kisah nabi ibrahim dan nabi ismail

                                     BAB I
                               PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
               Hidup bersama antara manusia berlangsung di dalam berbagai
   bentuk perhubungan dan di dalam berbagai jenis situasi. Tanpa adanya sebuah
   proses interaksi di dalam hidup itu tidaklah mungkin bagi manusia untuk
   hidup bersama. Proses interaksi itu dimungkinkan oleh kenyataan, bahwa
   manusia adalah makhluk yang memiliki sifat sosial yang besar. Setiap proses
   interaksi tersebut terjadi dalam ikatan suatu situasi yang nyata senyata-
   nyatanya dan tidak pernah terjadi dalam alam hampa. Di antara berbagai jenis
   situasi itu, terdapat satu jenis situasi khusus yakni situasi kependidikan
   (Surakhmad, 1990 : 7).
               Pendidikan merupakan sebagian dari fenomena interaksi kehidupan
   sosial manusia. Pada hakekatnya pendidikan itu terdiri dari aksi dan reaksi
   yang tak terbilang banyaknya, baik antara perorangan maupun antara
   kelompok. Oleh karenanya pendidikan merupakan bagian dari interaksi sosial
   yang telah ada bersamaan dengan kehidupan manusia (Huda, 2008: 2).
               Secara normatif, Al Qur’an yang diturunkan oleh Allah ke dunia
   ini untuk dijadikan pedoman bagi seluruh umatNya sudah jelas di dalamnya
   berisi lengkap tentang semua ilmu pengetahuan termasuk mengenai interaksi
   pendidikan para orang-orang terdahulu untuk dijadikan sebuah pijakan atau
   teladan bagi umat yang hidup setelahnya.
            Dari ayat-ayat Al Qur’an tersebut dapat diambil pelajaran seperti
halnya meneladani kisah Nabi Ibrahim a.s. dalam melakukan interaksi
pendidikan terhadap Nabi Ismail a.s. Nabi Ibrahim yang dijuluki “Khalilullah”
(kekasih Allah) memberikan keteladanan yang luar biasa dalam melakukan
pendidikan terhadap keluarga dan anak-anaknya. Karena dari kisah-kisah
beliau   dapat kita ambil pelajarannya sampai sekarang. Seperti dituliskan
dalam firman Allah dalam surat Al-mumtahanah ayat 4:

Artinya: “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada
          Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia” ...(Q.S. Al-
          Mumtahanah: 4)
            Dari ayat diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa banyak hal yang
harus kita teladani dari Nabi Ibrahim a.s. dan orang – orang yang bersama
dengan beliau, salah satunya adalah Nabi Ismail a.s. Nabi Ibrahim a.s adalah
seorang sosok ayah yang berhasil dalam upaya membina keluarga sejahtera
yang berhasil meraih sukses besar. Oleh karena itu umat Islam setelah
bershalawat kepada Rasulullah SAW pada waktu shalat, sunnah juga
hukumnya bershalawat dan salam kepada Nabi Ibrahim a.s dan keluarganya.
Keberhasilan Ibrahim a.s membina keluarga bahagia sejahtera ditunjukkan
oleh banyak indikator, diantaranya adalah dialog atau interaksi antara bapak
dan anak yang tidak pernah putus sepanjang hayat (Syarafuddin, 2002:206).
            Salah satu kisah teladan beliau dalam melakukan dialog atau
interaksi pendidikan Islam terhadap Nabi Ismail adalah kisah penyembelihan
qurban yang dinarasikan dalam kitab suci Al Qur’an surat Ash-Shoffat ayat
102 dari kisah itu tersirat beberapa nilai spiritual yang sangat luhur. Bukan
saja mendasari kesejahteraan keluarga Nabi Ibrahim a.s tetapi juga
menghembuskan angin segar bila sebuah pendidikan Islam itu dapat
meneladani kisah beliau bersama Nabi Ismail a.s. Karena beliau memiliki
karakter pendidik yang sangat demokratis sehingga dapat menciptakan anak
didik yang sangat patuh, dan sikap patuh tersebut adalah salah satu kunci
keberhasilan dalam pendidikan Islam.
