tiga makna utama dari kata islam

TIGA MAKNA UTAMA DARI KATA ISLAM
  1. Islam adalah agama maksudnya yaitu agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan
Tuhan kepada masyarakat manusia melalui Nabi Muhammad saw. sebagai Rasul. Islam pada hakikatnya membawa ajaran-ajaran yang bukan hanya mengenai satu segi, tetapi mengenai berbagai segi dari kehidupan manusia. Sumber dari ajaran-ajaran yang mengambil berbagai aspek itu ialah Al-Qur'an dan hadits.
Dalam paham dan keyakinan umat islam Al-Qur'an mengandung sabda tuhan yang diwahyukan pada Nabi Muhammad. Sebagai dijelaskan Al-Qur'an, wahyu ada tiga macam surah 42(Al-Syura) ayat 51 dan 52 mengatakan yang artinya: “Tidak dapat terjadi bagi manusia bahwa Tuhan berbicara dengannya kecuali melalui wahyu, atau dari belakang tabir ataupun melalui utusan yang dikirim, maka disampaikanlah kepadanya dengan seizin Tuhan apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Tuhan maha tinggi dan maha bijaksana. Demikianlah Kami kirimkan kepada roh atas perintah Kami”.
Wahyu dalam bentuk pertama tersebut di atas kelihatannya adalah pengertian atau pengetahuan yang tiba-tiba dirasakan seseorang timbul dalam dirinya; timbul dengan tiba-tiba sebagai cahaya yang menerangi jiwanya. Wahyu bentuk kedua, ialah pengalaman dan penglihatan didalam keadaan tidur atau didalam keadaan trance. Didalam bahasa asingnya ini disebut ru'ya (dream) atau kasy (vision). Wahyu bentuk ketiga ialah yang diberikan melalui utusan, atau malaikat, yaitu Jibril dan wahyu serupa ini diberikan dalam bentuk kata-kata.
Bahwa wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad adalah wahyu dalam bentuk ketiga, dijelaskan juga dalam Al-Qur'an (Al-Syu'ara) ayat 192-195 mengatakan:
وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ (192) نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ (193) عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ (194) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ
Sesungguhnya ini adalah wahyu Tuhan semesta alam. Dibawa turun oleh Roh setia kedalam hatimu agar engkau dapatmemberi ingat. Dalam bahasa arab yang jelas.
Selanjutnya surah 16 (An-Nahl) ayat 102 menyebutkan:
قُلْنَزَّلَهُرُوحُالْقُدُسِمِن رَّبِّكَبِالْحَقِّلِيُثَبِّتَالَّذِينَآمَنُواْوَهُدًىوَبُشْرَىلِلْمُسْلِمِينَ
Katakanlah: Roh suci membawakannya turundengan kebenaran dari Tuhanmu untuk meneguhkan (hati) yang percaya dan untuk menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang yang berserah diri.
Hadits-hadits juga banyak menjelaskan tentang wahyu yang diberikan kepada Nabi Muhammad saw. adalah melalui Jibril. Dalam hadits Aisyah bahwa wahyu yang pertama diturunkan kepada Nabi, dapat kita baca bagaimana Jibril ketatnya merangkul beliau, sehingga beliau merasa sakit dan kemudian disuruh mengulangi apa yang diturunkan Jibril itu:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ
Bacalah dengan nama Tuhan yang menciptakan, menciptakan manusia dari segumpal darah. Baca dan Tuhanmu mahapemurah.
Dalam hadits lain, sewaktu ditanya bagaimana caranya wahyu turun kepada beliau, Nabi Muhammad menerangkan: “Wahyu itu terkadang turun debagai suara lonceng dan inilah yang terberat bagiku. Kemudian ia (Jibril) pergi dan akupun sudah mengingst apa yang diturunkannya. Terkadang malaikat itu datang dalam bentukmanusia, berbicara kepadaku dan akupun mengingat apa yang dikatakannya”.
Atas dasar ayat-ayat dan hadits-hadits serupa inilah kita umat idlam mempunyai keyakinan bahwa apa yang terkandung dalam Al-Qur'an adalah sabda Tuhan, dengan kata lain teks Arab tersebut dalam Kitab Suci itu adalah wahyu dari Tuhan. Hanya kata-kata Arab yang tersebut dalam teks itulah yang diakui sebagai wahyu, dan kalau diganti dengan kata-kata Arab lain sungguhpun sinonimnya, itu tidak diakui wahyu. Apalagi terjemahannya kedalam bahasa asing, semua itu bukan lagi merupakan wahyu, atau Al-Qur'an yang sebenarnya.
