Projek (Lembaga) Pengembangan Pengajaran Bahasa Arab


Pendahuluan
Untuk mencapai hasil belajar bahasa Arab yang efektif dan maksimal, lembaga-lembaga pendidikan harus melakukan dua kegiatan, pertama; pembelajaran, (learning), dan kedua; pemeroleh bahasa (language acquisition). Pembelajaran membentuk keterampilan berbahasa secara formal, sedangkan pemerolehan membentuk pembelajaran secara non formal. Kedua cara ini menuntut pengajar (guru) untuk mempersiapkan rencana pembelajaran (RPP) yang bermutu, yaitu pembelajaran yang terukur dan terkontrol serata adanya komitmen dari kedua komponen yang terkait.
Kehadiran dan perkembangan teknologi yang sangat pesat telah menyebabkan proses terjadinya perubahan dramatis dalam segala aspek kehidupan, termasuk pendidikan. Kehadiran teknologi tidak memberikan pilihan lain kepada dunia pendidikan selain turut serta dalam memanfaatkannya. Karena pada hakikatnya, teknologi adalah solusi dari beragam masalah pendidikan saat ini. Kecanggihan, ketepatan, serta kecepatan dalam menyampikan suatu informasi menjadikan teknologi menduduki posisi penting di berbagai bidang termasuk di bidang pendidikan. Pemanpaatan teknologi dalam pembelajaran diharapkan akan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran serta memperluas jaringan pendidikan dalam pembelajaran karena teknologi telah menjadikan ilmu pengetahuan lebih mudah siakses, dipublikasikan dan disimpan. Selain itu pemanfaatan teknologi diharapkan pula dapat mengurangi biaya pendidikan, serta memberikan sumbangsih terhadap upaya integritas lmu pengetahuan.
Dewasa ini, sistem pendidikan yang memanfaatkan teknologi akan menjadi kadaluarsa dan kehilangan kredibilitasnya. Namun, di sisi lain ada juga pendapat yang menyatakan bahwa situasi ini lebih disebabkan oleh adanya konspilasi yang mengakibatkan terjadinya ketergantungan dunia pendidikan terhadap teknologi ini. Kedua pendapat itu tidak perlu di perdebatkan karena memiliki kesahihan tersesdiri dari persfektipnya masing-masing. Yang harus menjadi perhatian adalah bagaimana dampak teknologi terhadap sistem pendidikan, terutama sistem pembelajaran, serta bagaimana strategi pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran. Dalam usaha mewujudkan hal tersebut, tentu diperlukan langkah-langkah strategis agar diperoleh hasil yang optimal.
Perubahan budaya pembelajaran bahasa asing (lughoh ajnabiyah) sebagai akibat pemanfaatan teknologi sangat bergantung pada berbagai komponen dalam sistem pendukung pembelajaran. Ada beberapa hal yang menjadikan teknologi kurang mendapatkan tempat dalam pembelajaran bahasa Asing di beberapa institusi pendidikan. Paktor yang paling utama disebabkan karena tenaga pengajar sebagai salah satu komponen terpenting yang sangat berperan dalam perubahan tersebut tidak mempunya skill yang kompeten. Oleh karena itu tenaga pengajar saatini dituntut untuk memiliki kemampuan kreatif dan inovatif serta wawasan tentang perubahan tersebut. Disamping itu, tenaga pengajar juga dituntut untuk memiliki keterampilan teknis penguasaan teknologi agar dapat melakukan perubahan secara operasiaonal, dan bersikap positif terhadap teknologi serta perubahannya.
Pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran bahasa asing tanpa sadar telah mengubah kondisi akademik yang berjalan selama ini. Dengan teknologi ini kondisi-kondisi yang sifatnya tertutup dan telah menjadi tradisi yang diwariskan secara turun temurun menjadi tersingkirkan atau bahkan lenyap dan dikantikan oleh kondisi-kondisi yang bersifat transparan, terbuka serta proses evaluasi pembelajaran yang berkelanjutan. Oleh karena itu, diperlukan inovasi dalam pembelajaran bahasa Arab.

