Resume Sejarah Dakwah


BAB I
Pengertian, Ruang Lingkup, Kedudukan, dan Fungsi Sejarah Dakwah
A.    Pengertian Sejarah Dakwah
“Sejarah Dakwah” berasal dari dua kata, yaitu “sejarah” dan “dakwah”. Perkataan Sejarah (History) yang kita gunakan pada masa kini berpunca daripada perkataan Arab iaitu Syajaratun yang bermaksud Pohon. Dari sudut lain pula, istilah history merupakan terjemahan dari perkataan Yunani yakni Histories yang membawa makna satu penyelidikan ataupun pengkajian.
Mengikut pandangan "Bapa Sejarah" Herodotus, Sejarah ialah satu kajian untuk  menceritakan satu kitaran jatuh bangunnya seseorang tokoh, masyarakat dan peradaban.[1] Definisi yang diberikan oleh Aristotle, bahawa Sejarah merupakan satu sistem yang mengira kejadian semulajadi dan tersusun dalam bentuk kronologi. Pada masa yang sama, menurut beliau juga Sejarah adalah peristiwa-peristiwa masa lalu yang mempunyai catatan, rekod-rekod atau bukti-bukti yang kukuh.[2]
Menurut R. G. Collingwood, Sejarah ialah sejenis bentuk penyelidikan atau suatu penyiasatan tentang perkara-perkara yang telah dilakukan oleh manusia pada masa lampau.[3] Manakala Shefer pula berpendapat bahawa Sejarah adalah peristiwa yang telah lepas dan benar-benar berlaku.[4] Sementara itu, Drs. Sidi Gazalba cuba menggambarkan sejarah sebagai masa lampau manusia dan persekitarannya  yang disusun secara ilmiah dan lengkap meliputi urutan fakta masa tersebut dengan  tafsiran dan penjelasan yang memberi pengertian dan kefahaman tentang apa yang berlaku.[5] Sebagai usaha susulan dalam memahami sejarah, Kamus Dewan Bahasa dan Pustaka telah memberikan Sejarah sebagai asal-usul, keturunan, salasilah, peristiwa yang benar-benar berlaku pada waktu yang lampau, kisah, riwayat, tambo, tawarikh dan kajian atau pengetahuan mengenai peristiwa yang telah berlaku.[6]
Sejarah dalam erti kata lain digunakan untuk mengetahui masa lampau berdasarkan fakta-fakta dan bukti-bukti yang sahih bagi membolehkan manusia memperkayakan pengetahuan supaya waktu sekarang dan akan datang menjadi lebih cerah. Dengan itu akan timbul sikap waspada (awareness) dalam diri semua kelompok masyarakat kerana melalui pembelajaran Sejarah, ia dapat membentuk sikap tersebut terhadap permasalahan yang dihadapi agar peristiwa-peristiwa yang berlaku pada masa lampau dapat dijadikan pengajaran yang berguna. Pengertian Sejarah boleh dilihat dari tiga dimensi iaitu epistomologi (kata akar), metodologi (kaedah sesuatu sejarah itu dipaparkan) dan filsafat atau pemikiran peristiwa lalu  yang dianalisa secara teliti untuk menentukan sama ada ia benar atau tidak.[7]
Pengertian dakwah bagi kalangan awam disalahartikan dengan pengertian yang sempit terbatas pada ceramah, khutbah atau pengajian saja. Pengertian dakwah bisa kita lihat dari segi bahasa dan istilah. Berikut akan kita bahas pengertian dakwah secara etimologis dan pengertian dakwah secara terminologis.
a.       Etimologis
Kata dakwah adalah derivasi dari bahasa Arab “Da’wah”. Kata kerjanya da’aa yang berarti memanggil, mengundang atau mengajak. Ism fa’ilnya (red. pelaku) adalah da’I yang berarti pendakwah. Di dalam kamus al-Munjid fi al-Lughoh wa al-a’lam disebutkan makna da’I sebagai orang yang memangggil (mengajak) manusia kepada agamanya atau mazhabnya . Merujuk pada Ahmad Warson Munawir dalam Ilmu Dakwah karangan Moh. Ali Aziz (2009:6), kata da’a mempunyai beberapa makna antara lain memanggil, mengundang, minta tolong, meminta, memohon, menamakan, menyuruh datang, mendorong, menyebabkan, mendatangkan, mendoakan, menangisi dan meratapi.

b.      Terminologis 
Definisi dakwah dari literature yang ditulis oleh pakar-pakar dakwah antara lain adalah:
Dakwah adalah perintah mengadakan seruan kepada sesama manusia untuk kembali dan hidup sepanjang ajaran Allah yang benar dengan penuh kebijaksanaan dan nasihat yang baik (Aboebakar Atjeh, 1971:6)
Dakwah adalah menyeru manusia kepada kebajikan dan petunjuk serta menyuruh kepada kebajikan dan melarang kemungkaran agar mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat (Syekh Muhammad Al-Khadir Husain).
Dakwah adalah menyampaikan dan mengajarkan agama Islam kepada seluruh manusia dan mempraktikkannya dalam kehidupan nyata (M. Abul Fath al-Bayanuni).
Dakwah adalah suatu aktifitas yang mendorong manusia memeluk agama Islam melalui cara yang bijaksana, dengan materi ajaran Islam, agar mereka mendapatkan kesejahteraan kini (dunia) dan kebahagiaan nanti (akhirat) (A. Masykur Amin)
Dari defenisi para ahli di atas maka bisa kita simpulkan bahwa dakwah adalah kegiatan atau usaha memanggil orang muslim mau pun non-muslim, dengan cara bijaksana, kepada Islam sebagai jalan yang benar, melalui penyampaian ajaran Islam untuk dipraktekkan dalam kehidupan nyata agar bisa hidup damai di dunia dan bahagia di akhirat. Singkatnya, dakwah, seperti yang ditulis Abdul Karim Zaidan, adalah mengajak kepada agama Allah, yaitu Islam.
Dengan demikian “sejarah dakwah” dapat diartikan sebagai peristiwa lampau umat manusia dalam upaya mereka menyeru, memanggil dan mengajak umat manusia kepada islam serta bagaimana reaksi umat yang diseur dan perubahan-perubahan apa yang terjadi setelah dakwah digulirkan, baik langsung maupun tidak langsung.
B.     Ruang Lingkup Sejarah Dakwah
Pembatasan ruang lingkup kajian dakwah berangkat dari jawaban pertanyaan kapan dakwah islam dimulai. Setidaknya ada dua pendapat besar tentang permulaan dakwah, yaitu:
1.      Peneliti yang menjadikan permulaan dakwah adalah pada masa Rasulullah saw. Pendapat ini menrujuk kepada terminologi khusus dari dakwah islamiyah, bahwa islam adalah agama yang dibawa oleh Nabi saw.
2.      Peneliti lain berpendapat bahwa permulaan dakwah adalah sejak diutusnya para nabi dan rosul. Pendapat ini merujuk kepada terminologi umum dari dakwah islamiyah, bahwa dakwah para nabi hakikatnya satu. Seluruh rasul telah menyampaikan islam dalam arti yang luas.
Berdasarkan dua pendapat di atas, maka bahasan mata kuliah “sejarah dakwah”seharusnya dapat dimulai sejak dimulainya dakwah, yaitu sejak nabi Nuh as. sampai “sejarah dakwah islam dunia modern”.
C.     Kedudukan dan Fungsi Sejarah Dakwah
Mata kuliah “sejarah dakwah” sangat penting diketahui oleh para da’i yang ingin mengemban risalah kenabian. Dengannya para da’i bercermin. Adapun fungsi mempelajari sejarah dakwah antara lain:
1.      Untuk mengetahui bagaimana strategi perjuangan para rasul dan kegigihan mereka dalam menyebarkan dakwah tauhid.
2.      Mengidentifikasi penyakit umat setiap zaman dan bagaimana mencari jalan keluar dari penyakit tersebut.
3.      Menentukan sikap dalam berdakwah dengan bercermin dari sejarah yang benar.
4.      Mengetahui faktor kemajuan dan kemunduranndakwah dari masa ke masa.
5.      Untuk memupuk semangat perjuangan da’i.
6.      Mengetahui sejauh mana dakwah islam telah dapat memengaruhi dan merombak jalannya sejarah, atau telah berhasil menciptakan realitas sosiokultural baru.
7.      Memprediksi apa yang bakal terjadi dengan peran islam dimasa yang mendatang dalam rangka penataan kehidupan masyarakat baru.



