Makalah berbahasa Arab

بَابُ اْلأَوَّلِ
اَ ْلأَوَّلِيَّةُ

1.اَ لْخَلْفِيَّةُ
وَحْدَةُ الْمُسْكِلَةِ لاَ تَزَالُ مَوْضِعُ شَكِّ هُوَ اْلأَفْعَالُ الَّتِى تُصْنِفُ. اَكَانَ قَدْ تَمَّ تَصْنِيْفُ الْمَمَارَسَةِ اْلقَائِمَةِ عَلَى اْلإِخْلاَصِ اَمْ لاَ؟ ِلإَنَّ الْكَثِيْرُ مِنَ النَّاسِ خُصُوْصًا لِلْمُسْلِمِيْنَ عَمَلُوا الْعِبَادَةِ دُوْنَ اْلإِخْلاَصِ. وَلَكِنْ كَثِيْرُ مِنَ النَّاسِ يَعْمَلــُوْنَ الْعِبَادَةِ بِالرِّ يَا.
1.Latar Belakang
Salah satu persoalan amalan-amalan yang masih dipertanyakan adalah amalan yang dikategorikan apakah sudah termasuk kategori amalan yang disadari keikhlasan atau bukan? Karena banyak orang-orang khususnya umat Islam yang melakukan ibadah tanpa didasari keikhlasan, melainkan hanya ingin mendapat pujian orang lain semata (riya).
صِيَاغَةُ الْمُسْكِلَةُ
أ. تَعْرِيْفُ اْلإِخْلاَصُ
ب. اِخْلاَصُ فِى اْلقُرْآَنِ وَالْحَدِيْثُ
2.Rumusan Masalah
a.Pengertian Ikhlas
b.Ikhlas menurut al-Qur’an dan Hadits


بَابُ الثَّانِى
اَ لْمُنَاقَسَةُ

1.تَعْرِيْفُ اْلإِخْلاَصُ
اَ ْلإِخْلاَصُ هُوَ مَصْدَارٌ مِنْ اَخْلاَصَ - يَخْلِصُ – اِخْلاَصٌ. وَمَعْنَهُ فِى اللُّغَةِ هِيَ الصَّفَى. اْلإِخْلاَصُ اَحَدٌ مِنَ الصِّفَاتِ الْمَحْمُوْدَةُ. وَاْلإِخْلاَصُ هُوَ اَسَاسُ اْلأَعْمَالِ وَرُوْحُمَا وَلاَ تَصِحُ وَلاَ تُقْبَلُ عِنْدَ اللهِ بِدُوْنِهِ، وَمَعْنىَ اْلإِخْلاَصُ هِيَ اَنْ تَعْمَلَ اللهَ وَحْدَهُ، لِيَرْضَى عَنْكَ وَ ُيثِيْبَكَ، وَاَنْ يَكُوْنَ عَمَلُكَ خَالِصًا عَنِ الشَّوَائِبِ النِّيَاتِ اْلأُخْرَى كَطَالِبُ شَهْرَةٍ اَوْ مَالٍ اَوْجَاهٍ.
1.Pengertian Ikhlas
Ikhlas adalah kata masdar dari “akhlasha-yukhlishu-ikhlashun.” Dan maknanya menurut bahasa Arab adalah bersih, ikhlas merupakan salah satu dari sifat-sifat terpuji dan ikhlas adalah dasar dan runhya amal. Tidak sah dan diterima suatu amal di sisi Allah tanpanya. Dan makna ikhlas adalah beramal karena Allah semata, untuk mendapat ridho dan pahala dari-Nya agar amalmu bersih dari niat-niat tercela lain seperti mencari popularitas, harta atau kehormatan.
فَعَلَيْكَ بِاْلإِخْلاَصِ فِى اعْتِقَادِكَ وَقَوْلِكَ وَفَعَالِكَ وَقَوْلِكَ لِتَكُوْنَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ الصَّادِقِيْنَ، الْفَاِئزِيْنَ بِرِضَاِء رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَاَحْدَرَ مِنَ الصِّفَةِ الْقَبِيْحَةِ كَالرِّ يَاءِ فِى ذَلِكَ. حَتَّى تَسْلَمَ مِنَ الشِّرْكِ وَاْلإِثْمِ وَ يَسْلَمَ عَمَلَكَ مِنَ الرَّدِّ وَاْلبُطْلاَنِ كَمَا فِى الْحَدِيْثِ "اِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ"
Maka penting bagimu ikhlas dalam tekad, ucapan, dan perbuatanmu agar kamu termasuk dari orang-orang beriman yang benar, yang mendapat ridho Tuhan semesta alam. Dan berhati-hatilah dari sifat-sifat jelek seperi riya dalam beramal. Sehingga kamu selamat dari syirik dan dosa kemudian amalmu selamat dari penolakan dan batal seperti dalam hadits “Sesungguhnya amal itu tergantung dari niatnya.”