Karakteristik Bahasa Arab
Bahasa Arab termasuk salah satu rumpun bahasa semit selain bahasa Mesir Kuno, bahasa Berber, dan bahasa-bahasa Kusyitika.1 Bahasa Arab banyak dipakai oleh bangsa-bangsa yang tingal di sekitar sungai tigris dan Eufrat, dataran Syiria dan Jazirah Arabia (Timur Tengah).2 Bangsa-bangsa itu terbagi kepada beberapa suku dan kabilah, dimana yang satu dan yang lainnya terpisah, kecuali hubungan mereka sangat lemah. Mereka memiliki adat istiadat yang sama, hanya saja keturunan bangsa yang terbentuk secara lemah itu terpelihara sangat baik, berkat adanya pasar Ukaz, yang selain tempat pertemuan bisnis, juga merupakan pertemuan seni sastra di antara mereka3.
Sejak menjelang abad ketiga masehi, bahasa ini berkembang menjadi suatu bahasa yang terkenal. Dalam perkembangannya, bahasa Arab dapat dibedakan kedalam tiga kelompok, yaitu a) bahasa Arab klasikyang merupakan bahasaal-Quran dan bahasa yang dipakai oleh para pujangga dan penyair seperti Ibnu Khaldun, al-Muntahabi dan lain-lain, b) bahasa Arab sastra (fushha modern) adalah bahasa yang dipakai dalam surat kabar,radio, buku dan lain-lain, dan c ) bahasa Arab tutur yaitu bahasa yang dipakai dalam pergaulan sehari-hari4.
Dengan demikian, bahasa Arab sendiri memiliki posisi khusus diantara bahasa-bahasa lain di dunia, karena bahasa Arab bagi kaumm muslimin secara khusus memiliki arti penting untuk dipelajari. Ada beberapa alasan penting bahasa Arab dikuasai umat manusia,khususnya kaum muslimin yaitu bahasa Arab merupakan: a) bahasa al-Quran; b) bahasa dalam ibadah shalat; c) bahasa al-Hadits yang mulia; d) bahas dalam pergaulan ekonomi bangsa arab; dan e) bahasa dengan penutur cuku banyak di dunia5.
Setiap bahasa memiliki karakteristik sendiri-sendiri, begitu juga dengan bahsa Arab dengan segala kelebihannya. Tiadak diragukan lagi bahwa bahasa Arab memiliki susunan paling logis dan paling jelas keterangannya, juga paling unggul rasa bahasanya. Sebagaimana ungkapan Ibnu Khaldun: “Bahasa Arab merupan harta yang dimiliki oleh orang Arab, karena bahasa Arab adalah sebenar-benar harta yang paling jelas keterangannya mengenai pengungkapan maksud dan tujuan”6.
Jadi, motivasi mempelajari bahasa Arab tidak hanya terbatas pada kepentinagan dunia namun juga kepentingan akhirat karena di dalam Islam ada keharusan untuk menguasai bahasa Arab guna memahami Al-Qur'an selaku kitab suci kaum muslimin.
Di samping itu, kelebihan dan keistimewaan bahasa Arab secara khusus juga di jelaskan oleh suyuti dalam al-Munzir antara lain : a) mufradatnya yang banyak dan tersebar pada peribahasa dan majas, b) al-ta'widh; yakni kata mengganti kata, seperti masdhar mengganti posisi amr contoh:”Shabran 'ala Yasir fainna mau 'idakum al-jannah”, fail mengganti mashdar contoh: “laisa liwaqatiha kazibah”. b) Faqq al-Idghm; yakni meringnkn kalimat dengan membuang, contoh: “lam yaku”, c) tidak ada kecuali berlaku di bahassa Arab, contoh: pembedaan harakat berimplikasi kepada perbedaan makna, contoh: miftah (dengan mim baris kasrah) berarti kunci atau alat untuk membuka, sedangkan maftah (dengan mim baris fathah) berarti tempat membuka.