            Dalam surat Ash-Shaffat ayat 102 Nabi Ibrahim telah berhasil
melakukan interaksi pendidikan Islam karena beliau telah meyakinkan Nabi
Ismail untuk rela dijadikan qurban. Tentunya dalam mendidiknya tersebut
beliau menggunakan metode dan bahasa yang tepat yang mudah difahami oleh
si anak. Agar anaknya dapat menerima dengan baik dan melaksanakan
perintah Allah tanpa merasa terbebani.
            Adapun ayat-ayat Al Qur’an      lain,   yang   berkenaan   dengan
interaksi pendidikan yang dilakukan Nabi Ibrahim as terhadap Nabi Ismail as
yaitu surat Ash-Shaffat ayat 102 – 107 tentang pendidikan qurban, surat
Ibrahim 37 tentang penanaman diri anak untuk selalu bersyukur kepada Allah
SWT, surat Al Baqarah 124 – 128 tentang pembangunan Baitullah. Dari ayat-
ayat tersebut, tersirat banyak pelajaran yang dapat yang patut kita teladani
tentang tujuan pendidikan, materi dan metode serta karakter yang beliau
lakukan dalam menjalankan interaksi pendidikan Islam terhadap Nabi Ismail,
dan bagaimana etika anak didik menyikapi semua pendidikan Islam yang
diajarkan oleh ayahnya.
               Berdasarkan uraian di atas, maka penulis akan meneliti isi
   kandungan ayat-ayat Al Qur’an yang tertulis di atas dengan menganalisis isi
   tafsir sehingga menarik kesimpulan mengenai interaksi pendidikan Islam yang
   dilakukan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail sebagaimana yang dikisahkan dalam
   ayat-ayat Al Qur’an tersebut. Sehingga peneliti memberi judul skripsi ini
   adalah “INTERAKSI PENDIDIKAN ISLAM DALAM AL QUR’AN
   (KISAH NABI IBRAHIM DAN NABI ISMAIL)”.
B. Penegesan Istilah
            Untuk memudahkan dalam memahami maksud dari judul skripsi ini,
   terlebih dahulu perlu penulis tegaskan arti dari istilah – istilah yang terdapat
   dalam judul sebagai berikut:
   1. Interaksi
               Interaksi berasal dari bahasa Inggris dari kata interaction yang
       artinya diantara, dan menurut bahasa Latin interaksi dari kata inter:
       diantara action: tindakan (Kamus Besar Ilmu Pengetahuan, 1997: 401).
       Sedangkan menurut Kamus Istilah Pendidikan dan Umum Interaksi adalah
       hubungan timbal balik secara langsung antara guru dan murid dalam
       proses belajar mengajar (Sastrapradja, 1981: 288).
   2. Pendidikan Islam
               Pendidikan, secara bahasa itu dari kata education yang artinya
       mengantar keluar, sedangkan secara istilah adalah proses membimbing
       manusia dari kegelapan dalam kebodohan menuju kecerahan pengetahuan.
       Dalam arti luas, pendidikan baik formal maupun informal meliputi segala
   hal yang memperluas pengetahuan manusia tentang dirinya sendiri dan
   dunia tempat mereka hidup.
           Sedangkan menurut Al-Attas pendidikan Islam adalah pengenalan
   dan pengalaman yang secara berangsur-angsur ditanamkan dalam diri
   manusia, tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu yang
   didalam tatanan penciptaan sedemikian rupa sehingga membimbing kearah
   pengenalan dan pengakuan tempat Tuhan yang tepat didalam tatanan
   wujud dan kepribadian.
3. Kisah
           Kisah berasal dari bahasa Arab yaitu kata qishash yang mempunyai
   bentuk jamak qashasha berarti tentang kejadian atau riwayat dan sebagai
   dalam riwayat seseorang. Kisah menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
   adalah cerita kejadian dalam kehidupan seseorang disebut juga sebagai
   riwayat (W.J.S Poerwodarminto, 1996: 4431).
4. Nabi Ibrahim dan Ismail
           Nabi adalah orang yang menjadi pilihan Allah untuk menerima
   wahyu-Nya untuk kepentingan dirinya dan Ia tidak tidak diwajibkan
   meneruskan wahyu itu kepada orang lain (W.J.S Poerwodarminto, 1996 :
   550).