BAB II
Sejarah Dakwah Sebelum Nabi Muhammad SAW
(Nabi Nuh AS sampai dengan Nabi Isa AS)
1)      Dakwah Nabi Nuh AS
Dakwah nabi Nuh dalam Qur’an diungkap dalam satu surat lengkap, yaitu dalam surat Nuh. Dalam surat tersebut dikisahkan kepada kita tentang sebagian dari metode dakwah, prioritas dakwah, dan kesabaran beliau berkhidmat untuk kaumnya dalam waktu yang lama.
Prioritas dakwah beliau adalah meluruskan akidah umat. Mayoritas waktu beliau difokuskan untuk membenahi permasalahan akidah, mengajak umatnya untuk bertakwa kepada Allah, dan setia kepada dirinya. Berbagai metode beliau pakai. Kadang-kadang dengan cara mengingatkan bahaya pembangkangan, kadang-kadang menyampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang taat. Pada saat tertentu beliau bersikap keras, saat yang lain berlaku lemah lembut.
Kesabaran nabi Nuh menghadapi umatnya dan kesungguhan beliau dalam dakwah dengan menerapkan berbagai metode adalah contoh yang berharga bagi para da’i sepeninggal beliau.
2)      Dakwah Nabi Hud AS
Hud berdakwah kepada umatnya sebagaimana yang dilakukan nabi Nuh as. qur’an memberikan beberapa informasi tentang metode dakwah nabi Hud kepada kaumnya. Nabi Hud menggunakan metode komunikasi yang jitu kepada mereka. Beliau berusaha untuk mencari titik kesamaan yang sebanyak-banyaknya dengan umatnya dan mengingatkan prestasi-prestasi masa lalu kaumnya.
3)      Dakwah Nabi Shaleh AS
Dakwah utama nabi Shaleh adalah tauhid sebagaimana nabi yang lain. Beliau datang untuk meluruskan persepsi umatnya tentang asal-usul penciptaan dan tugas mereka di bumi.
            Nabi Shaleh sangat menguasai sejarah umatnya dan menggunakannya untuk kemaslahatan dakwah. Beliau mengingatkan kebesaran dan kejayaan bangsanya pada masa lalu yang pernah memimpin dunia setelah kaum ‘Ad. Kejayaan tersebut adalah karena kedekatan mereka dengan ajaran Allah dan tidak berbuat semena-mena di muka bumi. Manakala mereka menjauh, kehancuranpun terjadi.
4)      Dakwah Nabi Ibrahim AS
Al-Qur’an banyak mengisahkan tentang diskusi Ibrahim dengan bapaknya dan kaumnya, dan menjelaskan sedikit tentang metode dakwahnya, dan bagaimana Ibrahim memperlakukan patung sesembahan mereka. Al-Qur’an juga mengungkapkan pengingkaran kaumnya, penyiksaan mereka dan ancaman mereka untuk membakar Ibrahim dan akhirnya mereka laksanakan, tetapi Allah menyelamatkan Ibrahim.
5)      Dakwah Nabi Luth AS
Nabi Luth mengajak kaumnya untuk menyembah Allah dan melarangnya untuk berbuat maksiat dan kemesuman yang telah tersebar luas dikalangan mereka. Kaum Nabi Luth mendustakan Luth dan berencana untuk mengusirnya dari kalangan mereka sambil menentang agar mereka didatangkan azab. Allah menyelamatkan Nabi Luth dari rencana jahat mereka, dan Allah membinasakan mereka dengan mengirim hujan batu ke atas mereka.
6)      Dakwah Nabi Yusuf AS
Al-Qur’an tidak menjelaskan kepada kita tentang rincian dakwah Nabi Yusuf. Yang ada hanyalah isyarat-isyarat.
            Tentang Yusuf, Al-Qur’an hanya terfokus kepada biografi hidup beliau. Kisah dimulai dengan kedengkian saudara-saudaranya lalu melakukan maker terhadapnya. Kemudian cerita tentang cobaan demi cobaan yang dialami oleh beliau masa mudanya. Kisah Yusuf adalah symbol pemuda yang takwa dan sabar. Kehidupannya penuh dengan pelajaran yang sangat baik untuk dipetik.
7)      Dakwah Nabi Syuaib AS
Nabi Syuaib berdakwah kepada kaumnya agar menyembah Allah, meninggalkan kemungkaran dan tidak berbuat kerusakan dimuka bumi.
Kaum Nabi Syuaib menanggapi dakwahnya dengan mengolok-olok. Melihat sikap seperti itu, Nabi Syuaib menyikapinya dengan tenang dan lembut, dan mengingatkan kepada mereka tentang nasib kaum sebelum mereka yang mendustakan kenabian.
8)      Dakwah Nabi Musa AS
Nabi Musa diutus oleh Allah untuk bani Israil. Ia tumbuh di rumah Fir’aun, dan setelah dewasa ia diangkat oleh Allah menjadi Nabi dan diturunkan kepadanya Taurat. Dalam dakwahnya ia dibantu oleh saudaranya yaitu Harun AS.
9)      Dakwah Nabi Daud AS
Nabi Daud dalam berdakwah dibekali oleh Allah dengan kitab zabur. Selain itu, beliau juga memiliki suara yang indah, dapat menundukkan besi, Allah tundukan gunung sehingga bertasbih kepada-Nya bersama Daud, begitu juga burung, Allah kukuhkan kerajaannya dan Allah berikan kepadanya hikmah yang berbentuk kesempurnaan ilmu dan ketelitian amal perbuatan. Tetapi Qur’an tidak menjelaskan secara rinci bentuk dakwah Nabi Daud dan bagaimana sikap kaumnya terhadap beliau.
10)   Dakwah Nabi Sulaiman AS
Al-Qur’an juga tidak menjelaskan tentang dakwah Nabi Sulaeman dan respons kaumnya terhadap dakwahnya itu. Yang disebut dalam Al-Qur’an adalah keistimewaan dan mukjizat yang diberikan kepadanya.
Metode dakwah yang disebut dalam qur’an adalah metode dakwah beliau dengan menggunakan surat untuk mengajak ratu saba’ agar memeluk agama tauhid. Beliau memanfaatkan kerajaan besar beliau untuk memandu rakyatnya melaksanakan perintah Allah.




BAB III
Dakwah Nabi Muhammad SAW
A.    Dakwah Nabi di Makkah
Nabi Muhammad adalah nabi terahir yang di utus Allah. Beliau berasal dari nasab yang mulia dari keturunan nabi ismail bin Ibrahim. Beliau di utus untuk memperbaiki wajah dunia yang telah tercoreng dengan kejahiliahan.
Al-Mubarakfury menyimpulkan bahwa materi dakwah nabi Muhammad di Makkah adalah sebagi berikut:
a.       Tauhid
b.      Iman kepada hari kiamat
c.       Pembersih jiwa dengan menjauhi segala kemungkaran dan kekejian yang menimbulkan akibat buruk, dan dengan melakukan hal-hal yang baik dan utama.
d.      Penyerahan segala urusan kepada Allah
e.       Semua itu Setelah beriman kepada risalah Muhammad.
Selain Aqidah, masalah social juga mendapat perhatian pada dakwah di Makkah. Ajaran lain yang di tanamkan kepada rasulullah dalam rangka pembentukan kepribafian mulia adalah dengan mengajarkan secara bertahap ajaran-ajaran yang di turunkan oleh Allah, seperti shalat.
1.      Metode dakwah nabi di Makkah
Agar tujuan dakwah yang telah di tetapkan tidak bergeser beliau mengambil beberapa langkah di antaranya adalah:
a)      Tahapan dakwah secara rahasia selama tiga tahun. Orang-orang yang masuk islam pada masa ini adalah orang-orang yang terdekat dengan rasulullah, dan orang-orang yang di anggap mampu memegangrahasia. Orang yang pertama kali masuk islam adalah istrinya sendiri yaitu khadijah, selanjutnya zaid bin haritsah, ali bin abi thalib, dan teman dekat rasulullah yaitu abu bakar as-siddiq.
Di antara pendahulu kaum muslimin yang masuk islam pada masa ini adalah bilal bin rabah, abu ubaidah bin abil arqam, utsman bin madz’un dan dua saudaranya, qudamah dan lain-lain. Mereka masuk islam secara rahasia dan rasulullah membimbing mereka pun dengan rahasia pula.
b)      Tahapan dakwah secara terang-terangan terhadap penduduk Makkah (mulai tahun ke-4 kenabian sampai ahir tahun kenabian)
Dakwah terang-terangan terhadap penduduk Makkah di mulai sejak turunnya ayat 214 surat asy-syu’ara’ yang artinya: “dan berilah peringatan kepada kaum kerabatmu yang terdekat”.
Jalan dakwah rasulullah tidak mulus, banyak rintangan yang menghadangdi jalan dakwah beliau, mulai dari yang halus, setengah kasar, sampai yang paling kasar yaitu rencana secara sistematis pembunuhan rasulullah. Rahasia suksesdakwah nabi di makkah adalah ketegaran beliau memegang prinsip yang telah di gariskan oleh Allah.
2.      Ciri umum dakwah rasulullah di Makkah
Ada cirri umum yang dapat di definisikan dalam dakwah rasulullah pada periode makkah, yaitu:
a.       Perhatian dakwah terfokus pada upaya untuk menyampaikan dakwah dan meyebarkannya dengan cara sirriyah maupun jahriyah.
b.      Memperhatikan aspek terbiyah (pengkaderan terpadu) bagi orang yang menerima dakwah dengan upaya untuk mensucikan hati orang yang di didik dan menumbuhkan mereka dalam suasana hidayah.
c.       Berusaha agar tidak terjadi kontak fisik dengan musuh dan mencukupkan diri dengan melakukan melakukan jihad dakeah meskipun gangguan dari pihak musuh sukup menyakitkan hati.
d.      Selalu aktif melakukan maneuver dalam dakwah dan tidak terpaku hanya di tempat mulai tumbuhnya rasulullah (di makkah).
e.       Melakukan kegiatan dan menentukan strategi yang berkesinambungan untuk dakwah ke depan.



B.     Dakwah nabi di Madinah
       I.            Hijrah sebagai metode dakwah
Dakwah di madinah di anggap kelahiran baru agama islam setelah ruang dakwah di makkah terasa sempit bagi kaum muslimin , Allah memilih madinah sebagai projek pembentukan masyarakat islam pertama.
Keberhasilan gerakan hijrah merupakan kemenangan besar bagi islam dan kaum muslimin. Hijrah merupakan tongkak kehidupan baru kaum muslimin. Di negeri ini mereka mulai menerapkan system kehidupan baru sesuai dengan perintah Allah.
    II.            Negara madinah sarana batu dakwah rasulullah
A.    Membangun masjid
Masjid merupakan pusat pendidikan umat islam dan symbol hubungan masyarakat islam dengan tuhannya. Semua berbaur tanpa ada pandang bulu baik itu bangsawan maupun orang miskin untuk menyembah tuhan yang satu dan mendengarkan pesan dari rasul mereka. Shalat berjamaah adalah salah satu media komunikasi sesama penduduk yang cukup efektif.
B.     Menjalin persatuan sesame muslim
Hubungan antar warge Negara saat itu di ikat dengan rasa cinta, saling membantu, dan semangat persaudaraan. Dalam tingkat aplikasinya, kebijakan ini di laksanakan dengan mempersaudarakan antara orang-orang muhajirin dan anshar.
C.     Ciri umum dakwah nabi di madinah
Adapun beberapa ciri umum dalam dakwah nabi di madinah yang dapat di definisikan. Yaitu:
a. Menjaga kesinambungan tarbiyah dan tazkiyah bagi sahabat yang telah memeluk islam. Program yang di lakukan adalah membacakan ayat-ayat Al-Qur’an untuk semua masyarakat, mensucikan jiwa, dan mengajarkan kepada mereka Al-Qur’an dan As-Sunnah, membangun masid, dan mempersaudarakan antara orang-orang muhajirin dan orang-orang anshar.
b. Mendirikan daulah islamiyah, daulah adalah sarana dakwah yang paling besar, dan merupakan lembaga terpenting yang secara resmi menyuarakan nilai-nilai dakwah.
Adapun syarat-syarat pembentukan daulah antara lain.
a.       Adanya basis masa kaummuslimin yang solid.
b.      Adanya negeri yang layak dan memenuhi syarat
c.       Tersedianya perangkat system yang jelas.
d.      Adanya keseriusan untuk menerapkan hukum syari’at untuk seluruh lapisan masyarakat.
e.       Hidup berdampingan dengan musuh islam yang menyatakan ingin hidup damai dan bermuamalah dengan mereka dengan aturan yang jelas.
f.       Mengahdapi secara tegas pihak yang memilih perang serta melakukan spy war bagi kelompok yang selalu mengintai peluang atau menunggu kesempatan untuk menyerang.merealisasikan unifersalitas dakwah islam dengan merambah seluruh kawasan dunia.
g.      Melalui surat, mengirim duta, mengirim rombongan, menerima utusan yang dating dan seterusnya.