Bahasa Arab merupakan bahasa yang juga paling kaya dengan “suara” yakni tidak ada bahasa di dunia ini yang melebihi bahasa Arab dalam hal pengucapan huruf-huruf yang sesuai dengan makhrajnya masing-masing. Satu huruf memiliki suara yang berbeda jika diucapkan, karena harakatnya yang beragam. Dari segi Sharf, bahasa Arab memiliki sistem pengembangan kosakata yang disebut dengan isytiqaq, yaitu perubahan bentuk kata yang terjadi dalam kosakata itu sendiri; atau kata itu memiliki tiga dasar, yakni terdiri dari af'al, asma' dan juga shifat yang dengan bentuk-bentuk tersebut bisa dibangun beragam kata. Selain itu, bahasa Arab merupakan bahas siyagh (yang memiliki bentuk-bentuk kata tertentu) yang bersama-sama dengan isytiqaq menjadi dasar pembentukan kosakata dan pengembangan bahasa Arab. Masih dengan topik yang sama, bahasa Arab juga merupakan bahasa Tashrif yakni bahasa yang memiliki huruf-huruf yang berubah akhirnya karena dirasa berat diucapkan oleh orang Arab. Contohnya kata “ميزا" seharusnya berbunyi “tulisan arab(muwzan)” namun berubah menjadi “tulisan arab(miyzan)” karena dirasa berat dalam pengucapan7.
Bahasa Arab adalah bahasa yang memiliki beragam struktur kalimat, pola-pola kalimat yang dimiliki bermacam-macam. Ada jumlah ismiyah, jumlah fi'liyah, jumlah khabariyah, jumlah insya'iyah, jumlsh istifhamiyah, dan sebagainya. Atas dasar ini, maka bahasa Arab menjadi bahasa dengan pola pengungkapan yang beragam meskipun terkadang maknanya sama. Dari segi qawa'id, bahasa Arab menyangkut sistem penulisan ucapan yang selalu ajeg, tidak seperti bahasa-bahasa lainnya dalam penulisan dan pengucapan8. Bahasa Arab dengan kaidah-kaidahnya mengatur bagaimana kata, klausa dan kalimat teratur dalam penulisan maupun pengucapan, bahkan penguasaan terhadap kaidah-kaidah bahasa Arab membuat pembelajar cepat memahami struktur kalimat yang dipelajari.

Pembelajaran Bahasa Arab Bagi non Arab
Banyak alasan mengapa orang-orang non Arab mempelajari bahasa Arab, menurut Thu'aimah, terdapat beberapa alasan non Arab mempelajari bahasa Arab antara lain:
  1. Motivasi agama terutama Islam karena bahasa kitab suci kaum muslimin berbahasa Arab menjadikan bahasa Arab harus dipelajari sebagai alat untuk memahami ajaran agama yang bersumber dari kitab suci al-Qur'an;
  2. Orang non Arab akan asing jika berkunjung ke Jajirah Arabia yang biasanya menggunakan percakapan bahasa Arab baik 'amiyah maupun fushha jika tidak menguasai bahasa Arab;
  3. Banyak karya-karya para ulama klasik bahkan hingga yang berkembang dewasa ini, menggunakan bahasa Arab dalam kajian-kajian tentang agama dan kehidupan keberagaman kaum muslimin di dunia. Sehingga itu, untuk menggali dan memahami hukum maupun ajaran-ajaran agama yang ada di buku-buku klasik maupun modern, mutlak menggunakan bahasa arab9.
Pembelajaran bahasa Arab dengan berbagai karakteristiknya serta motivasi mempelajarinya di kalangan masyarakat non Arab, tetap saja memiliki kendala dan problematika yang dihadapi karena bahasa Arab tetap bukanlah bahasa yang mudah untuk dikuasai secara total. Problematika yang biasanya timbul dalam pembelajaran bahasa Arab bagi non Arab terbagi kedalam dua problem; problem linguistik dan non linguistik. Adapun yang termasuk probem linguistik yaitu tata bunyi, kosakata, tata kalimat dan tulisan. Sementara yang termasuk problem non linguistik yang paling utama adalah problem menyangkut perbedaan sosiokultural masyarakat Arab dengan musyawarah non Arab.