b.اِخْلاَصُ فِى ْالقُرْآَنِ وَالْحَدِيْثِ
بَعْضُ اْلآَيَاَتِ وَالْحَدِيْثِ تُحْدَثُ عَنْ أَهْمِيَةِ وُجُوْدُ شَخْصٍ يَنْطَبِقُ اِخْلاَصُ فِى اْلعَمَلِ. اِذَا عَمَلَ الْعِبَادَةِ، وَذَلِكَ عِنْدَ مَا اِخْلاَصُ مَطْلُوْبٌ دَائِمًا.
Sejumlah ayat-ayat al-Qur’an berbicara tentang pentingnya seseorang berlaku ikhlas dalam beramal. Apabila kita melakukan amal tersebut untuk ibadah, saat itulah keikhlasan senantiasa diperlukan.
كَمَا قَالَ اللهُ تعََالَى فِى اْلقُرْآَنِ اْلكَرِيـْمِ. قُلْ اَمَرَ رَبِّى بِالْقِسْطِ قلى وَاَقِيْمُوا وُجُوْهَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَادْعُوْهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيـْـنَ كَمَا بَدَاَكُمْ تَعُوْدُوْن.َ
Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an surat Al-A’raf ayat 29 “katakanlah”, Tuhanku menyuruhku berlaku adil. Hadapkanlah wajahmu (kepada Allah) pada setiap shalat, dan sembahlah Dia dengan mengikhlaskan ibadah semata-mata hanya kepada-Nya sebagaimana kamu diciptakan semula.
تَعْنِى كَلِمَةُ " اَقِيْمُوا وُجُوْهَكُمْ" هُوَ صَبُّ اْلإِهْتِمَامُ الْخَاصِ اِلَى تِلْكَ الْعِبَادَةِ اِرْكَزْ اِهْتِمَامَكَ ِللهِ
Maksud kata “luruskanlah muka (diri)mu” adalah tumpahkanlah perhatianmu kepada sembahyang itu, dan pusatkanlah perhatianmu semata-mata karena Allah SWT.
اَ لْبَيِّنَةُ: اَ يَةُ الْخَمْسَةِ
وَمَا اُمِرُوا اِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيــْنَ حُنَفَآءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلاَةَ وَ يُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِ.
Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas mentaati-Nya semata-mata karena menjalankan agama, dan juga gar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).
تَعْنِى كَلِمَةُ "دِيْنُ الْقَيِّمَةُ" يَعْنِى بُعْدٍ مِنَ الشِّرْكِ (اِتَّعَاُد اللهِ) وَبُعْدٍ مِنَ الضَّلِ.
Maksud kata “ agama yang lurus” berarti jauh dari syirik (mempersekutukan Allah) dan jauh dari kesesatan.
Ayat-Ayat Perintah Agar Ikhlas

Allah Ta'aala berfirman:

                                              
"Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)". (QS. Al-An'aam: 162-163).
          
"Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak diibadahi) melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Baqarah: 163).
       
"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan sesuatupun." (QS. An-Nisaa': 36).
      
"Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui." QS. Al-Baqarah: 22).
               
"Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak diibadahi) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku". (QS. Al-Anbiyaa': 25).
                         
"Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya". (QS. Al-Kahfi: 110).
Ayat-Ayat Ancaman Tidak Ikhlas Allah Ta'aala berfirman:
        
“Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat.” (QS. Ali 'Imraan: 152).
          
"Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu)." (QS. Al-Anfaal: 67).
                                
“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Huud: 15-16).
                               
"Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik." (QS. Al-Israa': 18-19)
                       
"Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat." (QS. Asy-Syuuraa: 20)
                              
"Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: "Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut'ah (yaitu suatu pemberian yang diberikan kepada perempuan yang telah diceraikan menurut kesanggupan suami) dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keredhaan) Allah dan RasulnyaNya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar." (QS. Al-Ahzaab: 28-29).
اَمَّا بِالنِّسْبَةِ حَدِيْثِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: عَنْ اَبِى مُوْسَى عَبْدُ اللهِ بْنِ قَيْسِ اْلأَشْعَرِيُّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ عَنِ الرَجُلِ يُقَاتِلُ شَجَاعَةً وَيُقَاتِلُ حَمِيَّةً وَيُقَاتِلُ رِيَاءً أَيُّ ذَلِكَ فِى سَبِيْلِ اللهِ فَقاَلَ رَسُوْلُ اللهِ مَنْ قَتَلَ لِتَكُوْنَ كَلِمَةُ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِى سَبِيْلِ اللهِ.
Adapun menurut hadits Nabi Muhammad saw bersabda: Abu Musa Abdullah bin Qais Al-Asy’ariry ra berkata. “Rasulullah saw pernah ditanya, manakah yang termasuk berperang di jalan Allah? Apakah berperang karena keberanian, kesukuan atau berperang karena riya? Rasulullah saw menjawab “siapa saja yang berperang dengan maksud agar kalimat Allah terangkat itulah perang di jalan Allah.” (HR. Bukhari Muslim).
اَ لْحَرْبُ الْقَِبلِيَّةِ هُوَ حَرْبٌ مِنْ اَجْلِ النَّفْسِ، وَالشَّرَفِ، وَهَيْبَةُ اْلأُسْرَةِ الْقَبِيْلَةِ اَوِ اْلأُمَّةِ
Berperang kesukuan adalah berperang demi harga diri, kehormatan, dan wibawa keluarga, suku atau bangsa
اَ لْحَرْبُ مِنْ اَجْلِ الرِّياَ هُوَ حَرْبٌ لِلْأُمُلِ وَحَمِدَ مِنَ النَّاسِ
Berperang karena riya adalah karena mengharapkan pengakuan dan pujian dan manusia.

اَمَّا الْقَصْدُ الْحَرْبُ فِى سَبِيْلِ اللهِ هُوَ النَّاسُ الَّذِيْنَ قَاتِلُوْا مِنْ اَجْلِ التَّمَسُّكِ بِالدِّيـْـنِ اْلإِسْلاَمِيِّ وَتَعْلِيْمِهِ.

Sedangkan maksud perang fi sabilillah adalah orang yang berperang demi tegaknya agama Islam dan ajaran-ajarannya.
اَلْحِكْمَةُ مِنْ وَرَاءِ هَذَا الْحَدِ يْثِ هُوَ: جَمِيْعُ اْلاَعْمَالِ تَعْتَمِدُ اِلَى التَّقَى النِّوَايَا.
Hikmah yang teradapat dalam hadits ini, antara lain: semua perbuatan bergantung kepada niat yang saleh.
كَثِيْرٌ مِنَ اْلأَسْبَابِ وَالدَّوَافِعِ وَقَدْ تَمَّ ذَلِكَ لِلْعَمَلِ، بِمَا فِى ذَلِكَ الْحَرْبِ، وَبِمَا فِى ذَلِكَ الشُّؤُوْنِ الصَّلاَةِ. لَكِنْ، سَوْفَ لاَ يَعْنِى جَمِيْعًا، وَلَيْسَ لَهَا الْقَيْمَةِ كَمَا عَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فِى نَظْرِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالىَ بِدُوْنِ اْلإِخْلاَصِ.
Banyak alasan dan motivasi seseorang yang dilakukan dalam beraktivitas, termasuk dalam berperang, bahkan termasuk urusan shalat. Namun semua akan tiada berarti dan tiada bernilai sebagai amal shaleh di mata Allah swt tanpa disertai dengan keikhlasan.
تَقْبِلُ الْوَضْعِ مَعَ اْلإِخْلاَصِ لَيْسَ بِالضَّرُوْرَةِ يُمْكِنُ اَنْ ُيتِمَّ مَعَ الشَّخْصِ نَاهِيَكَ عَنِ الْمَعَانَةِ. اْلإِخْلاَصُ هُوَ اِمْتِحَانُ لِرُوْحِ اِلَى الشَّجَاعَةِ فِى مَوَاجِهَةِ الشَّدَائِدِ.
Menerima keadaan dengan ikhlas belum tentu dapat dilakukan setiap orang, apalagi dalam penderitaan, keikhlasan merupakan ujian jiwa menjadi orang yang tabah dalam menghadapi kesulitan.

بَابُ الثَّالِثُ
اَ ْلإِخْتِتَامُ


اَ لْحَمْدُ ِللهِ قَدَرْتَ فِى صَنْعِ هَذِهِ الْمَقَالَةِ وَلَوْ كَانَ لَمْ تَكُنْ كَامِلاً. عَسَى هَذِهِ الْمَقَالَةِ عَنِ اْلإِخْلاَصِ لَهُ مَنْفَعَةٌ لَنَا جَمِيْعًا.


Alhamdulillah makalah ini telah selesai, meskipun jauh dari kesempurnaan. Mudah-mudahan makalah tentang “ IKHLAS”ini bermanfaat bagi kita semua. Amin…….


قَائِمَةُ الْمَرَاجِعُ

Qardhawi, Yusuf, Ikhlas Sumber Kekuatan Islam
Ahmad Hadi Yasin, Meraih Dahsyatnya Ikhlas
Laa HS, Surga Ikhlas
Budi Handrianto, Kebeningan dan Pikiran
Al-Ghazali, ikhtisar ihya ulumuddin

0 komentar:

Poskan Komentar