Makalah Makiyah dan Madaniyah



BAB I
PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah
Sekolah sebagai institusi pendidikan yang berperan aktif menanamkan nilai-nilai kepada para peserta didik harus memberikan perhatian yang serius terhadap pendidikan ini. Penerapan pendidikan al-Quran di sekolah maupun di pesantren harus melibatkan semua unsur yang terlibat di di dalamnya. Iklim sekolah maupun pesantren harus memberi peluang terjadinya interaksi positif antara peserta didik dengan pelajaran yang akan diinternalisasikan, baik melalui keteladanan personal, diskusi, maupun proses belajar mengajar dalam arti seluas-luasnya.
Komunikasi pendidik dengan peserta didik harus baik yang didasari pada adanya penerimaan kedua belah pihak. Muatan komunikasi itu juga penting agar mengarah kepada nilai-nilai yang diinginkan.Pendidikan al-Quran harus ditanamkan kepada peserta didik sebelum mereka mencapai usia akhir pembentukan kepribadian pada usia 20 atau 21 tahun. Jika melewati batas ini, sudah amat sulit memasukkan nilai-nilai tersebut karena harus membangun kembali kepribadian yang telah terbentuk (reconstruction of personality). Oleh sebab itu nilai-nilai al-Quran dalam bentuk akhlak al-karimah sudah terkristal dan terinternalisasi sejak kecil agar menjadi sikap hidup yang tak memerlukan lagi pengawasan dari luar diri individu. Ada atau tidak ada polisi akan berhenti otomatis bila lampu merah lalu lintas menyala. Ada atau tidak ada orang yang melihat secara otomatis akan menjalankan kewajibannya kepada Allah dan menjauhi larangan-Nya.



Apa yang gencar disosialisasikan akhir-akhir ini dengan istilah kecerdasan emosional (emotional intelegence) pada dasarnya adalah metode al-Qur’an dalam menanamkan nilai-nilai akhlak kepada manusia. Gerakan ketrampilan emosional yang diperkenalkan oleh Daniel Goleman adalah mengubah istilah pendidikan afektif secara terbalik, yaitu bukan menggunakan perasaan untuk mendidik, melainkan mendidik perasaan itu sendiri. Di sinilah pendidikan al-Quran memegang peran penting karena mendidik perasaan manusia agar peka terhadap nilai-nilai akhlak yang luhur untuk diimplementasikan dalam  kehidupan individu maupun kelompok.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Pengertian dan Pengetahuan tentang Makki dan Madani
2. Apa Ketentuan dan Cirri-ciri Khas serta Perbedaan Surat Makki
dengan Madani
3. Bagaimana Klasifikasi dan Contoh Surat-surat Makki dan Madani
4. Bagaimana Faedah dan Urgensi Mengetahui Makki dan Madani
C. Tujuan Pembahasan
1. Mengetahui pengertian dan pengetahuan tentang Makki dan Madani
2. Memahami Ketentuan, Cirri-ciri dan Perbedaan antara Surat Makki dan Madani
3. Mengetahui Klasifikasi dan Contoh Surat-surat Makki dan Madani
4. Memahami Faedah dan Urgensi Makki dan Madani
D. Sistematika Penulisan
Untuk memberikan gambaran tentang masalah pengklasifikasian surat Makki dan Madani, maka penulis telah menyusun sistematikanya sebagai berikut :



Bab I Pendahuluan
Pada bab ini penulis memberikan gambaran secara umum mengenai latar belakang masalah dan sistematika penulisan.

Bab II Pembahasan
Pada bab ini diuraikan isi dari makalah ini, diantaranya adalah latar belakang dan bagaimana cara mengklasifikasikan Surat-surat Makki dan Madani.
Bab III Simpulan
Pada bab ini berisikan simpulan yang didapat dari hasil analisis berbagai sumber pustaka yang dapat dijadikan sebagai gagasan pemikiran penulis mengenai Surat-surat makki dan Madani.

