           Ibrahim adalah Menurut Al Khailidi (1997: 311) yang dikutip
   Ahmad Fadhi bin Shaari Ibrahim adalah bapak segala nabi (Abul Abyiya’)
   gelarnya ialah Ibrahim Khalilullah.
           Ismail adalah putra tertua yang lahir dari istri Nabi Ibrahim yang
   bernama Hajar yang berasal dari negeri Mesir. Hajar ini adalah budak
       Nabi Ibrahim a.s. yang kemudian dimerdekakan setelah dijadikan
       melahirkan Nabi Ismail a.s (Halim, 2007: 33).
               Dari berbagai penjelasan di atas dapat dipahami bahwa yang
       dimaksud dari interaksi pendidikan Islam dalam Al Qur’an (Kisah nabi
       Ibrahim dan Ismail adalah gambaran proses hubungan pendidikan atau
       timbal balik antara pendidik (Nabi Ibrahim) dengan peserta didik (Nabi
       Ismail) yang dinarasikan ada pada ayat-ayat Al-Qur’an.
C. Rumusan Masalah
               Dari latar belakang di atas, dapat ditarik permasalahan yang akan
   penulis bahas dalam penelitian ini yakni:
  1. Bagaimanakah interaksi pendidikan Islam yang dilakukan Nabi Ibrahim dan
     Nabi Ismail yang dikisahkan dalam Al Qur’an?
  2. Apa urgensi interaksi pendidikan Islam yang dilakukan Nabi Ibrahim dan
     Nabi Ismail yang dikisahkan dalam Al Qur’an dalam dunia pendidikan?
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian
           Setelah dirumuskan permasalahan di atas, maka tujuan penulisan
   skripsi ini ada tujuan dan manfaatnya, diantaranya adalah sebagai berikut:
   1. Tujuan
           Adapun tujuan penelitian ini adalah:
       a. Untuk mengetahui interaksi pendidikan Islam yang dilakukan Nabi
          Ibrahim dan Nabi Ismail yang dikisahkan dalam Al Qur’an.
      b. Untuk mengetahui urgensi interaksi pendidikan Islam yang dilakukan
         Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang dikisahkan dalam Al Qur’an dalam
         dunia pendidikan.
   2. Manfaat
      a. Teoritis
                  Memberikan sumbangan pemikiran bagi IImu Pendidikan
          Islam pada umumnya dan pada khususnya mengenai interaksi
          pendidikan Islam kepada para pendidik dalam melakukan interaksi
          pendidikan terhadap peserta didiknya dengan meneladani kisah Nabi
          Ibrahim terhadap Nabi Ismail.
      b. Praktis
          1) Memberikan masukan kepada orang tua atau guru tentang
              bagaimana melakukan interaksi pendidikan terhadap anaknya
              sesuai dengan tuntunan di dalam Al Qur’an.
          2) Memberikan masukan kepada        orang tua atau guru agar dapat
              mencontoh Islam dalam mendidik anak.
E. Kajian Pustaka
          Ada beberapa penelitian terdahulu yang mengungkapkan tentang
   pendidikan, antara lain:
   1. Lina Mardliyah, 2006 (STAIN) Nilai-nilai Pendidikan Anak dalam Kisah
      nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as (Tinjauan Qur’an surat Ash-shoffat
      Ayat 100 – 111)
   Pendidikan anak dalam keluarga Nabi Ibrahim:
   a. Metode Pendidikan anak dalam keluarga Nabi Ibrahim menurut Al
       Qur’an surat Ash-Shoffat ayat 100 – 111 :
       1) Pendidikan dengan Doa
       2) Pendidikan secara Demokrasi
   b. Nilai Pendidikan Keimanan
       1) Iman kepada Allah
       2) Iman kepada utusan Allah
   c. Akhlaq kepada Allah
       1) Sabar dan Ridho terhadap TakdirNya
       2) Taqwa dan Tawakal
   d. Akhlaq kepada Orang Tua
2. Leginem, 2009 (STAIN) Konsep Pendidikan Islam dalam Keluarga
   menurut Kisah nabi Ibrahim As
           Pendidikan dalam keluarga nabi Ibrahim menggunakan metode
   yang sistematis, yaitu suri teladan, nasehat, pembiasaan dan lingkungan.