BAB IV
Dakwah pada Masa Khulafaur Rasyidin
Khulafaur Rasyidin adalah empat orangkhalifah (pemimpin) pertama agama Islam, yang dipercaya oleh umat Islam sebagai penerus kepemimpinanNabi Muhammad setelah ia wafat. Empat orang tersebut adalah para sahabat dekat Muhammad yang tercatat paling dekat dan paling dikenal dalam membela ajaran yang dibawanya di saat masa kerasulan Muhammad. Keempat khalifah tersebut dipilih bukan berdasarkan keturunannya, melainkan berdasarkan konsensus bersama umat Islam
Secara resmi istilah Khulafaur Rasyidin merujuk pada empat orang khalifah pertama Islam, namun sebagian ulama menganggap bahwa Khulafaur Rasyidin atau khalifah yang memperoleh petunjuk tidak terbatas pada keempat orang tersebut di atas, tetapi dapat mencakup pula para khalifah setelahnya yang kehidupannya benar-benar sesuai dengan petunjuk al-Quran dan Sunnah Nabi. Salah seorang yang oleh kesepakatan banyak ulama dapat diberi gelar khulafaur rasyidin adalah Umar bin Abdul-Aziz, khalifah Bani Umayyah ke-8.
Ciri-ciri umum pada masa Khulafaur Rasyidin:
a.       Kader-kader menciptakan motivasi yang kuat untuk melakukan dakwah keluar jazirah Arabia. Akivitas tersebut dalam dunia Islam dikenal dengan istilah futuhal islamiyyah.
b.      Lewat pemerintahan para khalifah menentukan kebijakan dan setrategi dakwah baik untuk masyarakat islam maupun diluar islam.
c.       Futuhat Islamiyyah yang dilakukan oleh para sahabat selalu diikuti oleh perluasan pemikiran atau ilmu islam.
Diantara gerakan yang paling menonjol pada khulafah rasyidin adalah:
a.       Menjaga keutuhan Al-Qur’an al Karim dan mengumpulkannya dalam bentuk mushaf abu Bakar
b.      Memberlakukan mushaf standar pada masa Utsman bin Affan
c.       Keseriusan mereka untuk mencari dan mengajarkakn ilmu dan memerangi kebodohan berislam para penduduk negeri.
d.      Islam dalam masa awal tidak mengenal pemisahan antara dakwah dan negara, antara da’I dan panglima. Tidak dikenal orang khusus sebagai da’i.
Setelah kekhalifahan khulafaur rasyidin berakhir maka sistem khalifah diganti sistem kerajaan islam oleh bani ummayah. Khulafaur Rasyidin memiliki empat / 4 khalifah, yaitu:
a.       Abu Bakar Siddik
Masa Pemerintahan : 11 - 13 Hijriah / 632 - 634 Masehi. Abu bakar sidik adalah orang yang pertama kali memeluk islam di luar keluarga / rumah tangga Rasulullah.
Prestasi Abu bakar sidik :
Ø  Memperluas daerah islam
Ø  Menghadapi orang murtad dan orang yang tidak membayar zakat
Ø  Memberantas orang-orang yang menganggapnya beliau sebagai nabi
Ø  Mengumpulkan ayat-ayat suci alquran yang disalin menjadi mushaf
b.      Umar Bin Khattab
Masa Pemerintahan : 13 - 23 H / 634 - 644 M. Beliau termasuk orang yang pertama masuk islam / Assabiquunal Awwaluun. Meninggal dibunuh Abu Luk-luk dan Persia dan Yahudi
Prestasi Umar bin Khatab
Ø  Perluasan daerah kekuasaan islam
Ø  Membangun pemerintahan islam
Ø  Mengumpulkan tulisan-tulisan ayat suci Al-Qur'an yang tersebar
c.       Utsman bin Affan
Masa Pemerintahan : 23 - 35 H / 644 - 656 M. Julukan : Dzunnurain Walhijratain = Memiliki dua cahaya dan dua kali hijrah ke Habsy dan Madinah.
Prestasi Usman bin Afan :
Ø  Memperluas daerah kekuasaan islam
Ø  Membangun angkatan laut
Ø  Penulisan ayat-ayat suci Al-Quran
d.      Ali bin Abi Thalib
Masa Pemerintahan : 36 - 41 H / 656 - 661 M. Sebutan lainnya adalah Sayyidina Ali, beliau adalah saudara Sepupu Nabi Muhammad SAW
Prestasi Ali bin Abi Tholib :
Ø  Membasmi pembangkang kekhalifahan
Ø  Memecat gubernur yang diangkat khalifah sebelumnya