BAB II
PEMBAHASAAN
  1. Pengertian dan Pengetahuan
  1. Pengertian
Para sarjana muslim mengemukakan empat perspektif dalam mendefinisikan terminologi Makkiyah dan Madaniyah. Yaitu: Masa turun (zaman an-nuzul), tempat turun (makan al-nuzul), objek pembicara (mukhathab) dan tema pembicaraan (maudu).
Dari presepektif masa turun, yaitu:
المكي:مانزل قبل الهجرة وان كان بغيرمكة. والمدني: مانزبعد الهجرة وان كان بغير مدينة.فمانزل بعدالهجرة ولوبمكة اوعرفة مدن
Makkiyyah ialah ayat-ayat yang turun sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah, kendatipun bukan turun di Mekkah, sedangkan Madaniyyah adalah ayat-ayat yang turun sesudah Rasulullah hijrah ke Madinah, kendatipun bukan turun di Madinah. Ayat-ayat yang turun setelah peristiwa hijrah disebut Madaniyyah walaupun turun di Mekkah atau Arafah.”
Menurut paham Abu Al-Qasim an-Naisabury yang tetap mengikuti manhaj tarikhy zamany (menertibkan Al-Quran menurut sejarah dan masa turunnya), terbagi masing-masing kepada tiga marhalah:
  1. Marhalah Ibtidaiyah
  2. Marhalah Mutawasithah
  3. Marhalah Khitamiyah
Diantara surat-surat yang telah disepakati ahli sejarah dan ahli tafsir dari permulaan wahyu atau surat-surat yang tergolong ke dalam surat-surat yang turun dalam marhalah ibtidaiyah di Makkah ialah:



  1. Al-Alaq
  2. f. Al-Insyirah
  3. Al-Muddatstir
  4. Al-Adiyat
  5. At-Takwir
  6. At-Takatsur
  7. Al-‘Ala
  8. An-Najm
  9. Al-lail

Diantara surat-surat yang turun dalam marhalah mutawasithah di Makkah ialah:
  1. Abasa e. Al-Mursalat
  2. At-Tin f. Al-Balad
  3. Al-Qari’ah g. Al-Hijr
  4. Al-Qiyamah

Diantara surat-surat yang turun dalam marhalah khitamiyah di Makkah ialah:
  1. Ash-Shaffat e. Al-Kahfi
  2. Az-Zuhkruf f. Ibrahim
  3. Ad-Dukhan g. Al-Hijr
  4. Adz-Dzariyat
Dari perspektif tempat turun, yaitu:
مانزل بمكة وماجا ورها كمن وعرفة وحديبية . والمدني: ما نزل بلمدينة وماجا ورها كا حد وقبء وسلع


Makkiyyah ialah ayat-ayat yang turun di Mekkah dan sekitarnya seperti Mina, Arafah, dan Hudaibiyyah, sedangkan Madaniyyah adalah ayat-ayat yang turun di Madinah dan sekitarnya, seperti Uhud, Quba, dan Sul’a.”

Dari perspektif objek pembicaraan, yaitu:

المكي: ما كان خطا با لاهل مكة. والمدني: ما كان خطا با لاهل المدينة.
Makkiyyah adalah ayat-ayat yang menjadi khitab bagi orang-orang Mekah, sedangkan Madaniyyah adalah ayat-ayat yang menjadi khitab bagi orang-oarang Madinah.”
Adapun pendefinisian Makkiyyah dan Madaniyyah dari perspektif tema pembicaraan akan disinggung lebih terinci dalam uraian karakteristik kedua klasifikasi tersebut.
  1. Pengetahuan
Untuk mengetahui dan menentukan Makki dan Madani para ulama bersandar pada dua cara utama: sima’i naqli (pendengaran seperti apa adanya) dan qiyasi ijtihad (kias hasil ihtihad). Cara pertama didasarkan pada riwayat sahih dari para sahabat yang hidup pada saat dan menyaksikan turunnya wahyu; atau dari para tabi’in yang menerima dan mendengar dari para sahabat bagaimana, di mana da peristiwa apa yang berkaitan dengan turunnya wahyu itu.
Cara qiyasi ijtihadi didasarkan pada cirri-ciri Makki dan Madani. Apabila dalam surah Makki terdapat suatu ayat yang mengandung sifat Madani atau mengandung peristiwa Madani, maka dikatakan bahwa ayat itu Madani.

Dan apabila dalam surah Madani terdapat suatu ayat yang mengandung sifat Makki atau mengandung peristiwa Makki, maka ayat tadi dikatakan sebagai ayat Makki.