Persoalan yang menyangkut aspek linguistik antara lain: pertama, masalah Tata Bunyi; Sebenarnya pengajaran bahasa Arab di asia tenggara umumnya dan khusunya di Indonesia, sudah berabad-abad lamanya. Akan tetapi aspek tata bunyi sebagai dasar untuk mencapai kemahiran menyimak dan berbicara masih kurang diperhatikan. Hal ini menurut Chotib, disebabkan oleh karena tujuan pembelajaran bahasa Arab hanya diarahkan untuk menguasai bahasa Arab saja, kemudian pengertian hakikat bahasa lebih banyak didasarkan atas dasar metode gramatika-terjemah, yaitu suatu metode mengajar yang banyak menekankan kegiatan belajar pada penghafalan kaidah-kaidah tata bahasa dan penerjemah kata perkata10. Dengan sendirinya, gambaran dan pengertian bahasa atas dasar metode ini tidask lengkap dan utuh, karena tidak mengandung tekanan bahwa bahasa itu pada dasarnya adalah ujaran.
Kamal Badri mengungkapkan bahwa mengajarkan berbicara lebih penting dari pada mengajarkan menulis, larena berbicaralah yang benar-benar mencerminkan bahasa, sebab ia menonjolkan aspek-aspek bunyi dan menjelaskan cara pengucapan yang benar dengan segala aspek yang kurang diperhatikan oleh kemahiran menulis11. Disamping itu, berbicara lebih dahulu dari pada bahasa. Anak kecil baru belajar menulis setelah lewat beberapa tahun khususnyan mempelajari bahasa dengan mendengar dan berbicara.
Kedua, masalah kosakata; kosakata yang banyak diadopsi oleh bahasa Indonesia menjadi nilai tambah bagi orang Indonesia mempelajari bahasa Arab dengan mudah, karena makin banyak kosakata Arab yang digunakan dalam bahsa nasional Indonesia, makin mudah pula orang indonesia membina kosakata, memberi pengertian dan mekatnya dalam ingatan. Namun demikian, perpindahan kata dari bahasa asing ke dalam bahasa Arab dapat menimbulkan berbagai persoalan, antara lain:
  1. Pergeseran arti, seperti kata masyarakat yang berasal dari kata “tulisan arab(masyaarakat)”, dalam bahasa Arab arti kata masyarakat ialah keikutsertaan, partisipasi atau kebersamaan. Sementara dalam bahasa Indonesia artinya berubah menjadi masyarakat yang dalam bahasa Arab dikatakan “tulisan arab(mujtami')”, demikian pula dengan kata dewan yang berasal dari kata tulisan arab(diywan)” yang berarti kantor dan kata rakyat yang berasal dari kata tulisan arab(roiyatun)” yang berarti gembalaan.
  2. Lafaznya berubah dari bunyi aslinya, seperti berkat dari kata, kata kabar dari kata ,mungkin dari kata dan kata mufakat berasal dari kata,
  3. Lafaznya tetap, tetapi artinya berubah, seperti kata, yang berarti susunan kata-kata yang bisa memberikan pengertian, berasal dari bahasa arab yang berarti kata-kata.
Ketiga, masalah tata kalimat; dalam membaca teks bahsa arab pembelajar harus memahami artinya terlebih dahulu. Dengan begitu pembelajaran akan bisa membacanya dengan benar, hal ini tidak lebas dari pengertian tentang ilmu nahu, yakni untuk memberikan pemahaman bagaimana cara membaca yang benar sesuai kaidah-kaidah bahasa arab yang berlaku, sebenarnya ilmu nahwu tidak berkaitan dengan i’rab dan bin’a, melainkan juga penyusunan kalimat, sehingga kaidah-kaidah selain rib’a seperti al-muthabaqoh(kesesuaian) dan al-mauqi’iyyah (tata urut kata). Al-muthabaqah(kesesuaian) yakni seperti penyesuaian mubtada dan khabar sifat dan mausuf,persesuaian dari segi jenis kelamin yakni mudzakar dan muannats, segi jumlah yakni mufrod,mufsana dan jama dan segi marifat dan nakirah.