BAB V
Dakwah pada Masa Dinasti Umayah
Suksesi kepemimpinan secara turun-temurun dimulai ketika muawiyah mewajibkan seluruh rakyatnya untuk menyatakan setia terhadap anaknya, Yazid muawiyah bermaksud mencontoh monarchi di Persia dan Bizantium. Dia memang tetap menggunakan istilah Khalifah, namun dia memberikan interpretasi baru dari kata-kata itu untuk mengagungkan jabatan tersebut, dia menyebutnya “Khalifah Allah” dalam pengertian “Penguasa” yang diangkat oleh Allah. Khalifah besar Bani Umayyah ini adalah :
- Muawiyah Ibn Abi Sufyan (661M-680M)
- Abd Al-Malik Ibn Marwar (685M-705M)
- Al-Walid Ibn Abd Malik (705M-715M)
- Umar Ibn Abd Al-Aziz (717M-720M)
- Hasyim Ibn Abd Al-Malik (724M-743M)
Sistem Politik Dan Perluasan Wilayah
Dijaman Muawiyah, Tunisia dapat ditaklukkan. Disebelah timur, Muawiyah dapat menguasai daerah Khurasan sampai kesungai Oxus dan Afganistan sampai ke Kabul. Angkatan lautnya melakukan serangan-serangan ke Ibu Kota Bizantium, Konstantinopel. Ekspansi ke timur yang dilakukan Muawiyah kemudian dilanjutkan oleh Khalifah Abd Al-Malik, dia menyeberangi sungai Oxus dan dapat berhasil menundukkan Baikh, Bukhara, Khawarizm, Ferghana dan Samarkand. Mayoritas penduduk dikawasan ini kaum Paganis. Pasukan islam menyerang wilayah Asia Tengah pada tahun 41H / 661M. pada tahun 43H / 663M mereka mampu menaklukkan Salistan dan menaklukkan sebagian wilayah Thakaristan pada tahun 45H / 665M. Mereka sampai kewilayah Quhistan pada tahun 44H / 664M. Abdullah Bin Ziyad tiba dipegunungan Bukhari. Pada tahun 44H / 664M para tentaranya datang ke India dan dapat menguasai Balukhistan,Sind, dan daerah Punjab sampai ke Maitan.
Ekspansi kebarat secara besar-besaran dilanjutkan dijaman Al-Walid Ibn Abd Abdul Malik (705M-714M). Masa pemerintahan Walid adalah masa ketentraman, kemakmuran dan ketertiban. Umat islam merasa hidup bahagia, tidak ada pemberontakan dimasa pemerintahanya. Dia memulai kekuasaannya dengan membangun Masjid Jami’ di Damaskus. Masjid Jami’ ini dibangun dengan sebuah arsitektur yang indah, dia juga membangun Kubbatu Sharkah dan memperluas masjid Nabawi, disamping itu juga melakukan pembangunan fisik dalam skala besar.
Pada masa pemerintahannya terjadi penaklukan yang demikian luas, penaklukan ini dimulai dari Afrika utara menuju wilayah barat daya, benua eropa yaitu pada tahun 711M. Setelah Al Jazair dan Maroko dapat ditaklukkan, Tariq Bin Ziyad pemimpin pasukan islam dengan pasukannya menyebrangi selat yang memisahkan antara Maroko dengan Benua Eropa dan mendarat disuatu tempat yang sekarang dikenal nama Bibraltar (Jabal Tariq). Tentara Spanyol dapat dikalahkan, dengan demikian Spanyol menjadi sasaran ekspansi.
Dengan keberhasilan ekspansi ke beberapa daerah, baik ditimur maupun barat. Wilayah kekuasaan islam masa Bani Umayyah ini betul-betul sangat luas. Daerah-daerah itu meliputi Spanyol, Afrika utara, Syiria, Palestina, Jazirah Arab, Irak, sebagian Asia kecil, Persia, Afganistan, daerah yang sekarang disebut Pakistan Purkmenia, Ulbek, dan Kilgis di Asia Tengah.
Sistem Peradilan Dan Pengembangan Peradaban
Meskipun sering kali terjadi pergolakan dan pergumulan politik pada masa pemerintahan Daulah Bani Umayyah, namun terdapat juga usaha positif yang dilakukan daulah ini untuk kesejahteraan rakyatnya.
Diantara usaha positif yang dilakukan oleh para khilafah daulah Bani Umayyah dalam mensejahterakan rakyatnya ialah dengan memperbaiki seluruh system pemerintahan dan menata administrasi, antara lain organisasi keuangan. Organisasi ini bertugas mengurusi masalah keuangan negara yang dipergunakan untuk:
- Gaji pegawai dan tentara serta gaya tata usaha Negara.
- Pembangunan pertanian, termasuk irigasi.
- Biaya orang-orang hukuman dan tawanan perang
- Perlengkapan perang
Disamping itu, kekuasaan islam pada masa Bani Umayyah juga banyak berjasa dalam pengembangan peradaban seperti pembangunan di berbagai bidang, seperti:
Ø  Muawiyah mendirikan Dinas pos dan tempat-tempat tertentu dengan menyediakan kuda dengan peralatannya disepanjang jalan. Dia juga berusaha menertibkan angkatan bersenjata.
Ø  Lambang kerajaan sebelumnya Al-Khulafaur Rasyidin, tidak pernah membuat lambang Negara baru pada masa Umayyah, menetapkan bendera merah sebagai lambang negaranya. Lambang itu menjadi ciri khas kerajaan Umayyah.
Ø  Arsitektur semacam seni yang permanent pada tahun 691H, Khalifah Abd Al-Malik membangun sebuah kubah yang megah dengan arsitektur barat yang dikenal dengan “The Dame Of The Rock” (Gubah As-Sakharah).
Ø  Pembuatan mata uang dijaman khalifah Abd Al Malik yang kemudian diedarkan keseluruh penjuru negeri islam.
Pada masa Umayyah, (Khalifah Abd Al-Malik) juga berhasil melakukan pembenahan-pembenahan administrasi pemerintahan dan memberlakukan bahasa arab sebagai bahasa resmi administrasi pemerintahan Islam.
Kemajuan Sistem Militer
Salah satu kemajuan yang paling menonjol pada masa pemerintahan dinasti Bani Umayyah adalah kemajuan dalam system militer. Selama peperangan melawan kakuatan musuh, pasukan arab banyak mengambil pelajaran dari cara-cara teknik bertempur kemudian mereka memadukannya dengan system dan teknik pertahanan yang selama itu mereka miliki, dengan perpaduan system pertahanan ini akhirnya kekuatan pertahanan dan militer Dinasti Bani Umayyah mengalami perkembangan dan kemajuan yang sangat baik dengan kemajuan-kemajuan dalam system ini akhirnya para penguasa dinasti Bani Umayyah mampu melebarkan sayap kekuasaannya hingga ke Eropa.
Faktor kemunduran Dinasti Umayyah
Ada beberapa faktor yang menyebabkan dinasti Bani Umayyah lemah dan membawanya kepada kehancuran. Faktor-faktor itu antara lain adalah:
Ø  Sistem pergantian khalifah melalui garis keturunan adalah sesuatu yang baru (bid’ah) bagi tradisi Islam yang lebih menekankan aspek senioritas. Pengaturannya tidak jelas. Ketidak jelasan sistem pergantian khalifah ini menyebabkan terjadinya persaingan yang tidak sehat di kalangan anggota keluarga istana.
Ø  Latar belakang terbentuknya dinasti Bani Umayyah tidak bisa dipisahkan dari konflik-konflik politik yang terjadi di masa Ali. Sisa-sisa Syi’ah (para pengikut Abdullah bin Saba’ al-Yahudi) dan Khawarij terus menjadi gerakan oposisi, baik secara terbuka seperti di masa awal dan akhir maupun secara tersembunyi seperti di masa pertengahan kekuasaan Bani Umayyah. Penumpasan terhadap gerakan-gerakan ini banyak menyedot kekuatan pemerintah.
Ø  Pada masa kekuasaan Bani Umayyah, pertentangan etnis antara suku Arabia Utara (Bani Qays) dan Arabia Selatan (Bani Kalb) yang sudah ada sejak zaman sebelum Islam, makin meruncing. Perselisihan ini mengakibatkan para penguasa Bani Umayyah mendapat kesulitan untuk menggalang persatuan dan kesatuan. Disamping itu, sebagian besar golongan mawali (non Arab), terutama di Irak dan wilayah bagian timur lainnya, merasa tidak puas karena status mawali itu menggambarkan suatu inferioritas, ditambah dengan keangkuhan bangsa Arab yang diperlihatkan pada masa Bani Umayyah.
Ø  Lemahnya pemerintahan daulat Bani Umayyah juga disebabkan oleh sikap hidup mewah di lingkungan istana sehingga anak-anak khalifah tidak sanggup memikul beban berat kenegaraan tatkala mereka mewarisi kekuasaan. Disamping itu, para Ulama banyak yang kecewa karena perhatian penguasa terhadap perkembangan agama sangat kurang.
Ø  Penyebab langsung tergulingnya kekuasaan dinasti Bani Umayyah adalah munculnya kekuatan baru yang dipelopori oleh keturunan al-Abbas ibn Abd al-Muthalib. Gerakan ini mendapat dukungan penuh dari Bani Hasyim dan kaum mawali yang merasa dikelas duakan oleh pemerintahan Bani Umayyah.
BAB VI
Dakwah pada Masa Dinasti Abbasiyyah
Sebuah dinasti yang didirikan oleh Abdullah as-Saffah bin Muhammad bin Ali bin Abdillah bin Abbas. Dinamakan khalifah Abbasiyah karena pendiri dan penguasa negeri ini adalah keturunan al-Abbas, paman Nabi SAW.. Dalam kekuasaan dinastinya, pusat pemerintahan dipindahkan ke Kuffah dan akhirnya ke Baghdad sampai runtuhnya daulah Abbasiyah. Baghdad dijuluki sebagai “Madinah as-Salam”.
Dinasti Abbasiyah memerintah lebih dari lima abad, tepatnya selama 524 tahun, dari tahun 132 H sampai 656 H. Dalam tempo pemerintahan Abbasiyah itu kita bagi kepada tiga periode yang masing-masing mempunyai ciri-ciri tersendiri berbeda dari yang lain. Periode-periode tersebut adalah:
Ü  Periode pertama (132-232 H), kekuasaan pada periode ini berada di tangan para khalifah.
Ü  Periode kedua (232-590 H), pada periode ini kekuasaan hilang dari tangan para khalifah.
Ü  Periode ketiga (590-656 H), pada periode ini kekuasaan berada kembali di tangan para khalifah, tetapi hanya di Baghdad dan kawasan-kawasan sekitarnya.
Masa Keemasan
Dasar-dasar pemerintahan daulah Abbasiyah diletakkan oleh Abu Abbas dan Abu Ja’far al-Mansur. Pada periode ini kekuasaan berada di tangan para khalifah di seluruh kerajaan Islam kecuali di Andalusia.
Setelah sendi-sendi negara kuat, muncullah masa keemasan pada tujuh khalifah berikutnya, yaitu al-Mahdi (775-785 M), al-Hadi (785-786 M), Harun ar-Rasyid (786-809 M), al-Makmun (813-833 M), al-Mu’tashim (833-842 M), al-Watsiq (842-847 M), dan al-Mutawakkil (847-861 M).
Pada masa al-Mahdi, perekonomian daulah Abbasiyah mulai meningkat dengan meningkatnya pendapatan dari sektor pertanian dan pertambangan. Puncak popularitas daulah Abbasiyah terjadi pada masa khalifah Harun ar-Rasyid dan putranya al-Makmun. Harun banyak memanfaatkan kekayaan negara untuk keperluan sosial. Negara Islam di masa Harun menjadi negara super power yang tiada tandingannya.
Dan selanjutnya, pengganti Harun ar-Rasyid adalah anaknya, yakni al-Makmun. Pada masanya, Baghdad menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan dengan berdirinya “Bait al-Hikmah”.
Masa Kemunduran
Dimulai sejak Abbasiyah diperintah oleh khalifah kesebelas, yaitu Abu Ja’far Muhammad al-Muntashir (247-248 H) sampai khalifah terakhir, yakni Abu Ahmad Abdullah al-Mu’tashim (640-656 H). pada masanya, khalifah dan putra-putranya terus menikmati kedaulatan dan kemerdekaan, sampai akhirnya kaum Tatar yang dipimpin oleh Hulaku datang menyerang dan menaklukan dunia Islam serta memusnahkan kota Baghdad, membunuh khalifah dan menamatkan pemerintahan Abbasiyah pada tahun 656 H/1258 M.
Geliat dan Perkembangan Dakwah Pada Masa Dinasti Abbasiyah
Gerakan dakwah pada masa Abbasiyah ini tidak lepas dari peran Ulama dan Umara yang masih tetap konsisten untuk memperjuangkan serta membela agamanya. Karena seiring dengan kebencian dan kedengkian serta munculnya gerakan-gerakan orang-orang Eropa Kristen, kondisi dunia Islam dan kaum Muslimin telah menciptakan mentalitas layak terbelakang dan kalah di mana saat itu sebagaimana yang ditulis olehMajid ‘Irsan al-Kilani dalam bukunya bahwa di dalam tubuh umat Islam telah terjadi perpecahan pemikiran Islam.
Tuntutan perubahan atas kondisi masyarakat saat itu terasa semakin mendesak, demikian juga dengan bahaya kekuatan luar yang terus mengancam. Saat itu, masyarakat Muslim dihadapkan pada dua pilhan, yaitu melakukan perubahan radikal dari dalam atau menyerah kepada ancaman yang membawa kebinasaan. Akan tetapi, seluruh elemen dan potensi gerakan dakwah dikerahkan oleh para Ulama dan Umara untuk memilih perubahan radikal dari dalam diri (internal).
Sampai mereka pun lebih memfokuskan metodenya kepada gerakan dakwah yang bersifat kultur, yakni lebih memfokuskan perhatiannya kepada upaya berbenah diri untuk mengevaluasi dan memperbarui semua pemikiran dan konsepnya selama ini, agar kemudian bisa kembali ke tengah masyarakat dan memulai proses pembaruan (Ishlah) atau menjalankan prinsip amar ma’ruf nahyi munkar.
Objek dan Kondisi Dakwah Dinasti Abbasiyah
Selama lima abad, Dinasti Abbasiyah menjadi sarana dakwah dan pendukung dakwah Islam. Dengan semangat dakwah yang tinggi, daulat ini menjadi Kerajaan Islam yang telah mampu mengubah dunia dari gelap menjadi terang, dari kemunduran menuju kemajuan.
Pada masa ini dakwah dibagi menjadi dua level, yaitu: level negara dan penguasa dan level masyarakat.
1)      Level Negara dan Penguasa
a.       Para khalifah Abbasiyah pada masa keemasan adalah juga seorang ulama yang sangat mencintai ilmu. Mereka memuliakan ulama dan pujangga, serta membuka pintu istana selebar-lebarnya untuk mereka.
b.      Mendorong dan memfasilitasi upaya penerjemahan berbagai ilmu dari berbagai bahasa ke bahasa Arab, seperti filsafat, ilmu kedokteran, dan lain-lain.
c.       Mendorong dan memfasilitasi pembaruan sistem pendidikan dengan munculnya Madrasah Nidzamul Muluk dan Madrasah Nidzamiyah di Baghdad.
2)      Level Masyarakat
Pada level masyarakat aktivitas keislaman tidak tidur, dan tidak terlalu terpengaruh oleh kelemahan dan kerusakan yang terjadi di level negara. Masjid-masjid dan sekolah-sekolah penuh dengan kajian ilmiah. Masjid-masjid di Baghdad, Bashrah, Kuffah, dan lainnya dipenuhi oleh para ulama, penceramah, ahli hadits, dan lainnya. Para ulama pada masa ini memiliki peran dan pengaruh yang sangat besar dalam pencerahan iman masyarakat, bahkan kadang-kadang mengalahkan pengaruh para khalifah.
Materi yang menonjol saat itu adalah tazkiyatun-nufus, peringatan tentang negeri akhirat, serta seruan agar tidak terpedaya oleh kehidupan dunia. Materi ini berpijak pada keadaan negeri yang waktu itu berada pada situasi yang bermewah-mewahan dan kemaksiatan yang terjadi di level penguasa. Di antara da’i yang paling terkenal adalah Ibnu Simak yang lebih dikenal dengan sebutan “wa’idz rasyid” (da’i yang bijak).
Meskipun ada kelemahan yang nyata di level pemimpin dan banyaknya penyimpangan agama, namun dengan rahmat Allah, gerakan dakwah berjalan terus dengan baik yang dilakukan oleh pribadi-pribadi maupun yang dilakukan oleh kelompok. Para da’i berangkat melaksanakan kewajibannya ke berbagai tempat, dan di antara hasilnya adalah masuk Islamnya sepertiga penduduk anak benua India dan masuk Islamnya penduduk negeri China dalam jumlah yang cukup besar.
Dan di antara kebanggaan yang dicapai pada periode ini adalah munculnya imam-imam madzhab yang empat, ulama hadits, dan pakar-pakar nahwu yang peranannya sangat dirasakan oleh masyarakat zaman itu sebagai pengabdian yang murni untuk Islam.
BAB VII
Dakwah pada Masa Daulat Utsmaniyyah

