gamang dalam diam

Konsep ketidaksadaran mengetuk-ngetuk pintu psikologi meminta izin masuk. Sementara filsafat dan sastra telah lama bergelut dengannya, namun ilmu pengetahuan tidak tahu kegunaannya. (Freud)

Hmmm... Saya hidup dengan arloji, dan karena itu saya acap tak mampu menyimpan memori. Arloji adalah gerak ke depan, tik-tok waktu yang tak pernah kembali. Dalam “hidup arloji”, yang ditinggalkan memang tak dilupakan, tapi diogahi. Masa lalu masih ada, namun tak penting. Celakanya, masa lalu yang tak penting itu hidup dalam ingatan kolektif saya yang abai.

Hari-hari ini, ideologi arloji itu, saya temukan lagi. Berawal dari pertemuan dengan seorang sahabat “baru” setelah kecemasan hadir menggurita. Yapz! Saya salut dan kagum atas permainan interpretasinya. Sunggung mencengangkan, meski dia bilang biasa saja. Maklumlah sikap bersahaja dan “falsafah padi” jadi anutannya.

Sahabat, di dalam tiap keramaian, tempik-sorak, tawa-bahak, selalu ada suara sepi. Bicara pun terkadang bersuara dengan nada ngambang, mirip gumam. Mata tak pernah berdiam pada objek, mengalih, lebih sering menerawang. Sinar roman kusam, kening pun selalu berhias kerutan. Bahkan hidup pun dirasakan gamang sebagai beban. Mungkin inilah wakil dari suara yang seakan kehilangan gairah. Meminjam kosa kata pantun; “keramaian adalah sampiran, kesunyian menjadi isi”. Meski isi itu, dalam beberapa hal, terlihat anomali.

Saya serasa berjalan tanpa mematok tujuan. Bergerak dari saat ke saat, setindak-tindak, laku dalam proses. Seperti laku yang diminati kaum “nihilis-aktif”, bergerak tanpa patokan, kreativitas yang lahir dalam suasana. Tapi, di situlah anomali terjadi. Ketakterpatokan itu terasa dalam gairah yang tidak kentara, atau mungkin tak ada. Berbeda dari kaum Nietzschean yang bergerak dalam gairah, menerima nasib dengan rasa cinta, “kusayangi apa yang terberi”, atau menjadi “gila”. Saya justru ingin menepi, merenung, menerawang ke masa silam, seakan pasti menyerah. Lebih seperti ketenangan air danau, yang menutupi gerak arus di bawahnya.

Sahabat, saya memang tak menampik apa pun yang diberi hidup, tapi keberterimaan itu tidak dengan rasa. Saya menerima dalam keadaan yang seakan, “Apa boleh buat…”. Mengutip apa yang dikatakan Camus dalam Mite Sisifus, “Selalu tiba saatnya kita harus memilih antara renungan dan tindakan. Begitulah hakikatnya menjadi manusia. Kepedihan itu mengerikan. Namun untuk hati yang memiliki kebanggaan, di situ tidak mungkin ada pilihan tengah. Ada tuhan atau waktu, salib atau pedang. Dunia ini mempunyai arti yang lebih tinggi yang melampaui segala hiruk pikuknya atau tidak ada suatu pun yang benar selain hiruk pikuk itu.”

Kau benar, Sahabat! Saya tidak alpa, apalagi lupa, cuma menganggap masa lalu bukanlah sesuatu yang pantas dikenang, diceritakan, apa lagi dimemorikan. Tapi entah kenapa saya merasa leluasa untuk mengutarakannya padamu. Ya, pada akhirnya saya juga sependapat dengan ide pokok dari Carl Rogers, psikolog aliran humanisme yang kau jadikan rujukan, bahwa individu memiliki kemampuan dalam diri sendiri untuk mengerti diri, menentukan hidup, dan menangani masalah psikisnya asalkan konselor menciptakan kondisi yang dapat mempermudah perkembangan individu untuk aktualisasi diri.

Menurutmu, motivasi orang yang sehat adalah aktualisasi diri. Jadi manusia yang sadar dan rasional tidak lagi dikontrol oleh peristiwa kanak-kanak seperti yang diajukan oleh aliran freudian, yang juga kamu labelkan pada saya. Jujur, dari ungkapan Rogers ini, saya merasa sisi gelap kemunafikan saya kian terbuka. Maklum orientasi dia lebih melihat pada masa sekarang, sementara saya sebaliknya. Dia berpendapat bahwa masa lampau memang akan mempengaruhi cara bagaimana seseorang memandang masa sekarang yang akan mempengaruhi juga kepribadiannya. Namun ia tetap berfokus pada apa yang terjadi sekarang bukan apa yang terjadi pada waktu itu.

Akhirnya saya juga paham, bahwa aktualisasi diri adalah proses menjadi diri sendiri dan mengembangkan sifat dan potensi psikologis yang unik. Aktualisasi diri akan dibantu atau dihalangi oleh pengalaman masa lalu. Aktualisasi diri akan berubah sejalan dengan perkembangan hidup seseorang. Ketika mencapai usia tertentu atau adolensi, seseorang akan mengalami pergeseran aktualisasi diri dari fisiologis ke psikologis.

Sahabat, saya mesti bertarung untuk masa depan itu. Meski biografi hidup saya harus dijabarkan. Kalau pun itu aib atau buruk, bagi saya itu telah menjadi masa lalu. Dan bila itu baik, paling cuma jadi gosip, dibicarakan tanpa melahirkan tindakan. Kini saya berharap, ingatan arloji itu akan dapat mengerek saya ke panggung masa depan, karena saya punya kuasa untuk memerintah lupa!

Dan saya harus mengakui, kuatnya memori berimbas pada kecemasan itu. Apa yang dibantah, bahkan dengan sumpah, menjadi tak penting lagi. Dalam tik-tok arloji, kelampauan adalah keusangan. Meski itu menyangkut janji, atau hati. Yang menyergap, yang harus dikalahkan, adalah masa depan.

Bukannya Agustinus, dalam Confession menulis bahwa ingatan, juga kesadaran seseorang, terentang dengan ekspektasinya tentang masa depan? Ingatan, dengan demikian, selalu berelasi dengan kepentingan dan harapan di masa depan. Lupa adalah tindak yang dipilih jika bisa melahirkan sebuah harapan. Dan berkaitan dengan kecemasan, harapan itu tentu berwatak personal. Tapi ingatan itu berjalan ke belakang, tak berfungsi ke depan.

Sahabat, barangkali inilah yang dikatakan Spinoza sabagai ingatan yang tanpa sad passion, syahwat kesedihan. Mengingat bagi saya, tak melahirkan sakit, sekedar cemas, juga gamang. Saya percaya, dalam tiap cacat masa lalu seseorang yang dikenang, ada rejeki, uang, harapan, di depan. Saya cerita padamu tentang masa lalu bukan dengan afeksi, emosi, dan sentimen personal untuk masa depan yang lebih baik, melainkan demi kepentingan personal semata.

Ingatan arloji, kataku. Mari menari! mari beria! mari berlupa! tulis Chairil dalam puisi “Cerita buat Dian Tamaela”. Karena dalam lupa, dalam ingatan yang tak ingin saya kuasakan, saya bisa bahagia, meski bukan untuk mereka...

0 komentar:

Poskan Komentar