Projek lembaga pengajaran bahasa arab bagi non arab
Tujuan proje pengajaran Bahasa Arab sebagai bahasa asing adalah agar seseorang dapat mengetahui perkembangan pengajaran Bahsa Arab sebagai bahasa Asing dan mengetahui teori-teori baru (modern) dalam kurikulum pengajaran bahasa arab .pembelajaran Bahasa Arab bagi non Arab dimulai dari pertama kali pada abad ke 17, ketika bahsa Arab mulai diajarakn di Universitas Cambridge Inggris, sementara di Amerika, perhatian terhadap bahasa arab dan pembelajarannya baru dimulai pada tahun 1947 disekolah-sekolah tentara Amerika.
Di Mesir banyak terdapat pusat pembelajaran bahsa Arab,ditandai dengan banyaknya pengembangan proyek bahsa Arab yang ada, pada setiap pusat-pusat pembelajaran bahsa ini, dipastikan ada proyek pengembangan bahsa Arab lengkap dengan tujuan-tujuan khusus, sejumlah perencanaan da materi-materinya.
Pembelajar bahsa Arab bagi non Arab merupakan satu hal yang tidak bisa dihndari, karena urgensi bahasa Arab bagi seluruh dunia saat ini, cukup tinggi baik yang muslim maupun yang non muslim, hal ini terbukti dengan banyaknya lembaga radio mesir, Universitas Amerika di mesir, Institut kajian keislaman di Madrid Spanyol, institit syamlan di Lebanon, Markaz Khortum di Sudan, LIPIA di jakarta, Institut-institut pembelajaran milik yayasan al-khoury di Emirat Arab yang tersebar di indonesia, masing-masing di Surabaya, Makasarm Malang, Bandung, Solo ,pondok-pondok pesantren yang tersebar di pelosok Negeri.

Lembaga Pusat Kebudayaan bagi Diplomasi
Pusat kebudayaan bagi diplomasi di Kairo berkembang pada tahun 1965. Lembaga terseut merupakan bagian dari Kementrian Kebudayaan, fungsi utamanya dalah melayani kebudayaan badi diplomasi dan menyebarkan bahasa Arab secara luas, lembaga ini mengeluarkan sebuah buku belaja bahasa arab (Lean Arabic) buku ini diperuntukan untuk orang berbahasa inggris.
Pada tahun 1965. Lembaga ini menyelenggarakan pengajaran bahasa Arab yang diikuti lebih dari 80 orang peserta utusan diplomasi Kairo, para pengajarnya terdiri dari fropesor0fropesor dari Universitas yang ahli dalam bidang pengajaran.bahasa Arab dari on Arab, adapun buku yang digunakan dalam lembaga ini adalah, ta’alum al-‘arobiyah. Pada bagian pendahuluannya dalam buku ini membahas tentang pengajaran bahasa asing, sedangkan bahsa yang digunakan adalah bahasa fudha.
Buku ta’alun al-lughoh menyajikan teori tentang qowaid yang lengkap dengan contoh, stuktur bahasa, teks dan mufrodath. Dengan demikian buku ini mempermudah proses pembelajaran bahsa Arab bagi non Arab dipandang cukup berat dan sulit/

Lembaga Peyiaran Radio Mesir
Latar belakang berdirinya lembaga penyiaran radio Mesir adalah sebagai berikut:
  1. Dalam Sebagai respon keinginan kaum muslimin yang sedang ihrom yang berasal dari Asia dan Afrika untuk mempelajari Bahasa Arab.