1.      Objek Mad’u Masa Utsmaniyyah

Kondisi mad’u pada masa daulah Utsmaniyah umumnya bersifat al-ummah, karena pada masa daulah ini, masih banyak yang belum menerima Islam sebagai agamanya.Akan tetapi, dari dinasti sebelumnya sudah banyak pula yang sudah menerima Islam.Jadi, corak mad’u pada masa daulah Utsmaniyah yaitu mad’u ijabah dan ummah.
2.      Metode dakwah Pada Masa Utsmaniyah
Pada masa Utsmaniyah ada beberapa macam metode yang digunakan dalam berdakwah antara lain:
a.       Ekspansi
Penyebaran agama Islam dilakukan dengan cara ekspansi atau perluasan wilayah. Ekspansi yang dilakukan salah satunya meliputi kawasan Eropa dan Asia Kecil.
Masih banyak negara-negara lain yang menjadi kekuasaan di bawah daulah Utsmaniyah ini.
b.      Ceramah
Metode ceramah adalah metode yang dilakukan dengan cara menyampaikan keterangan, petunjuk, pengertian dan penjelasan tentang sesuatu kepada pendengar dengan menggunakan lisan. Para ulama melakukan dakwahnya di masjid-masjid.
c.       Metode Kelembagaan
Pada masa daulah Utsmaniyah banyak dibangun masjid, sekolah, rumah sakit, jembatan, dan tempat berlindung .Selain itu, pekerjaan penting yang dilakukan adalah dibentuknya militer Islam yang kuat dan memasukkan sistem khusus dalam kemiliteran yang berasaskan Islam.
d.      Metode      Miss (Bi’tsah)
Penyebaran agama Islam ke berbagai wilayah dilakukan dengan cara mengutus para da’i. Pada masa ini dilakukan penjagaan di wilayah-wilayah perbatasan Romawi dan mencegah serangan yang mungkin datang menyerbu kekuatan Islam sejak masa pemerintahan Abbasiyyah.
e.       Metode Tanya-Jawab
Metode yang dilakukan dengan menggunakan Tanya jawab untuk mengetahui sampai sejauh mana pemahaman materi dakwah. Metode ini biasanya bersamaan dengan metode caramah, jadi ketika mad’u tidak memahami bisa langsung bertanya.Sehingga adanya hubungan timbal balik antara da’I dan mad’u.
f.       Metode Bimbingan Konseling
Dari dinasti-dinasti sebelumnya telah diajarkan tata cara shalat, cara membaca Al-Qur’an dan kajian kitab. Pada masa Utsmaniyah ini pengajaran pun lebih di matangkan atau dipermantap bagi yang sudah biasa dan yang belum mengetahui.
g.      Metode Keteladanan
Khalifah Ustmaniyah ini mempunyai sifat yang pemberani, bijaksana, ikhlas, sabar, daya tarik keimanan, adil, memenuhi janji,dermawan, ikhlas karena Allah dalam setiap penaklukan. Karena sifat kepemimpinan ini, maka banyak orang yang terpengaruh dengan kepribadiannya, sehingga banyak yang masuk dan memeluk agama Islam.
h.      Metode Propaganda
Metode propaganda adalah suatu upaya untuk menyiarkan Islam dengan cara mempengaruhi dan membujuk massa. Metode ini masih digunakan karena belum semua kaum memeluk agama Islam.
i.        Metode Diskusi
Diskusi sering dimaksudkan sebagai pertukaran pikiran antara sejumlah orang secara lisan membahas suatu masalah tertentu dan bertujuan untuk memperoleh hasil yang benar. Sebagai contoh, perwakilan negeri-negeri Eropa berkumpul di Istanbul.Mereka mengajukan usulan-usulan pada pemerintahan Utsmani.Beberapa usulan penting itu adalah membagi negeri Bulgaria menjadi dua wilayah.Namun usulan ini tidak disetujui oleh Utsman.
j.        Metode Karya Tulis
Metode ini masuk dalam kategori dakwah bi al-qalam. Tanpa tulisan dunia akan lenyap dan punah. Pada masa Utsmani upaya-upaya manipulatif sejarawan musuh-musuh Islam, khususnya terhadap sejarah khilafah Utsmaniyah dihadang sekelompok intelektual dan sejarawan umat.Dimana mereka berusaha membantah semua tuduhan yang dilakukan oleh sejarawan musuh-musuh Islam itu dan membela pemerintahan Utsmani. Salah satu buku yang paling menonjol dalam melakukan bantahan ini adalah buku yang ditulis oleh Dr. Abdul Aziz Asy-Syanawi yang ditulis dalam tiga jilid besar dengan judul Al-Daulat Al-Utsmaniyah Daulat Muftara ‘Alaihi dan buku-buku bermutu lainnya yang ditulis oleh Dr. Muhammad Harb seperti, Al-Utsmaniyyun fi Al-Tarikh wa Al-Hadharah dan lain-lain.

3.      Media Dakwah Pada Masa Utsmaniyah
Media yang digunakan pada masa daulah Utsmaniyah ini diantaranya adalah:
1)      Sekolah-sekolah
Karena pada masa ini khalifah cinta akan ilmu,maka dibangunnya sekolah-sekolah agar orang-orang dapat berpengetahuan. Pendidikan diberikan secara gratis, sedangkan materi yang diajarkan adalah meliputi tafsir, hadist sastra, balaghah, ilmu-ilmu kebahasaan, arsitektur dan lain-lain. Maka dari sinilah ilmu-ilmu semakin berkembang dan kita sebagai umat penerusnya bisa merasakan ilmu-ilmu yang telah diajarkannya.
2)      Masjid
Masjid pada masa ini juga merupakan tempat pendidikan, yang mana pendidikan yang diajarkan Al-Qur’an, hadist, tafsir dan lain-lain. Masjid juga tempat dilakukannya untuk berdakwah dengan metode ceramah. 
3)      Rumah Sakit
Di setiap klinik ini di tempatkan dokter dengan tambahan dokter-dokter spesialis di bidangnya seperti ahli penyakit dalam, ahli bedah dan ahli farmasi. Pada masa inilah semua telah di kembangkan dengan telah banyaknya pengetahuan yang ada dan semakin berkembang.
4)      Media Cetak
Pada masa ini banyak buku-buku yang diterjemahkan dari bahasa Yunani, Persia dan Arab ke dalam bahasa Turki.Salah satu buku yang diterjemahkan itu adalah Masyahir Al-Rijal (Orang-orang terkenal) karya Poltark dan masih banyak lainnya.Dengan adanya penerjemahan buku-buku ini otomatis adanya media cetak untuk mencetak hasil terjemahan ini, dan juga adanya percetakan uang karena uang pada masa ini juga digunakan untuk kebutuhan.
4.      Materi Dakwah Pada Masa Utsmaniyah
Materi yang diterapkan pada masa daulah Utsmaniyah meliputi akidah, syariah dan muamalah. Di mana pada masa Utsmaniyah materi-materi seperti fiqih, tata cara membaca Al-Qur’an, berwudhu dan lain-lain, lebih dipermantap lagi penerapannya. Pada masa ini ketahuidan (meng-Esa-kan) pun di tanamkan pada umatnya.