   Adapun pendidikan Nabi Ibrahim kepada orang tuanya yaitu: adab
   berbicara antara anak dan orangtua, urgensi tauhid dalam memberikan
   nasehat, urgensi menasehati untuk kemaslahatan, sabar terhadap kedua
   orang tua dan mempergaulinya dengan baik. Kepada istrinya memberikan
   nasehat kesabaran, menghormati dan memuliakan tamu, urgensi berbuat
   adil dan saling perhatian, urgensi tanggung jawab atas peran yang dipikul,
   urgensi keterbukaan dan saling percaya. Kepada anak-anaknya, urgensi
   tauhid dalam kehidupan, urgensi komunikasi dengan baik, adab bicara,
   hormat menghormati dan kasih sayang.
3. Nurul Hasanah (STAIN, 2009), dengan judul skripsi             Pendidikan
   Keluarga menurut Teladan Nabi Ibrahim as. Di dalam skripsi tersebut
   menyimpulkan bahwa : materi pendidikan Nabi Ibrahim meliputi : a).
   Pendidikan syar’iah yaitu syariah berkurban, b) Pendidikan akhlaq kepada
   Allah taqwa serta tawakal, sedangkan metode pendidikan keluarga Nabi
   Ibrahim adalah : a). metode diskusi, yaitu menyampaikan perintah Allah
   agar dapat menerima dan melaksanakannya dengan baik tanpa paksaan.b)
   metode keteladanan dan nasehat.
           Berpijak pada hasil-hasil penelitian di atas, tampak bahwa
    permasalahan yang diangkat dalam skripsi ini belum ada yang
    mengungkap. Oleh karena itu, permasalahan yang diangkat dalam skripsi
    ini memiliki kriteria kebaruan, yang mana dalam skripsi ini membahas
    tentang interaksi pendidikan Islam yang dilakukan Nabi Ibrahim terhadap
    Nabi Ismail yang diambil dari beberapa ayat dalam kitab suci Al Qur’an.
    Ayat-ayat Al Qur’an itu diantaranya adalah Q. S Al Baqarah ayat 125-
    128, Q.S Ibrahim ayat 37, Q. S Ash-Shaffat ayat 102-107. Dari ayat-ayat
    tersebut nantinya akan dianalisis dengan faktor-faktor dalam interaksi
    Pendidikan Islam.
F. Metode Penelitian
   1. Jenis Penelitian
                 Jenis Penelitian ini termasuk penelitian bibliografi, karena
     penelitian ini dilakukan mencari, menganalisis, membuat interpretasi, serta
     generalisasi dari fakta-fakta hasil pemikiran, ide-ide yang telah ditulis oleh
     pemikir dan ahli (Nasir, 1998:62). Dalam hal ini adalah mengenai peneliti
     akan menganalisis mengenai interaksi pendidikan Islam yang dilakukan Nabi
     Ibrahim a.s. terhadap Nabi Ismail a.s. dengan menggunakan pendekatan tafsir
     tafsir bir ro’yi.
   2. Metode Pengumpulan Data
              Karena penelitian ini adalah penelitian bibliografi, maka metode
     pengumpulan data yang digunakan adalah metode dokumentasi yaitu dengan
     mencari data mengenai hal-hal atau variabel yaitu berupa catatan, transkrip,
     buku, surat, kabar, majalah, agenda dan lain sebagainya (Arikunto, 2006:
     231). Adapun yang menjadi objek penelitian ini adalah buku-buku yang
     berkaitan dengan interaksi pendidikan Islam yang dicontohkan Nabi Ibrahim
     as terhadap Nabi Ismail as.
              Penulis  membagi     sumber    data  kedalam    dua   bagian    untuk
     mempermudah dalam pengumpulan data, yaitu:
     a. Data Primer
                 Yaitu data autentik atau data langsung dari tangan pertama dari
        masalah yang diungkapkan masalah yang diungkapkan secara sederhana,
        data ini juga disebut data asli (Nawawi, 1987: 80).