  1. Ketentuan, Ciri-ciri dan perbedaan
  1. Ketentuan Makki dan Ciri khasnya
Ketentuan
  1. Setiap surah yang di dalamnya mengandung “sajdah” maka surah itu Makki.
  2. Setiap surah yang mengandung lafal kalla, berarti Makki. Lafal ini hanya terdapat dalam separuh terakhir dari Quran. Dan di sebutkan sebanyak tiga puluh tiga kali dalam lima belas surah.
  3. Setiap surah yang mengandung ya ayyuhan nas dan tidak mengandung ya ayyuhal lazina amanu, berarti Makki, kecuali Surah al-Hajj yang pada akhir surah terdapat ya ayyuuhal laziina aamanur-ka’uu wasjuduu. Namun demikian sebagian besar ulama berpendapat bahwa ayat tersebut adalah ayat Makki.
  4. Setiap surah yang mengandung kisah para nabi dan umat terdahulu adalah Makki, kecuali surah Baqarah.
  5. Setiap surah yang mengandung kisah Adam dan Iblis adalah Makki, kecuali surah Baqarah.
  6. Setiap surah yang dibuka dengan huruf-huruf singkatan, seperti Alif Lam Mim, Alif Lam Raa, Haa Miim dan lain-lainnya, adalah Makki, kecuali surah Baqarah dan Ali ‘Imran. Sedang surah Ra’d masih diperselisihkan.




Ciri-ciri
  1. Menjelaskan ajakan monotheisme, ibadah kepada Allah semata, penetapan risalah kenabian, penetapan hari kebangkitan dan pembalasan, uraian tentang Kiamat dan perihalnya, neraka dan siksanya, surga dan kenikmatannya, dan mendebat kelompok musyrikin dengan argumentasi-argumentasi rasional dan naqli;
  2. Menetapkan pondasi-pondasi umum bagi pembentukan hukum syara’ dan keutamaan-keutamaan akhlak yang harus dimiliki anggota masyarakat. Juga berisikan celaan-celaan terhadap kriminalitas-kriminalitas yang diakukan kelompok musyrikin, mengonsumsi harta anak yatim secara zalim serta uraian tentang hak-hak;
  3. Menuturkan kisah para nabi dan umat-umat terdahulu serta perjuangan Muhammad dalam menghadapi tantangan-tantangan kelompok musyrikin;
  4. Ayat dan suratnya pendek-pendek dan nada serta perkataannya agak keras dan,
  5. Banyak kata-kata sumpah.

  1. Ketentuan Madani dan Ciri Khasnya

Ketentuan
  1. Setiap surah yang berisi kewajiban atau had (sanksi) adalah Madani.
  2. Setiap surah yang didalamnya disebutkan orang-orang munafik adalah Madani, kecuali surah al-‘Ankabut adalah Makki.
  3. Setiap surah yang di dalamnya terdapat diaolog denga Ahli Kitab adalah Madani.



Ciri-ciri
  1. Menjelaskan permasalah ibadah, muamalah, hudud, bangunan rumah tangga, warisan, keutamaan jihad, kehidupan sosial, aturan-aturan pemerintah menangani perdamaian dan peperangan, serta persoalan-persoalan pembentukan hukum syara;
  2. Mengkhitabi Ahli Kitab Yahudi dan Nashrani dan mengajaknya masuk Islam, juga menguraikan perbuatan mereka yang telah menyimpangkan Kitab Allah dan menjauhi kebenaran serta perselisihannya setelah datang kebenaran;
  3. Mengungkap langkah-langkah orang-orang munafik;
  4. Surat dan sebagian ayat-ayat panjang-panjang serta menjelaskan hukum dengan terang dan menggunakan uslub yang terang pula.

  1. Perbedaan Makki dengan Madani
Untuk membedakan Makki dengan Madani, para ulama mempunyai tiga macam pandangan yang masing-masing mempunyai dasarnya sendiri.
  1. Pertama: Dari segi waktu turunnya. Makki adalah yang diturukan sebelum hijrah meskipun bukan di Mekkah. Madani adalah yang diturunkan sesudah hijrah sekalipun bukan di Madinah. Yang diturunkan sesudah hijrah sekalipun di Mekkah atau Arafah, adalah Madani.
  2. Kedua: Dari segi tempat turunnya. Makki ialah yang turun di Mekah dan sekitarnya, seperti Mina, Arafah, dan Hudaibiyah. Dan Madani ialah yang turun di Madinah dan sekitarnya, seperti Uhud, Quba, dan Sil’.
  3. Ketiga: Dari segi sasarannya. Makki adalah yang seruannya ditunjukan kepada penduduk Mekah dan Madani adalah yang seruannya ditunjukan kepada penduduk Madinah.