BAB VIII
Pola Perkembangan Dakwah Afrika Utara
Secara historis dakwah islam masuk dan menguasai afrika utara dan dijadikan sebagai salah satu bagian provinsi dari dinasti umayah. Penguasaan sepenuhnya atas wilayah afrika utara terjadi di jaman khlifah abdul malik. Penaklukan atas afrika utara itu dari pertama kali dikalahkan menjadi salah satu provinsi dari khlifah bani umayah mamakan waktu kurang lebih 35 tahun yaitu mulai tahun 30 H-thun 83 H. Wilayah afrika utara inilah yang kemudian menjadi batu loncatan untuk masuknya islam didataran eropa, yaitu spanyol.
Mayoritas bangsa-bangsa di afrika utara adalah muslim, yang banyak di pengaruhi oleh kaum sufisme dimana mereka sangat berperan besar dalam mengorganisir komunitas pedalaman dan beberapa rezim negara. Wilayah perkotaan menggunakan bahasa arab dalam percakapan dan kebudayaan meskipun di wilayah afrika selatan saharan dan wilayah pegunungan menggunakan bahasa berber sebagai bahasa umum dan menjadi basis bagi identitas kultural.
Sejak periode awal islam sampai abad 19, sejarah masyarakat muslim afrika utara berlangsung dalam dua motif utama, yaitu pembentukan negara dan islamisasi.
1.      Tunisia
Hampir sejak awal diperkenalakan islam di tunisia, mayoritas penduduk muslim negeri ini merupakan kaum sunni yang mbermadhab Hanafi dan Maliki. Tetapi untuk kepuasan batin gerakan islam di tunisia tidak lepas dari penganut tarekat. Disisni banyak sekali tarekat yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat. Namun ada empat tarek terbesar adalah Qodariah, Rahmaniah, Isawa, dan tijaniah.
Tunasia telah menjadi pusat suatu peradaban yang telah berkembang dan perjalanan sejarahnya berhasil memepertahankan masyarakat yang ditandai dengan kemajuan ekonomi, pertanian, dan perdagangan yang pesat. Yang diperintah oleh kalangan aristokrasi yang dipegang oleh orang tuan tanah, pedagang besar, dan cerdik  pandai diperkotaan. Beberapa rezim islam dan kultur islam diperkenalkan oleh wolayah timur dan dan beberapa periode.
Pada abad ke-20, sebagaimana banyak negera yang menglami kebangikitan islam, gerakan dakwah di tunisia terlepas dari ulam mapan upaya utama untuk mengorganisasi gerakan islamis dipakistan bernama kelompok penyeru dan penyampai, atau bisa di sebut kelompok dakwah. Kelompok-kelompok yang muncul di tunisia memiliki pokus-pokus perhatian yang berbed. Fokus dakwah lebih tertuju pada indivdu daripada masyarkat islam secara keseluruhan atau pemikiran islam, yang menjadi karakter (MTI) dan kaum islamis progresif yang belakangan muncul. Tujuan akhir dakwah adalah membangun masyarakat islam, tetapi pendekatannya dari bawah keatas, sebagai pembangun masyrakat, induvidu harus diperbaharui terlebih dahulu sebelum masyrakat di perbaharui.
2.      Maroko
Mayoritas penduduk maroko adalah beragama islam termasuk kedalam golongan muslim suni, maka tak heran sepanjang perjalanan sejarah negeri ini banyak di pelopori oleh gerakan pembaruan yang berawal dari gerakan tarekat. Sementara itu, ermes gelner merumuskan bahwa model yang paling berpengaruh tentang sejarah islam dimaroko adalah sepanjang islam di maroko terombang-ambing antara kaum borjuis kota yang mlek huruf, huritan skrifturalis, dan agama suku burta huruf di pedeaan.
Gerakan dakwah islam berupa gerakan pembaruan di maroko di awali dengan kebangkitannya kembali al murobitun pada abad kesebelas dan al muwahidun pada abad ke dua belas. Akan tetapi, repormisme modern sering dianggap pada mula sultan sidi Muhammad 1757 sampai 1790. Dalam grakannya berusaha untuk menerapkan hukum islam yang ketat dan menghapus bid’ah di kota maupun desa, mengecam para dukun yang mengguakan sufisme untuk mengekfloitasi bangsa yang sudah tertipu serta para sufi ekstremis yang tidak mematuhi hukum islam walaupun sebenarnya sultan sidik tergabung dalam tarekat sufi nasiriyah gerakannya tersebut kemudian dilanjutkan oleh putranya yang bernama maulay sulaiman yang sekaligus merupakan plopor pembaruan islam di maroko pada abad ke-20.
Dengan demikian, sepanjang perjalanan gerakan dakwah di maroko lebih diwarnai pada gerakan dalam bentuk tarekat yang kemudian banyak didistorsi oleh pemerintah sehingga pada dakwahnya lebih pada perpaduan pada bentuk sufisme (tarekat) dan pemerintahan yang berkuasa.
3.      Libiya
Libiya merupakan negara dari pemerintahan utsmani yang memberikan rejim utama diwilayah tripolitania, sirenaica, dan fezzan. Serangkaian infasi pada ke-7 telah menimbulkan dan mewarnai proses arabisasi dan islamisasi negeri ini, akan tetapi tidak diiringi pembentukan rejim yang memusat.
Usaha tersebut kemudian diperluas oleh islamisasi hukum libiya pada oktober 1971. Pereaturan-peratuan baru yang diturunkan dari perkatik hukum madzhab maliki dibuat untuk mempertahankan hukum-hukum yang ada sesuai degan perinsif-prinsif syari’ah dan hukum adat (urf) apabila dipandang dapat diterapkan pada prinsifnya rejim mendapatkan dua pendekatan dengan pendapat bahwa persoalan doktrin agama adalah suci tetapi isu-isu sekuler dapat menjadi bahan ijtihad. Sementara itu hanya sebagian sunah yang dapat dijadikan hukum syari’ah, sementara itu ijtihad adalah metode yang dapat diterima untuk memperluas ruang lingkup syari’at didunia modern.
Dibalik itu semu, kadafi merupakan tokoh idiologi arab dan islam radikal. Doktrin refolusionernya yang pertama merupakan kofi dari idiologi neseriyah dan batiniyah yang menyatukan persatuan arab, menetang kolonialisme dan jionisme, dan kepemimpinan bangsa libiya dalam merancang persatan dan perjuangan bangsa arab menghadapi israel.
Libiya sebagai bentuk gerakan dakwah kontemporer banyak dipengaruhi dan terpusat oleh kebijakan pemerintah yang berkuasa saat itu. Sehingga biokrasi (unsur politik) sangat menonjol dalam memegang keputusan dan memberikan corak dalam setiap aktivitas keislaman.
BAB IX
Pola Perkembangan Dakwah di Cina
A.   Islam Masuk Kecina
Islam telah tersebar di Cina selama lebih 1300 tahun. Kini terdapat lebih dari 20 juta warga Muslim di negeri itu. Mereka tersebar 10 suku, termasuk etnik Huizu, Uygur, Kazakh, Kirgiz, Tajik, Uzbek, Tatar dan lain-lainnya. Penduduk Islam tinggal di merata tempat di seluruh Cina, terutama di bagian barat laut Cina, termasuk provinsi Gansu, Qinghai, Shanxi, wilayah otonomi Xinjiang dan wilayah otonomi Ningxia.
Menurut catatan resmi dari Dinasti Tang yang berkuasa pada 618-905 M dan berdasarkan catatan serupa dalam buku A Brief Study of the Introduction of Islam to China karya Chen Yuen, Islam pertama kali datang ke Cina sekitar tahun 30 H atau 651 M. Khalifah Usman memerintah imperium Muslim selama kira-kira 12 tahun. Selama kekhalifaannya , imperium Arab meluas di Asia dan Afrika. Disebutkan bahwa Islam masuk ke Cina melalui utusan yang dikirim oleh Khalifah Ustman bin Affan, yang memerintah selama 12 tahun atau pada periode 23-35 H / 644-656 M. Sementara menurut catatan Lui Tschih, penulis Muslim Cina pada abad ke 18 dalam karyanya Chee Chea Sheehuzoo (Perihal Kehidupan Nabi), Islam dibawa ke Cina oleh rombongan yang dipimpin Saad bin Abi Waqqas.Sebagian catatan lagi menyebutkan, Islam pertama kali datang ke Cina dibawa oleh panglima besar Islam, Saad bin Abi Waqqas, bersama sahabat lainnya pada tahun 616 M. Catatan tersebut menyebutkan bahwa Saad bin Abi Waqqas dan tiga sahabat lainnya datang ke Cina dari Abyssinia atau yang sekarang dikenal dengan Etiopia.
Saad bin Abi Waqqas kemudian menetap di Guangzhou dan ia mendirikan Masjid Huaisheng yang menjadi salah satu tonggak sejarah Islam paling berharga di Cina. Masjid ini menjadi masjid tertua yang ada di daratan Cina dan usianya sudah melebihi 1300 tahun. Masjid ini terus bertahan melewati berbagai momen sejarah Cina dan saat ini masih berdiri tegak dan masih seindah dahulu setelah diperbaiki dan direstorasi. Masjid Huaisheng ini kemudian dijadikan Masjid Raya Guangzhou Remember the Sage, atau masjid untuk mengenang Nabi Muhammad SAW. Masjid ini juga dikenal dengan nama Masjid Guangta, karena masjid dengan menara elok ini yang letaknya di jalan Guangta. Sebagian percaya bahwa Saad bin Abi Waqqas menghabiskan sisa hidupnya dan meninggal di Guangzhou, Cina. Sebuah pusara diyakini sebagai makamnya. Namun sebagian lagi menyatakan bahwa Saad meninggal di Madinah dan dimakamkan di makam para sahabat. Meski tidak diketahui secara pasti dimana Saad bin Abi Waqqas meninggal dan dimakamkan dimana, namun dipastikan ia memiliki peranan penting terhadap perkembangan Islam di Cina.