           Adapun yang menjadi sumber data primer adalah:
   1) Al Qur’an
       Al Qur’an Departemen Agama Republik Indonesia, tahun 2005.
   2) Tafsir Al Qur’an
        Tafsir Al Qur’an diantaranya:
       a) Tafsir Al Azhar karangan Hamka, tahun 2008 Juz I dan Juz 13.
       b) Ringkasan tafsir Ibnu Kastir karangan Muhammad Nasib Ar Rifa’i
          tahun 2000 Jilid 4.
       c) Tafsir Al Misbah karangan Muhammad Quraisy Shihab tahun 2003
          Volume I.
b. Data sekunder
           Yaitu data yang mengutip dari sumber lain sehingga tidak bersifat
   autentik karena sudah diperoleh dari tangan kedua, ketiga dan selanjutnya.
   Dengan demikian data ini juga disebut dengan data tidak asli (Nawawi,
   1987: 80). Adapun yang menjadi data sekunder ialah buku-buku yang
   berfungsi sebagai relevansi agar wawasan atau latar belakang masalah
   menjadi lebih detail dan akurat sebagai bahan bacaan dalam rangka
   memberikan informasi secara langsung kepada kerangka pemikiran serta
   akan menambah cakrawala dan lebih mempertajam dalam menganalisis.
   Nantinya meliputi:
   1) Dr. Miftahul Huda, M.Ag” Interaksi Pendidikan 10 Cara Al Qur’an
       Mendidik Anak” tahun 2008.
        2) Kisah Nyata 25 Nabi dan Rosul karangan M.B. Rahimsyah AR yang
            menceritakan sejarah 25 Nabi dan Rosul diantaranya Nabi Ibrahim dan
            Ismail, tahun 2004.
        3) Kisah para Nabi karangan Abu Fida Ismail Ibnu Katsir tahun 2002.
        4) Dan tentunya ditambah lagi dengan sumber-sumber data lain yang
            relevan dengan objek kajian skripsi ini.
  3.    Analisa Data
                Pada skripsi ini dalam menanalisa data, penulis menggunakan
        metode kualitatif deskriptif yang terdiri dari tiga kegiatan yaitu
        pengumpulan data dan sekaligus reduksi data, penyajian dan penarikan
        kesimpulan verifikasi (Miles dan Huberman, 1992: 16). Pertama, setelah
        pengumpulan data selesai dilakukan reduksi data yaitu menggolongkan,
        mengarahkan, membuang yang tidak perlu dan mengorganisasikan
        sehingga data terpilah-pilah. Kedua, data yang telah direduksi akan
        disajikan dalam bentuk narasi. Ketiga, adalah penarikan kesimpulan dari
        data yang telah disajikan pada tahap kedua dengan mengambil kesimpulan.
G. Sistematika Penulisan Skripsi
           Untuk memudahkan dalam pemahaman masalah yang akan dibahas,
     penulis menyajikan skripsi ini dengan sistematika sebagai berikut:
              Bab I Pendahuluan. Dalam bab ini memuat latar belakang masalah,
     penegasan istilah, rumusan masalah, tujuan penelitian dan manfaat penelitian,
     kajian pustaka, metode penelitian dan sistematika penulisan skripsi.
      Bab II    Interaksi Pendidikan Islam. Dalam bab ini akan dibahas
mengenai pengertian interaksi pendidikan Islam, faktor-faktor pendidikan
dalam interaksi pendidikan Islam, pola interaksi pendidikan Islam.
      Bab III Interaksi Pendidikan Islam dalam Al Qur’an (Kisah        Nabi
Ibrahim dan Nabi Ismail). Dalam bab ini akan dibahas mengenai biografi
Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, kisah dan ayat-ayat Al Qur’an yang
berhubungan dengan pendidikan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dalam
interaksi pendidikan Islam.
      Bab IV Analisis Data tentang Interaksi Pendidikan Islam dalam Al
Qur’an menurut kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.
      Bab V Penutup. Berisi tentang kesimpulan, saran dan kata penutup.

0 komentar:

Poskan Komentar