dijadikan pegangan oleh anggotanya. 2. Mengawasi, mengendalikan dan menyalurkan perilaku anggota yang dipimpin. 3. Bertindak sebagai wakil kelompok dalam berhubungan dengan dunia luar. Fungsi kepemimpinan itu pada pokoknya adalah menjalankan wewenang kepemimpinan, yaitu menyediakan suatu sistem komunikasi, memelihara kesediaan bekerja sama dan menjamin kelancaran serta keutuhan organisasi atau perusahaan. Fungsi-fungsi kepemimpinan meliputi kegiatan dan tindakan sebagai berikut: a. Pengambilan keputusan b. Pengembangan imajinasi c. Pendelegasian wewenang kepada bawahan d. Pengembangan kesetiaan para bawahan e. Pemrakarsaan, penggiatan dan pengendalian rencana-rencana f. Pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya g. Pelaksanaan keputusan dan pemberian dorongan kepada para pelaksana h. Pelaksanaan kontrol dan perbaikan kesalahan-kesalahan i. Pemberian tanda penghargaan kepada bawahan yang berprestasi j. Pertanggungjawaban semua tindakan 3. PERAN PEMIMPIN DALAM ORGANISASI DAKWAH Peranan dimaksudkan sebagai suatu rangkaian perilaku yang teratur, yang ditimbulkan karena suatu jabatan tertentu, atau karena adanya suatu f aktor yang mudah dikenal. Kepribadian seseorang amat memengaruhi bagaimana suatu organisasi atau lembaga akan dijalaninya. Peranan timbul karena seorang pemimpin atau manager memahami, bahwa ia sendiri tidak sendirian. Dia memiliki lingkingan yang setiap saat untuk berinteraksi dengan para anggotanya. Menurut Ichak Adizes, ada tiga peran seorang pemimpin dalam tugasnya, yaitu Pertama, peran hubungan antar pribadi [Interpersonal Role]; Kedua, peran yang berhubungan dengan informasi [Informational Role]; dan Ketiga, peran yang berhubungan dengan membuat keputusan [Decisional Role]. Oleh karena itu, pemimpin lembaga dakwah memiliki peran yang signifikan dalam pengembangan para da’i. Sikap dan ekspektasi mereka akan menciptakan suasana baik menumbuhkan profesionalisme, maupun melemahkannya. Pemimpin dakwah yag cerdas melihat in servis development sebagai proses pengembangan untuk para da’i agar belajar untuk melakukan pekerjaannya dengan lebih baik. Dan para pemimpin dakwah harus mampu menumbuhkan kekuatan dan meningkatkan kapabilitas para anggotanya. Pemimpin dalam lembaga dakwah harus mampu menciptakan sebuah inovasi dan perubahan dalam lembaganya agar tidak berjalan secara monoton. Namaun hal ini tidak berarti setiap pemimpin dakwah selalu melakukan inovasi, yang kadang kala justru dapat menghambat proses perubahan. Karena terjadi atau tidaknya pengembangan para da’i ini tergantung pada positifdn negatifnya pemimpin dakwah itu sendiri. Ada beberapa cara positif yang dilakukan oleh pemimpin dakwah untuk mengembangkan kemampuan para da’i, diantaranya Pertama, pemimpin dakwah harus memiliki waktu yang cukup untuk melakukan perencanaan dan pelatihan, Kedua, menghadiri program pelatihan dakwah tersendiri, Ketiga, menyediakan resources dan bantuan logistik serta prasrana lainnya, dan Keempat, adalah membuat kebijakan-kebijakan untuk mengenali dan menghargai individu-individu yang ingin berkembang. Namun cara yang terpenting untuk menunjukkan komitmen pada pengembangan para da’i adalah pemimpin dakwah itu sendiri harus menjadi figur yang kreatif dan inovatif dan selalu berusaha