Dalam hal ini, wahyu menurut paham islam, berlainan dengan wahyu menurut ajaran agama lain, umpamanya agama kristen. Dalam agama ini, Injil dan teksnya bukanlah wahyu, yang diwahyukan hanyalah isi atau arti yang terkandung dalam teks itu. Maka terjemahannya dalam bahasa-bahasa aing dianggap sama kuat. Berdasarkan atas ini ada kaum Orientalis yang mengatakan: sabda Tuhan dalam islam menjelma menjadi Al-Qur'an, sedang dalam agama kristen sabda Tuhan menjelma menjadi Jesus.
Wahyu yang dalam bentuk kata-kata itu disampaikan kepada Nabi Muhammad, turun bukan sekaligus tetapi sepotong-demi sepotong dalam masa kurang lebih 23 tahun. Yang dilakukan Nabi pada waktu itu ialah setiap wahyu turun, itu beliau sampaikan kepada sahabat-sahabat untuk dihapal dan untuk dicatat. Zaid ibn sabit sekertaris utama yang mencatat dalam bidang tulisan ayat-ayat yang diturunkan itu. Selain dari sekertaris ini disebut juga nama-nama para sahabat lain yang di suruh mencatat, seperti Abu Bakar, Usman, Ali, Zubair ibn Awam, Abdullah Ibn Sa'ad dan Ubay Ibn Kaab. Ayat-ayat itu ditulis diatas batu, tulang pelepah korma dan lain-lain. Penghafal-penghafal profesional, sebagai diakui oleh A. Guillaume merupakan bagian dari anggota masyarakat, yaitu bagian yang tidak boleh tidak mesti ada dalam masyarakat Arab dahulu. Merekalah yang menghafal syair-syair Arab Jahiliah dalam keseluruhannya dan merekalah yang menyebarkan ke daerah-daerah dan meneruskan dari generasi ke generasi. Penghafal-penghafal ini besar peranannya dalam jaman Jahiliah dan penting pula perannya dalam sejarah pengumpulan ayat-ayat dalam bentuk buku seperti yang dikenal sekarang.
Pengumpulan dan penulisan ayat-ayat itu dalam bentuk buku, terjadi setelah banyaknya sahabat-sahabat yang menghafal al'quran yang gugur dalam peperangan semasa Abu Bakar, satu dua tahun setelah wafatnya Nabi Muhamad. Dengan gugurnya penghafal-penghafal alquran dihawatirkan bahwa ayat-ayat alquran akan turut hilang. Maka atas anjuran umar, Abu Bakar memerintahkan Zaid Ibn Sabit dan sahabat-sahabat lain, untuk mengumpulkan ayat-ayat yang tertulis dalam batu, tulang-tulang. Pelepah korma dan yang dihafal oleh sahabat-sahabat dalam bentuk satu buku. Yang satu ini kemudian diperbanyak eksemplarnya ole Usman (644-655M), dan dikirim ke daerah-daerah untuk menjadi pegangan tertulis umat Islam yang ada disana. Dari teks Usman inilah kopi-kopi selanjutnya ditulis dan dicetak.
Berdasarkan atas sejarah pembukuan yang jelas ini umat Islam berkeyakinan bahwa teks Al-Quran yang ada sekarang betul-betul sesuai dengan apa yang diwahyukan kepada Nabi Muhamad. Bahwa Al-Quran sekarang betul orisinil dari Nabi Muhamad diakui juga
oleh orang-orang orientalis. Nicholson umpamanya mengatakan “...its genuineness is above suspicion”. Dan Gibb, menulis “...it seems reasonably well established...that the original form adn contents of Mohamad's discourses were presevred with serupulous precision”.
Demikianlah, teks al Al-Quran adalah orisinil dari Nabi dan adalah wahyu yang beliau terima dari Tuhan dan Jibril dalam bentuk kata-kata yang didengar dan dihafal, dan bukan dalam bentuk pengetahuan yang dirasakan dalam hati atau yang dialami dan dilihat dalam mimpi atau keadaan trance.
Hadis, sebagai sumber kedua ajaran Islam, mengandung suanah atau tradisi Nabi Muhamad. Sunnah boleh mempunyai bentuk ucapan, perbuatan atau persetujuan secara diam dari Nabi.
Berlainan halnya dengan Al-Quran, hadits tidak dikenal dicatat tidak dikenal dizaman Nabi. Alasan yang selalu dikemukakan ialah bahwa pencatatan dan penghafalan hadits dilarang oleh Nabi. Karena dikawatirkan bahwa dengan demikian terjadi percampur bauran antara Al-Quran sebagai sabda Tuhan dan hadits sebagai ucapan-ucapan nabi, ada disebutkan bahwa Umar Ibn Al-Khatab. Khalifah kedua, berniat membukukan hadits, tetapi karena takut akan terjadi kekacauan antara Al-Quran dan Hadits, Niat itu tidak jadi di laksanakan.