3. Klasifikasi dan Contoh-contoh Surat Makki dan Madani
Menurut edisi standar Mesir, 86 surat termasuk dalam periode Mekah, sementara 28 surat lainnya berasal dari periode Madinah. Dasar dari determinasi kronologis ini adalah permulaan surat. Sebuah surat, misalnya, dianggap dari Mekah jika ayat-ayat awalnya diturunkan di Mekah, meskipun berisi juga ayat-ayat yang diturunkan di Madinah.

Contoh surat Makki:
  1. Surat Al’Alaq (96),
  2. Surat Al-Qalam (68),
  3. Surat A-Muzammil (73),
  4. Surat Al-Mudatstsir (74),
  5. Surat Al-Lahab (111),
  6. Surat Al-Takwir (81),
  7. Surat Al-Insyirah (94),
  8. Surat Al-‘Ashr (103),
  9. Surat Al-Fajr (89),
  10. Surat Ad-Dhuha (93),
  11. Surat Al-Lail (92),
  12. Surat Al-‘Adiyah (100),
  13. Surat Al-Kautsar (108),
  14. Surat Al-Takwir (102),
  15. Surat Al-Ma’un (107),
  16. Surat Al-Kafirun (109),
  17. Surat Al-Fil (105),
  18. Surat Al-Ikhlas (112),
  19. Surat Al-Falaq (113),
  20. Surat An-Nas (114),
  21. Surat An-Najm (53),
  22. Surat ‘Abasa (80,
  23. Surat Al-Qadar (97),
  24. Surat Ath-Thariq (85),
  25. Surat Ath-Thin (95),
  26. Surat Al-Quraisy (106),
  27. Surat Al-Qari’ah (101),
  28. Surat Al-Qiyamah (75),
  29. Surat Al-Huzamah (104),
  30. Surat Al-Mursalat (77),
  31. Surat Al-balad (90),
  32. Surat Ar-Rahman (55),
  33. Surat Al-Jin (72),
  34. Surat Yaa Siin (36),
  35. Surat Al-A’raf (7),
  36. Surat Al-Furqan (25),
  37. Surat Fathir (35),
  38. Surat Maryam (19),
  39. Surat Thaha (20),
  40. Surat Al-Waqi’ah (56),
  41. Surat Asy-Syura (26),
  1. Surat An-Nam (27),
  2. Surat Al-Isra’ (17)
  3. Surat Hud (11),
  4. Surat Ar-Ra’d (13),
  5. Surat Yunus (10),
  6. Surat Al-Hijr (15),
  7. Surat Ash-Shaffat (37),
  8. Surat Luqman (31),
  9. Surat Al-Mu’minun (23),
  10. Surat Saba’ (34),
  11. Surat Al-Anbiya’ (21),
  12. Surat Az-Zumar (39),
  13. Surat Al-Mu’min (40),
  14. SuratFushshilat (41),
  15. Surat Muhammad (47),
  16. Surat Az-Zukhruf (43),
  17. Surat Ad-Dukhan (44),
  18. Surat Al-Jatsiyyah (45),
  19. Surat Al-Ahqaf (46),
  20. Surat Adz-Dzariyyat (51),
  21. Surat Al-Ghasyiyah (88),
  22. Surat Al-Kahfi (18),
  23. Surat Al-An’am (6),
  24. Surat An-Nahl (16),
  25. Surat Nuh (71),
  26. Surat Ibrahim (14),
  27. Surat As-Sajdah (32),
  28. Surat Ath-Thur (52),
  29. Surat Al-Mulk (67),
  30. Surat Al-haqqah (67),
  31. Surat Al-Ma’arij (70),
  32. Surat An-Naba’ (78),
  33. Surat An-Nazi’at (79),
  34. Surat Al-Infithar (82),
  35. Surat Al-Insyiqaq (84),
  36. Surat Ar-Rum (30),
  37. Surat Al-Ankabut (29),
  38. Surat Al-Muthaffifin (83,
  39. Surat Al-Qamar (54),
  40. Surat Ath-Thariq (86).