  2. Siaran radio tersebut sampai ke Asia dan Afrika dengan jelas dimana siarannya mencapai 34 bahasa (37:1-6).
  3. Siaran ini dilengkapi dengan referensi buku dan daftrar pelajaran yang jelas.
  4. Dalam menyajikan dan menjelaskan bahasa arab, para penyusun menyajikan dan menggunakan bahasa Inggris dan Prancis atas dasar pengalaman.
  5. Menggunakan uslul yang tepat (modern) dan dilengkapi dengan media pembelajaran dalam mengucapkan huruf dan kalimat.
  6. Buku yang disajikan dalam siaran radio mencapai 10 jilid yang tersiri dari153 pelajaran
  7. Dalam menyajikan materi pembelajaran menggunakan dua bahsa yaitu, inggris dan perancis dengan 153 pelajaran dan masing-masing pelajaran disajikan selama 15 menit.
Untuk mengetahui penguasaan pendengar terhadap materi yang disajikan
lewat siaran radio baik penguasaan dalam membaca maupun menulis maka lembaga penyiaran melakukan evaluasi selam kurang lebih tiga tahun, dari tahun 1966 sampai sekarang diperoleh kesimpulan berikut:
  1. Jumlah pendengar tersebar si 85 negara
  2. Jumlah pendengar mencapai 67958 orang
  3. Jumlah buku yang dikirm kepada pendengar melalui pos mencapai 552700 buku
  4. Jumlah surat pembaca sekitar 210475
  5. Lembar tes yang dikirim kepada pendengar berjumlah 183153 buah
  6. Pembelajaran khat Arab sekitar 63666 lembar/

Universitas Amerika di Kairo
Pembelajaran bahasa rab di Universitas ini diperuntukan bagi Karyawan,Diplomat dan ibu rumah tangga, pelajar dan orang yang ingin menetahui Bahasa Arab, baik untuk percakapan maupun tulisan
  1. Silabus Bahasa Umum atau Lughoh Mutakamilah
Terdapat tiga tingkatan (silabus) bagi bahasa umum (mutakamilah), yaitu:
  1. tinggkat pertama; dikhususkan bagi pemula yaitu orang yang belum memiliki pengetahuan tentang bahsa umum (mutakamilah). Oleh karena itu, pengajaran dikonsentrasikan untuk mengucapakan bahasa Arab dan mengembangkan muhadatsah yaumiyah.
  1. Tingkat kedua; diperuntuhkan bagi siswa yang telah lulus atau mencapai standar kelulusan tingkat pertama atau yang setara dengannya. Pada tingkat ini ,Bahasa Arab di gunakan sebagai alat pembelajaran, dan juga digunakan media audio visual ,materi tersusun secara sistematik, teks-teks yang pendek dan bahar-bahar syair serta abjad bahasa Arab.
  2. Tingkat ketiga; diperuntungkan bagi siswa yang telah mencapai standar kelulusan pada tingkat kedua secara sempurna. Pada tingkat ini di arahkan pada pendalaman kebudayaan Mesir melalui bahar-bahar syair yang ditulis secara umum,atau melalui surat kabar dan majalah.
  1. Silabus Bahasa Fusha atau Sastra
    Silabus bahasa fusha disajikan pada dua kelas (tinkat); yaitu :
  1. Tingkat pertama ; yaitu bagi siswa pemula yang belum mampu membaca atau menulis bahasa fusha. Tujuannya adalah membantu siswa untuk belajar membaca dan menulis bahasa arab, membekali mereka dengan pengetahuan awal struktur utama bahasa Arab.
  2. Tingkat kedua ; yaitu bagi para siswa yang telah mencapai standar kelulusan pada tingkat pertama atau setara dengannya .Pada tingkat ini bukan sekedar mengerjakan mufrodat dan struktur kalimat ,akan tetapi para siswa harus menguasai materi bahasa sastra dan bahasa fusha. Orientasinya diarahkan pada membaca dan memahami tulisan-tulisan (suhuf) bahasa mesir dan Majalah.