untuk belajar ilmu dan keterampilan yang kemudian dibuktikan dalam sebuah aktualisasi realistis. Di samping menunjukkan sebuah dukungan pada pengembangan anggotanya, pemimpin dkwah juga harus menganggap kesalahan-kesalahan sendiri atau orang lain merupakan peluang untuk kemajuan, bukan malah menyalahkannya sebagai hambatan. Para pemimpin organisasi dakwah juga harus menciptakan sebuah climate yang kondusif untuk pertumbuhan melalui proses perumusan dan menilai setiap perkembangan dan kemajuan. Peran pemimpin itu meliputi mengarahkan, mempengaruhi, dan memotivasi karyawan untuk melaksanakan tugas yang penting. Para manajer memimpin untuk membujuk orang lain supaya mau bergabung dengan mereka dalam mengejar masa depan yang muncul dari langkah merencanakan dan mengorganisasikan. Dengan menciptakan yang tepat, manajer membantu para karyawannya untuk bekerja sebaik mungkin. Menurut James A.F Stoner, tugas utama dan peran seorang pemimpin adalah: 1. Pemimpin bekerja dengan orang lain Seorang pemimpin bertanggung jawab untuk bekerja dengan orang lain, salah satu dengan atasannya, staf, teman sekerja atau atasan lain dalam organisasi sebaik orang diluar organisasi. 2. Pemimpin adalah tanggung jawab dan mempertanggungjawabkan (akontabilitas). Seorang pemimpin bertanggungjawab untuk menyusun tugas menjalankan tugas, mengadakan evaluasi, untuk mencapai outcome yang terbaik. Pemimpin bertanggung jawab untuk kesuksesan stafnya tanpa kegagalan. 3. Pemimpin menyeimbangkan pencapaian tujuan dan prioritas Proses kepemimpinan dibatasi sumber, jadi pemimpin harus dapat menyusun tugas dengan mendahulukan prioritas. Dalam upaya pencapaian tujuan pemimpin harus dapat mendelegasikan tugas-tugasnya kepada staf. Kemudian pemimpin harus dapat mengatur waktu secara efektif,dan menyelesaikan masalah secara efektif. 4. Pemimpin harus berpikir secara analitis dan konseptual Seorang pemimpin harus menjadi seorang pemikir yang analitis dan konseptual. Selanjutnya dapat mengidentifikasi masalah dengan akurat. Pemimpin harus dapat menguraikan seluruh pekerjaan menjadi lebih jelas dan kaitannya dengan pekerjaan lain. 5. Manajer adalah seorang mediator Konflik selalu terjadi pada setiap tim dan organisasi. Oleh karena itu, pemimpin harus dapat menjadi seorang mediator (penengah). 6. Pemimpin adalah politisi dan diplomat Seorang pemimpin harus mampu mengajak dan melakukan kompromi. Sebagai seorang diplomat, seorang pemimpin harus dapat mewakili tim atau organisasinya. 7. Pemimpin membuat keputusan yang sulit Seorang pemimpin harus dapat memecahkan masalah. Menurut Henry Mintzberg, Peran Pemimpin adalah : 1. Peran hubungan antar perorangan, dalam kasus ini fungsinya sebagai pemimpin yang dicontoh, pembangun tim, pelatih, direktur, mentor konsultasi. 2. Fungsi Peran informal sebagai monitor, penyebar informasi dan juru bicara. 3. Peran Pembuat keputusan, berfungsi sebagai pengusaha, penanganan gangguan, sumber alokasi, dan negosiator. DAFTAR PUSTAKA James A.F Stoner, R. Edward Freeman dan Daniel R. Gilbert. J.R, Manajemen, Jakarta: Prenhallindo, 1996. Malayu S.P. Hasibuan, Manajemen Dasar, Pengertian, dan Masalah, Jakarta: Bumi Aksara, 2009. M. Munir dan Wahyu Ilaihi, Manajemen Dakwah, Jakarta: Kencana, 2006.

0 komentar:

Poskan Komentar