B.   Kondisi mad’u
1)    SOSIAL
Secara garis besar masyarakat china muslim terbagi menjadi 2 kelompok . pertama kelompok Hui, yakni warga muslim yang tersebar di beberapa daerah yang berpenduduk Hui secara fisik, dan bahasa adalah warga china tetapi menganggap diri mereka bukan sebagai warga china disebabkan mereka tidak makan daging babi dan menyembah nenek moyang, tidak berjudi, tidak mengkonsumsi minuman keras dan tidak pula mengisap ganja. Kedua kelompok muslim yang tidak berasimilasi dengan masyarakat asia tengah termasuk didalamnya kelompok khazah,ughur dan beberapa kelompok kecil lainnya yang sebagian besar mereka berbahasa Turki yang tidak berasimilasi ke dalam kebudayaan china, dan mereka mau bergabung sekitar abad ke-19 ketika china berhasil mengalahkan serangkaian pemberontakan yang dilancarkan muslim yang berbahasa china didaerah Yunan,Shesi, di propinsi khansu dan serangkaian pemberontokan di Uighhur dan khazah di singking.
Pada masa dinasti Tang datanglah ke kota Kangton banyak orang asing dari Amman, kamboja, madinah, dan beberapa orang lainnya dalam beribadah mereka menyembah langit maksudnya Allah dan tidak ada patung berhala, atau symbol pigura dalam rumah peribadatan mereka. Kerajaan Madinah memiliki hubungan yang erat dengan India. Di kerajaan inilah lahir agama-agama asing yang berbeda dengan agama Budha. Mereka tidak memakan daging babi atau minuman anggur dan tidak halal apa yang disembelih diluar cara mereka.
2)    EKONOMI
Perekonomian Cina di bawah Dinasti Song (960-1279) dari Cina ditandai oleh ekspansi komersial, kemakmuran finansial, peningkatan perdagangan internasional-kontak, dan sebuah revolusi dalam produktivitas pertanian. Keuangan swasta tumbuh, merangsang pengembangan jaringan pasar negara-lebar yang menghubungkan provinsi pesisir dengan interior. Perekonomian Laju menimbulkan ledakan populasi yang sangat besar, yang berasal dari budidaya pertanian meningkat dalam 10 ke-11 abad yang dua kali lipat penduduk secara keseluruhan China, yang naik di atas 100 juta orang (dibandingkan dengan sebelumnya Tang, dengan sekitar 50 juta orang).
Islam terus berkembang pada jaman Dinasti Tang, Dinasti Song dan Dinasti Yuan, perkembangan kemudian menjadi sangat pesat sekali, bahkan kaum muslim di Cina saat itu menguasai sektor perdagangan baik Ekspor maupun Impor, lewat pelayaran laut maupun lewat jalur sutera.Pada jaman Dinasti Yuan perkampungan awal kaum muslim disebut Hui-hui, adalah sekelompok etnis keturunan Cina Arab, dan Cina Persia, kemudian istilah Hui-hui berkembang menjadi Hui dan disematkan kepada semua orang Cina dari etnis manapun yang beragama Islam.
3)    POLITIK
Setelah  penaklukan kerajaan mongol yang ditaklukan oleh cina, Negara ini menganut system politik isolasi sehingga komunikasi penduduk islam dengan saudara saudara mereka seagama mereka jadi terputus oleh karena itu mereka cenderung berasimilassi dengan penduduk cina serta mengikuti adat kebiasaan orang cina.
Secara politis umat muslim china membuat kemunculan kembali secara mengesankan banyak diantara mereka bergabung dengan revolusi nasionalis. Sementara itu pengorganisasian semua muslim china dibawah paying tunggal dimotori oleh muslim mulia dengan pembentukan “liga limama” gerakan-gerakan pembaharuan bersemangat wahabiah yang dikenal sebagai yuwani (ikhwan) menjadi pelopor berkat dukungan kaum nasionalis dan panglima perang mereka menilai bahwa islam tradisionalis terlalu menyesuaikan diri dengan praktek-praktek china.
4)    BUDAYA
Terlepas itu, kebudayaan Islam mempunyai kedudukan yang penting dalam kebudayaan Cina. Islam pernah memberi sumbangan besar terhadap perkembangan sains dan teknologi negeri itu. Diantaranya adalah kalender yang diciptakan oleh umat Islam dan pernah digunakan di Cina dalam waktu yang panjang.
Selain itu ada alat pandu arah angkasa yang dicipta oleh seorang ahli ilmu falak yang bernama Zamaruddin pada Dinasti Yuan sangat popular di Cina. Ilmu matematika yang dikembangkan dari Arab telah diterima oleh orang Cina. Ilmu perobatan Arab juga menjadi sebagian ilmu perobatan Cina. Umat Islam juga terkenal dengan pembuatan meriam di Cina, Dinasti Yuan menggunakan sejenis meriam yang dikenali sebagai meriam etnik Huizu yang dicipta oleh orang Islam Cina. Yang jelas, Islam tidak bisa dipisahkan begitu saja di negeri itu. [cha,berbagai sumber)
C.   Metode yang digunakan dakwah dicina
Metode dakwah dicina secara kultur menggunakan metode yaitu dengan membuat pranata atau lembaga social membuat lebih dari seribu bangunan sekolah dasar dan perpustakan sekolah menegah mereka berhassil mengenakan studi b.Arab dan islam di universitas cina, seperti universitas bezing,universitas central, dan yang kedua mengunakan dakwah bil qalam yang telah banyak diproduksi sejumlah besar literature islam dan bahas cinamelalui majalah majalah islam seperti majalah studi islam dicina, surat kabar islam,sinar islam dan masih banyak lainya.
BAB X
Pola Perkembangan Dakwah di Asia Tengah dan Selatan
1.      Kondisi Objektif Mad’u Sebelum Islam Datang
Sebelum Islam datang, Asia Tengah dihuni oleh orang normadik seperti:
1)      Xiongnu (Hun) dan orang Turkic
2)      Yuezhi (Tocharian atau Kushan), warga Iran dan kaum Indo-Eropa
3)      Mongol
Asia Tengah telah lama menjadi wilayah perdagangan antara Tiongkok dan masyarakat Barat dengan Jalur Sutra sebagai perantaranya disertai banyaknya kerajaan.
Pada lima abad terakhir, kebanyakan wilayah ini perlahan-lahan dijajah oleh Kekaisaran Rusia dan Kerajaan Tiongkok sedangkan Britania Raya menduduki India di bagian selatan Asia Tengah.
Semasa abad ke-20, kebanyakan wilayah di Asia Tengah merupakan bagian dari bekas negara aliran komunis Uni Soviet yang pecah tahun 1991. Wilayah terkecuali ialah Mongolia dan daerah milik Tiongkok seperti Xinjiang. Negara-negara tersebut telah berpaling dari sistem komunis dan sekarang mengikuti berbagai sistem politik yang terdiri dari demokratis dari yang lemah hingga sangat otoriter. Namun Tiongkok dan Rusia masih berpengaruh kuat dalam mengontrol wilayah itu dan kebanyakan negara di Asia Tengah bergabung dalam Organisasi Kerjasama Shanghai.
2.      Sejarah Masuknya Islam di Asia Tengah
Islamisasi di Asia Tengah menurut makalah yang berjudul “Islam di Asia Tengah: Konflik antar Etnik” karya Prof. Dr. H. Ali Mufrodi, MA. terbagi dalam dua wilayah yakni  islamisasi di Turkistan Barat dan Turkistan Timur, dengan penjelasan sebagai berikut:
1)      Islamisasi di Turkistan Barat
Dalam abad ke-8, terdapat persaingan sengit antara Dinasti Tang dari Tiongkok dan ekspedisi kaum muslimin yang menimbulkan Pertempuran Talas tahun 751 M di Fergana dan dimenangkan oleh pihak muslim sehingga ditarik mundurnya Tiongkok dari Asia Tengah. Dengan demikian, terjadi Islamisasi dan kawasan tersebut menjadi muslim dan berpeadaban Islam yang ditandai dengan banyaknya menggunakan kosa kata Arab dan tulisan Arab dalam pergaulan sehari-hari.
2)      Islamisasi di Turkistan Timur
Terdapat beberapa pendapat mengenai Islamisasi di Turkistan Timur, diantaranya:
a)      Islam sudah masuk sejak masa Nabi Muhamad SAW atau masa Khulafaurrasyidin dengan melalui jalur sutra. Di satu sisi melalui jalur pelayaran laut, yang disebut jalur lada yang menghubungkan Erofa dan Cina.
Nabi Muhamad pernah mengutus beberapa shahabatnya untuk berdakwah di Cina. Mereka itu antara lain: Sa’ad bin Abdul Qais, Qais bin Hudhaifah, Urwah bin Abi Utsman dan Abu Qais bin Al-Haris.
b)      Pendapat lain mengatakan bahwa Islam sampai di China di bawa oleh Abu Hamzah bin Hamzah bin Abdul Muthalib, saudara sepupu Nabi Muhamad SAW dengan 3000 orang dimasa pemerintahan Kaisar Thai Sung, memerintah 627-655 yang berarti dimasa Nabi dan Khulafaurrasyidin, mereka diterima dengan baik oleh kaisar di San Gan Foo.
a.       Kebijakan Chaterine bagi umat Islam, diantaranya:
1)      Menjamin hak penting kaum muslim khususnya berkenaan dengan peraktik keagamaan.
2)      Mensponsori pembangunan mesjid.
3)      Mendirikan institusi Islam yang berwenang luas atas penduduk muslim kekaisaran Rusia.
3.      Hasil-Hasil Dakwah yang Didapat
Diantara hasil-hasil dakwah Islam yang didapat, yaitu:
1.      Perjalanan panjang kesadaran Islam di wilayah-wilayah Soviet di Asia Tengah baik secara religius maupun kultural, tidak dapat dihapus dengan cara halus maupun kasar.
2.      Meskipun ketaatan religius kaum muslim dibekas Uni Soviet tidak sempurna akibat terisolasi dari dunia Islam yang lebih besar selama hampir delapan dasawarsa, perasaan mereka sebagai bagian umat Islam sangat kuat dan meningkat.
3.      Dibeberapa negara baru bekas koloni Soviet, kelompok-kelompok politik penting menyerukan didirikan republik-republik Islam dan selalu menghormati unsur-unsur Islam dalam kekuatan politik mereka.
4.      Awal Islam di Asia Selatan
Sejak zaman Nabi Muhamad SAW, di Asia Selatan tepatnya di India telah memiliki sejumlah pelabuhan besar sehingga terjadi interaksi antara India dengan muslim di Arab. Oleh karena itu perdagangan dan dakwah menyatu dalam satu kegiatan sehingga raja Kadangalur dan Cheraman Perumal masuk Islam dan mengganti namanya menjadi Tajudin.
Pada zaman Umar bin Khatab, Mughirah berusaha menaklukan Sin (India) tapi usahanya gagal (643-644 M). Pada zaman Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib dikirim utusan untuk mempelajari adat istiadat dan jalan-jalan menuju Asia Selatan (India). Pada zaman Muawiyah I, Muhamad Ibnu Qasim berhasil menaklukan dan diangkat menjadi Amir Sir dan Punjab, yang didapatkan setelah ia berhasil memadamkan perampokan-perampokan terhadap umat Islam disana. Karena pertikaian internal antara Hajjaj dan Sulaeman, dinastinya melemah dan ketika itu di taklukan oleh Dinasti Gazni.
Pada masa pemerintahan Al-Makmun (khalifah Dinasti Bani Abbas) telah dilakukan penaklukan ke wilayah Asia Selatan, dengan diangkatnya sejumlah amir untuk memimpin daerah-daerah. Diantara yang dipercayauntuk menjadi amir adalah Asad Ibn Saman untuk daerah Transixiana. Ia diangkat menjadi amir setelah berhasil membantu khalifah Bani Abbas dalam menaklukan Dinasti Safari yang berpusat di Khurasan.