Contoh Surat Madani
  1. Al-Baqarah,
  2. Ali ‘Imran,
  3. An-Nisa,
  4. Al-Ma’idah,
  5. Al-Anfal,
  6. At-Taubah,
  7. An-Nur,
  8. Al-Ahzab,
  9. Muhammad,
  10. Al-Fath
  1. Al-Hujurat,
  2. Al-Hadid,
  3. Al-mujadalah,
  4. Al-Hasyr,
  5. Al-Mumtahanah
  6. Al-Jumu’ah,
  7. Al-Munafiqun,
  8. At-Talaq,
  9. At-Tahrim,
  10. An-Nasr.
Contoh surat yang diperselisihkan
  1. Al-Fatihah,
  2. Ar-Rad,
  3. Ar-Rahman,
  4. As-Saff,
  5. At-Tagabun
  6. At-Tatfif
  1. Al-Qadar,
  2. Al-Bayyinah,
  3. Az-Zalzalah,
  4. Al-Ikhlas,
  5. Al-Falaq,
  6. An-Nas.

  1. Faedah dan Urgensi
Menurut Manna’ Al-Qaththan mencoba lebih jauh lagi dalam mendeskripsikan urgensi mengetahui Makkiyah dan Madaniyah sebagai berikut:





  1. Membantu dalam Menafsirkan Al-Quran
Pengetahuan tentang peristiwa-peristiwa di seputar turunnya Al-Quran tentu sangat membantu dalam memahami dan menafsirkan ayat-ayat Al-Quran kendatipun ada teori yang mengatakan bahwa yang harus menjadi patokan adalah keumuman redaksi ayat dan bukan kekhususan sebab.
  1. Pedoman bagi Langkah-langkah Dakwah
Setiap kondisi tentu saja memerlukan ungkapan-ungkapan yang relevan. Ungkapan-ungkapan dan intonasi berbeda yang digunakan ayat-ayat Makkiyah dan ayat-ayat Madaniyyah memberikan informasi metodologi bagi cara-cara menyampaikan dakwah agar relevan dengan orang yang diserunya.
  1. Memberi Informasi tentang Sirah Kenabian
Penahapan turunnya wahyu seiring dengan perjalanan dakwah nabi, baik di Mekkah atau Madinah, mulai diturunkannnya wahyu terakhir.















BAB III
KESIMPULAN

Berbagai pendekatan ilmu-ilmu al-Quran yang berkembang mempunyai aspek penekanan yang berbeda, serta mempunyai kekuatan dan kelemahan yang relatif berbeda pula. Berbagai metode pendidikan dan pengajaran yang digunakan oleh berbagai pendekatan tentang memahami ilmu-ilmu al-Quran yang berkembang dapat digunakan juga dalam pelaksanaan pendidikan budi pekerti yang proses pembelajarannya memadukan ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.
Merupakan hal yang sangat penting dalam mempelajari ilmu-ilmu al-Quran terutama pembagian surat Makkiyyah dan Madaniyyah sesuai dengan nuzulnya, dengan memperhatikan wakru, tempat, dan pola kalimat.
Cara demikian merupakan ketentuan cermat yang memberikan kepada peneliti objektif, gambaran mengenai penyelidikan ilmiah tentang ilmu Makki dan Madani. Dan itu pula sikap ulama kita dalam melakukan pembahasan-pembahasan terhadap aspek kajian Quran lainnya.
Pentingnya mempelajari ayat-ayat Quran sehingga dapat menentukan waktu serta tempat turunnya dan, dengan bantuan tema surat dan ayat, merumuskan kaidah-kaidah analogi untuk menentukan apakah sebuah seruan itu termasuk Makki atau Madani, ataukah ia merupakan tema-tema yang menjadi titik tolak dakwah di Mekkah atau di Madaniah.
Pelaksanaan program-program pendidikan tentang ilmu-ilmu Al-Quran perlu disertai dengan keteladanan guru, orang tua, dan para ulama pada umumnya. Lingkungan sosial yang kondusif bagi para siswa, baik dalam keluarga, di sekolah, dan dalam masyarakat juga memberikan kontribusi positif dalam penerapan pendidikan ilmu-ilmu Al-Quran secara holistik.


DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Rosihon, M.Ag., 2008, Ulum Al-Quran, Bandung: Pustaka Setia.
Hasbi ash-Shiddeqy, Teungku Muhammad, 2008, Ulum Al-Quran, Bandung: Pustaka Setia.
Anwar, Rosihon, M.Ag., 2009, Ulum Al-Quran, Bandung: Pustaka Setia.
Khalil, al-Qattan Manna, 2009, Studi Ilmu-Ilmu Quran, Jakarta: Halim Jaya.

0 komentar:

Poskan Komentar