Sementara itu buku yang banyak digunakan di Universitas Amerika di kairo adalah buku “The Living Arabic of Cairo” dan buku “Elemetary Modern Standar Arabic”. Buku “The Living Arabic of Cairo” digunakan untuk mahasiswa yang ingin mempelajari bahasa amiyah. Sedangkan buku “Elemetary Modern Standar Arabic” digunakan untuk mengajarkan atau Fusha.




















Daftar pustaka
'Ali 'Abd al-Walid Wafi,
1962 Ilm al-Lughah, Kairo: Maktabah.
Abdul Mun'im,
2004 Analisis Kontrasif: Bahasa Arab dan Bahasa Indonesia, Jakarta : Pustaka al-Husna Baru
Ahmad Chotib, dkk.,
1976 pedoman pengajaran Bahasa Arab untuk perguruan Tunggi Agama Islam , (Jakarta : Departemen Agama RI.
Fathi 'Ali Yunus dan Muhammad 'Abd al-Rauf al-Syeikh,
2003 al-Marja fi Ta'lim al-Lughah al- 'Arabiyah li al- Ajanib ,Kairo : Maktabah Wahbah.
Kamal Ibrahim Badri,
2004 al-awlawiyat fi manhaj Ta'lim al-Lughah al-'Arabiyah fi madaris Indonesia, (Seminar Internasional Pengembangan Pengajaran Bahasa Arab di Indonesia 1-3 september di Jakarta).
Muhammad Ali al-Khuli ,
1989 Asalib Tadris al-Lughah al-'Arabiyyah, (Riyadh : al-Mamlakah al-Arabiyyah
al-Su'udiyyah, 1989), cet. III.
Muhammad Daidawi,
1992 'llm al-Tarjamah baina al-Nazhariyah wa al-Tathbiq, Tunis : Dar al-Ma'rif.
Team Dirjen Bimas Islam,
1974 pedoman pengajaran Bahasa Arab pada perguruan Tinggi Agama/IAIN, Jakarta :
Proyek pengembangan Sistem pendidikan Agama Departemen Agama.
Yunus 'Ali al-Muhdor dan Bey Arifin,
1983 Sejarah Kesusasteraan Arab ,Surabaya : Bina Ilmu.
1'Ali 'Abd al-Walid Wahid Wafi, Ilm al-Lughah, (Kairo : Maktabah Nadhah,1962),h. 12
2Yunus 'Ali al-Muhdor dan Ben Arifin, Sejarah Kesusastraan Arab,(Surabaya:Bina Ilmu,1983),h 12
3Abdul mun'im, Analisis Kontrastif: Bahasa Aaarab dan Bahasa Indonesia, (Jakarta: Pustaka al Husna Baru,2004), h. 23
4Team Dirjen Bimas Islam, Pedoman Pengajaran Bahasa Arab pada Perguruan Tinggi Agama/IAIN, (Jakarta: Proyek Pengembangan Sistem Pendidikan Agama Departemen Agama, 1974), h. 49
5Muhammad al-Arabiyyah al-Arabiyyah al-Su'udiyyah, 1989), cet. III, h. 19-20
6'Abd al-Rahman Ibn Khaldun, Muqaddimah, (Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, tt), h. 546
7Rusydi Ahmad Thu'aimah, Ta'lim al-Lughah, h. 36
8Muhammad Daidawi, 'Iim al-Tarjamah baina al-Nazhariyah wa al-Tathbiq, (Tunis: Dar al-Ma'rif, 1992), h. 245-246
9Rusydi Ahmad Thu'aimah, Ta'lim al-Lughah, h. 31-32
10Ahmad Chotib, dkk. Pedomen Pengajaran Bahasa Arab untuk Perguruan Tinggi Agama Islam, (Jakarta: Departemen Agama RI, 1976), h. 79
11Kamal Ibrahim Badri, al-Awlawiyat fi Manhaj Ta'lim al-Lughah al-'Arabiyyah fi Madaris Indonesia, (Seminar Internasional Pengembangan Pengajaran Bahasa Arab di Indonesia 1-3 September di Jakarta), h. 6

0 komentar:

Poskan Komentar