Pembukuan terjadi di permulaan abad kedua Hijri, yaitu ketika Khalifah Umar Abd Al-Aziz (717-720) meminta dari Abu Bakar Muhamad Ibn Umar dan Muhamad Ibn Syahib Al-Zuhri, mengumpulkan hadits Nabi yang dapat mereka peroleh. Di tahun 140 H, Malik Ibn Anas menyusun hadits Nabi dalam Buku Al-Mueatta'.
Pembukuan secara besar-besaran terjadi di abad ketiga Hijriah oleh Bukhari, Muslim, Abu Daud, Al-Nasa'i, Al-Tarmizi dan Ibn Majah. Keenam buku kumpulan hadits inilah yang banyak dipakai sampai sekarang.
Karena hadits tidak dihafal dan tidak dicatat dari sejak semula, tidaklah dapat diketahui dengan pasti mana hadits yang betul-betul berasal dari Nabi dan mana hadits yang dibuat-buat. Abu Bakar dan Umar sendiri, walaupun mereka sejaman dengan nabi, bahkan dua sahabat yang terdekat dengan Nabi, tidak begitu saja menerima hadits yang disampaikan kepada mereka. Abu Bakar memita supaya dibawah saksi yang memperkuat hadis itu berasal dari Nabi, dan Ali Bin Abu Thalib meminta supaya pembawa haits bersumpah atas kebenarannya.
Dalam pada itu jumlah hadits dikatakan berasal dari Nabi bertambah banyak, sehingga keadaanya bertambah sulit mana hadits yang orisinil dan mana hadits yang dibuat-uat. Diriwayatkan bahwa Bukhari mengumpulkan 600.000 (enam ratus ribu) hadits, tetapi setelah mengadakan sealeksi, yang dianggapnya hadits orisinil hanya 3.000 (tiga ribu) dari yang 600.000 itu, yaitu hanya setengah persen.
Tidak ada kesepakatan kita sebagai umat Islam tentang keorisinilan semua hadits dari Nabi. Jadi berlainan dengan ayat-ayat al-quran yang semuanya diakui oleh seluruh umat Islam adalah wahyu yang diterima Nabi dan kemudian beliau teruskan kepada umatnya, dalam keorisinilan hadis terdapat perbedaan antar umat Islam. Oleh karena itu kekuatan hadits sebagai sumber ajaran -ajaran Islam tidak sama dengan kekuatan Al-Quran.
Inilah dua sumber asli dari ajaran-ajaran Islam dalam segala aspeknya.
Ajaran yang terpenting dari Islam ialah ajaran tauhid, maka sebagai halnya dalam agama monoteisme atau agama tauhid lainnya yang menjadi dasar lain dalam ajaran Islam ialah pengakuan tentang adanya Tuhan Yang Maha Esa. Di samping ini menjadi dasar pula soal kerasulan, wahyu, kitab suci Al-Quran, soal orang yang percaya pada ajaran yang dibawa Nabi Muhamad, yaiyu soal mukmin dan muslim, soal orang yang tak percaya pada ajaran itu yakni orang kafir dan musyrik, hubungan makhluk, terutama manusia dengan Pencipta, soal akhir hidup manusia yaitu surga dan neraka, dan lain sebagainya.
Qsalah satu dasar ajaran lain dalam Islam adalah bahwa manusia yang tersusun dari badan dan roh itu berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan. Tuhan dalah suci dan roh yang datang dari Tuhan dan akan kembali ke sisinya, kalau ia tetap suci. Kalau ia menjadi kotor dengan masuk nya ia ke dalam tubuh manusia yang bersifat materi itu, ia tak akan dapat kembali ke tempat asalnya.
oleh karena itu harus diusahakan supaya roh tetap suci dan manusia menjadi baik. Ajaran Islam mengenai hal ini tersimpul dalam ibadat yang mengambil bentuk salat, zakat, haji dan ajaran-ajaran mengenai moral atau akhlak Islam. Nabi Muhamad memang mengatakan bahwa beliau datang untuk menyempurnakan pengertian budi pekerti luhur “aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan budi pekerti luhur” aspek ibadat dan moral ini juga merupakan aspek penting dari Islam.
Selanjutnya islam berpendapat bahwa hidup manusia di dunia tidak bisa terlepas dari hidup manusia di akhirat, bahkan lebih dari itu corak hidup manusia di dunia menentukan corak hidupnya di akhirat kelak. Kebahagiaan di akhirat bergantung pada hidup baik di dunia. Hidup baik menghendaki manusia hidup teratur. Oleh sebab itu islam mengandung aturan-aturan tentang kehidupan masyarakat manusia. Demikianlah terdapat peraturan-peraturan mengenai hidup kekeluargaan (perkawinan, perceraian, waris dan lain-lain) tentang hidup ekonomi dan lain-lain, tentang sewa-menyewa, pinjam-meminjam, perserikatan dan lain-lain, tentang hidup kenegaraan, tentang hubungan orang kaya dengan orang miskin dan sebagainya. Semua ini dibahas dalam lapangan hukum islam yang dalam istilahnya disebut ilmu fikih. Fikih memberikan gambaran tentang aspek hukum dan Islam.