5.      Karakteristik Dakwah Islam di Asia Selatan
Perjalanan dakwah Islam di Asia Selatan sangat luas dan heterogen, diantara karakteristiknya:
1.      Mayoritas penduduk mendefinisikan diri sebagai muslim dengan berbagai kelompok bahasa yang berbeda.
2.      Hidup dalam beragam lingkungan.
3.      Menghadapi suasana sosial dan lingkungan yang heterogen.
6.      Pusat-Pusat Penyebaran Islam di Asia Selatan
Dinatara wilayah yang pernah ditaklukan oleh Islam adalah kawasan Asia Selatan, khususnya India, Pakistan, Bangladesh, Srilanka, dll. Islam diperkenalkan dalam bentuk sebuah peradaban yang telah berkembang yang diwarnai dengan budaya keagamaan yang terorganisir secara mapan.
Islam bukan kekuatan pertama yang dapat menguasai wilayah ini, tetapi dengan berkuasanya Islam di wilayah tersebut selama tiga abad lamanya, ternyata Islam mampu memberikan kontribusi bagi kebudayaan setempat.
BAB XI
Pola Perkembangan Dakwah di Asia Tenggara
"Islam datang" ke Asia Tenggara menurut S.M.N. Al-Attas, Fattimi, Hasyimi, dan Hamka pada abad ke-7 dan 8 M. "Islam berkembang" abad ke 13 M ke sebahagian wilayah nusantara. Sedangkan "Islam menjadi kekuatan politik" memasuki pada abad ke-15 M setelah tumbangnya kerajaan Sriwijaya dan Majapahit.
Islam yang disebarkan di kawasan asia tenggara telah lengkap dengan berbagai aliran kalam, fiqh , tasawuf, dan tarekat yang dikembangkan oleh para ulama-ulama sebelumnya.Oleh Karena itu, terdapat kecenderungan umat Islam ketika itu. Pertama golongan tradisional yang mengikatkan diri pada madzhab atau aliran tertentu, kedua, golongan modernis yang menganggap bahwa kemunduran islam karena, pelaksanaan ajaran yang sudah tidak murni lagi.
Adapun mengenai kedatangan Islam ke Asia tenggara terdapat beberapa pendapat :
Pertama manurut beberapa pendapat, yang menyatakan bahwa islam datang ke Asia tenggara langsung dari  arab, pendapat ini pertama dikemukakan  oleh Crawfurd (1820), keyzer (1859), niemann (1861), de Hollander (1861), dan Veth (1878), Crawfurd menyatakan bahwa islam yang datang ke asia tenggara berasal dari arab. Keyzer berpendapat bahwa islam yang datang ke asia Tenggara berasal dari mesir yang bermadzhab safi’i. Sedangkan Niemann dan de Hollander berpendapat bahwa islam yang datang ke Asia Tenggara Karena kesamaan mazhab yang dianut, yaitu mazhab syafi’i. Selain itu Veth berpendapat bahwa Islam dibawa oleh “ orang- orang Arab.
Kedua menurut pendapat Pijnapel pada tahun (1872) menyatakan bahwa islam yang datang ke Asia Tenggara berasal dari india karena Ia menyatakan bahwa para pedagang kota pelabuhan dakka india selatan adalah pembawa Islam ke Asia Tenggara (Sumatra) dengan menunjuk dengan tempat yang sudah pasti di india,yaitu pantai koromandel sebagai pelabuhan tempat bertolaknya para pedagang muslim dalam pelayaran mereka  menuju nusantara.
Dakwah Islam di Asia tenggara maelalui dengan tiga cara :
A.    Melalui dakwah para pedagang muslim dalam jalur pedagangan yang damai.
B.     Melalui dakwah para da’i dan orang-orang suci yang datang dari india atau arab yang sengaja ingin mengislamkan orang-orang kafir, dan terbentuknya kerajaan Islam.
C.     Melalui kekuasaan atau peperangan dengan Negara-negara penyembahan berhala.
(pelembagaan Islam)
BAB XII
Pola Perkembangan Dakwah di Indonesia
Sampai pada abad ke-8 H/14 M, belum ada pengislaman penduduk pribumi nusantara secara besar-besaran. Baru pada abad ke-9 H/14 M, pendudk pribumi memeluk islam secara masal. Para pakar sejarah berpendapat bahwa masuk islamnya penduduk nusantara secara besar-besaran pada abad tersebut disebabkan saat itu kaum muslimin sudah memiliki kekuatan politik yang berarti. Yaitu, ditandai dengan berdirinya beberapa kerajaan bercorak islam, seperti kerajaan aceh darusalam, malaka, demak, Cirebon serta ternate. Para penguasa kerajaan-kerajaan ini berdarah campuran, keturunan raja-raja pribumi pra-islam dan para pendatang arab. Pesatnya islamisasi pada abad ke-14 dan 15 M antara lain juga disebabkan oleh surutnya kekuatan dan pengaruh kerajaan-kerajaan hindu atau budha di nusantara, seperti majapahit, sriwijaya, dan sunda. Thomas Arnold dalam the preaching of islam mengatakan bahwa, kedatang islam bukanlah sebagai penakluk seperti halnya bangsa portugis dan spanyol. Islam datang ke asia tenggara dengan jalan damai, tidak dengan pedang, tidak dengan merebut kekuasaan politik. Islam masuk ke nusantara dengan cara yang benar-benar menunjukannya sebagai rahmatalil alamin.
Dalam literatur yang beredar dan  menjadi arus besar sejarah, masuknya islam ke Indonesia selalu diidentikan dengan penyebaran agama oleh orang arab, Persia, ataupun Gujarat. Namun ada penemuan lain dimana yang ditulis oleh Slamet Mulyana ini berhasil memberikan satu warna lain, yaitu bahwa islam di nusantara tidak hanya berasal dari wilayah india dan timur tengah, akan tetapi juga cina, tepatnya di yunan. Dipaparkan bermula dalam pergaulan dagang antara muslim yunan dengan penduduk nusantara. Pada kesempatan itu terjadilah asimilasi budaya lokal dan agama islam yang salah satunya berasal dari daratan cina. Diawali saat armada tiongkok dinasti ming yang pertama kali masuk nusantara melalui Palembang tahun 1407. Saat itu mereka mengusir perompak-perompak dari hokkian cina yang telah lama bersarang disana. Kemudian laksamana Cheng Ho membentuk kerajaan islam di Palembang. Kendati kerajaan islam demaklah yang lebih dikenal.
Dalam menetapkan sasaran mad’u-nya (mitra dakwah) para walisongo terlebih dahulu melakukann perencanaan dan perhitungan yang akurat diimbangi dengan pertimbangan yang rasional dan strategis yakni dengan mempertimbangkan faktor geostrategis yang disesuaikan dengan kondisi mad’u yang akan dihadapinya. Sehingga hasil yang dicapainya pun akan maksimal. Hal ini juga tidak lepas dari setrategi dan metode yang telah mereka tetapkan. Maka itu proses islamisasi dipulau jawa berada dalam kerangka proses akulturasi budaya.
Disamping daerah perdagangan, jawa timur mendapat perhatian besar dari para wali, dengan ditempatkannya lima wali dengan wilayah dakwah yang berbeda-beda, Karena jawa timur pada saat itu merupakan pusat kekuasaan politik, yakni kerajaan Kediri dan majapahit. Maulana Malik Ibrahim sebagai perintis mengambil peranannya didaerah gresik, setelah beliau wafat wilayah ini dikuasai oleh sunan giri. Sunan ampel mengambil posisinya didaerah Surabaya, sunan bonang sedikit di utara yaitu di tuban, sementara itu sunan drajat di sedayu.
Di jawa tengah para wali lebih terlihat sebagai penyebar islam yang berprofesi sebagai pedagang. Dengan mengambil posisi di demak, kudus, dan muria. Di jawa tengah pusat kekuasaan politik agama hindu dan budha dapat dikatakan sudah tidak berperan lagi, namun realitasnya masyarakat masih terpengaruh oleh budaya yang ajarannya bersumber dari ajaran hindu dan budha. Penempatan ketiga wali di jawa tengah juga sekaligus berfungsi sebagai pusat pelayanan penyebaran agama islam di Indonesia tengah, karena pada saat itu pusat kegiatan politik dan ekonomi beralih ke daerah tersebut, dengan runtuhnya kerajaan majapahit dan munculnya kesultanan demak.
Sedangkan metode yang dikembangkan oleh para wali dalam gerakan dakwahnya adalah lebih banyak melalui media kesenian budaya setempat disamping melalui jalur sosial-ekonomi. Atau lebih tepatnya pengislaman kultur atau mengkulturkan islam. Sebagai contoh adalah dengan media kesenian wayang dan tembang-tembang jawa yang dimodifikasi dan disesuaikan oleh para wali dengan konteks dakwah.
Pola dakwah yang di kembangkan pada masa ini adalah konsentrasi pada peletakan ideology islam terhadap pemerintahan yang baru dibentuk untuk mengakomodasi kepentingan umat islam yang merupakan mayoritas penduduk Indonesia. Dan ini akan berdampak secara luas terhadap perkembangan dari islam itu sendiri dan kemudian menata kehidupan umat dalam sebuah masyarakat yang berdaulat, setelah lepas dari cengkraman penjajahan.
BAB XIII
Pola Dakwah Konyemporer di Eropa, Amerika, dan Australia
1.      Dakwah hingga hari ini tidak pernah berhenti, baik dalam bentuk tabligh, taklim, ceramah, atau dalam bentuk semangat pengalaman Islam, baik dalam skala pribadi maupun public. Mekipun gelombang penggusuran nilai-nilai Islam sangat besar dan berakibat pada melemahnya kekuatan penganutnya. Tetapi janji Allah untuk memelihara Al-Qur’an dan memenangkan Islam selalu direalisasikan dengan menyiapkan para da’I yang aktif, shaleh, peduli pada pengalaman ajaran Islam, dan bersemangat menyebarkan ajaran Islam. Merekalah yang memelihara identitas umat dihari ini. Mereka jugalah yang membangkitkan semangat umat untuk bersabar menghadapi kondisi yang belum berpihak kepada Islam.
2.      Bentuk gerakan dakwah konteporer sangat beragam. Ada gerakan dakwah yang bersifat personal, digerakan oleh totkoh ulama dan da’I karismatik yang memiliki pengaruh besar ditengah-tengah masyarakatnya dan ada juga dakwah jamaah yang berdakwah dalam bentuk organisasi yang terstruktur rapi. Dakwah jamaah juga sangat beragam ada yang dibentuk oleh masyarakat yang peduli terhadap sesame, dan ada yang dibentuk secara resmi oleh pemerintah.
3.      Tidak saja bentuk gerakan dakwah yang berbeda, system dan metodenya pun sangat beragam. Ada yang berusaha mendakwahkan seluruh nilai dan ajaran Islam dan ada juga yang berdakwah di sector tertentu saja. Ada yang berdakwah lewat sector pendidikan, ada yang kosentrasi dibidang tabligh, ada yang menekuni bidang pemikiran, dan ada yang berdakwah lewat lembaga sosial, politik dan lain-lain. Penentuan pilihan sector dakwah ini membuat para da’inya memiliki tingkat perhatian yang lebih terhadap segmen yang dipilihnya, dan sedikit berkurang perhatiannya terhadap sector yang lain. Pilihan sector dakwah juga membawa konsekuensi pada perbedaan system  dan metode yang diterapkan. Semua bentuk gerakan tersebut memiliki kontribusi bagi perkembangan dakwah, meskipun kadang-kadang terjadi gesekan-gesekan kurang sehat yang cukup menghambat gerak laju perkembangan dakwah.


[1] Muhd. Yusof Ibrahim, 1986, Pengertian SejarahBeberapa Perbahasan Mengenai Teori dan Kaedah, Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, hlm. 6.
[2] R. Suntralingam, Pengenalan Kepada Sejarah, Merican and Sons., Sdn. Bhd., Kuala Lumpur, 1985, hlm. 58 
[3] R.G. Collingwood (terjemahan Muhd. Yusuf Ibrahim), Idea Sejarah, Dewan Bahasa danPustaka, Kuala Lumpur, hlm. 2.
[4] Shafer R.G. Jones, A Guide To Historical Method, Illineis, hlm. 2
[5] Drs. Sidi Gazalba, 1966, Pengantar Sejarah Sebagai Ilmu, Jakarta, hlm. 11.
[6] Tengku Iskandar, Kamus Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, 1996, hlm. 1040.
[7] Collingwood R.G. The Idea Of History, Oxford University Press, 1966, hlm. 39.

0 komentar:

Poskan Komentar