  1. Pengertian islam dapat kita ubah dari dua aspek, yaitu aspek kebahasaan
dan aspek peristilahan. Dari kebahasaan, islam berasal dari bahasa arab, yaitu dari kata salima yang mengandung arti selamat sentosa, dan damai. Dari kata salima selanjutnya dirubah menjadi bentuk aslama yang artinya berserah diri masuk dalam kedamaian. Oleh sebab itu, orang yang berserah diri, patuh, dan taat kepada perintah Allah swt. disebut sebagai seorang muslim. Dari uraian tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa kata islam dari segi kebahasaan mengandung arti patuh, tunduk, dan berserah diri kepada Allah swt. dalam upaya mencari keselamatan dan kebahagiaan hidup didunia dan diakhirat. Hal itu dilakukan karena kesadaran dan kemauan diri sendiri, bukan paksaan atau berpura-pura, melainkan sebagai panggilan dari fitrahdirinya dari makhluk yang sejak dalam kandungan telah menyatakan patuh dan tunduk kepada Allah swt.
Adapun pengertian islam dari segi istilah, banyak ahli yang mendefinisikannya. Harun Nasution mengatakan bahwa islam menurut istilah (islam sebagai agama) adalah agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan kepada manusia melalui Nabi Muhammad saw. sebagai Rasul. Islam pada hakikatnya membawa ajaran-ajaran yang bukan hanya mengenal satu segi, tetapi mengenal berbagai segi dari kehidupan manusia.4 Sementara itu Maulana Muhammad Ali mengatakan bahwa islam adalah agama perdamaian dan dua ajaran pokoknya yaitu keesaan Allah dan kesatuan atau persaudaraan umat manusia menjadi bukti nyata bahwa agama islam selaras dengan namanya. Islam bukan saja dikatan sebagai agama seluruh nabi Allah, sebagaimana tersebut didalam Al-Qur'an, melainkan pula pada segala sesuatu yang secara tidak sadar tunduk sepenuhnya pada undang-undang Allah.5
Agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. dan yang dibawa oleh nabi-nabi sebelumnya dinamakan islam, arti kata islam ialah masuk dalam perdamaian, dan seorang muslim ialah seorang yang membuat perdamaian dengan Tuhan dan dengan manusia. Damai dengan tuhan berarti tunduk dan patuh secara menyeluruh kepada Allah, sedangkan damai dengan manusia tidak hanya meninggalkan perbuatan buruk dan menyakitkan orang lain. Kedua makna perdamaian itu merupakan esensi dari agama islam.
Islam pada dasarnya adalah agama perdamaian, dan ajaranya yang pokok adalah ke essaan Allah. Islam ingin menciptakan kehidupan dunia yang damai dan rukun diantara umat manusia.6 Islam adalah agama yang mencakup semua ajaran agama yang sebelumnya telah diturunkan kepada para Nabi dan Rasul. Oleh karena itu, islam menuntut pemeluknya untuk percaya kepada semua agama didunia yang mendahuluinya yang diturunkan Tuhan. Seorang muslim juga harus percaya kepada Nabi dan Rasul yang diutus sebelum Nabi Muhammad saw.


======================================================================
DAFTAR PUSTAKA
Alui, Dr. Q.A.R., As We Approach Islam, Lucknow, National Book Center

Ali, A.Y., The Massage.of Islam, London, John Murray, 1956.

Galwash, Dr. Ahmad A., The Religion of Islam, jilid 1 dan 2, Cairo, The Supreme Council for Islamic Affairs, 1966.

Gibb, H.A.R., Mohammadensim, Oxford University Press, 1954.

Gullaume, A., Islam, Pelican Mignal, 1954.

Mohammad Ali, The Religion of Islam, Lahore, 1950.

Nicholson, A Literary History of The Arabs, Cambridge University Press, 1961.

4Harun Nasution, Islam ditinjau dari berbagai aspeknya UI press, Jakarta, 1985, hlm. 24.
5Http://www.percikaniman.org
6H. A. Muktu Ali, op. Cip, hlm. 50.

0 komentar:

Poskan Komentar