Spirit Nabi Ibrahim dan Nabi Musa

Ibrahim adalah seorang Nabi-revolusioner yang penuh dedikasi. Dia mengabdi kepada kebenaran dan keadilan. Masyarakat Kaldea dengan teguh tetap berpegang pada lembaga-lembaga sosial dan ekonomi yang sudah bobrok itu dan dengan membabi buta mengikuti adat-istiadat dan tradisi-tradisi amoral dari para leluhurnya. Ketika pecah perang antara dia dengan para penindas itu, dia diancam dengan konsekuensi-konsekuensi yang mengerikan karena dia menyerang tuhan-tuhan dan agama palsu mereka. Tetapi dia tidak gentar dan tidak takut. Tidak ada yang ditakutinya selain Allah. Dia bijaksana, berani, dan rendah hati.
Ibrahim dihadapkan ke muka Pengadilan Tinggi, lalu diadili dan dijatuhi hukuman mati. Dia dinyatakan bersalah atas usahanya menghancurkan tatanan sosial yang sudah mapan dan atas tindakannya membahayakan agama negara, tuhan-tuhan mereka, stabilitas sosial, dan ketenangan. Dia adalah seorang pemberontak yang mendorong orang-orang yang tertindas untuk menggulingkan tatanan sosial yang korup.
Dia dinyatakan sebagai seorang pemberontak dan disiksa, serta dilemparkan ke dalam tumpukan kayu api yang menyala, tetapi dia tetap segar bugar. Mereka tidak dapat membunuhnya. Kemudian mereka mengatur berbagai strategi untuk menyingkirkannya dari tengah-tengah mereka. Penghinaan dan penyiksaan yang diterimanya kian meningkat dan musuh-musuhnya mulai menghabiskan semua energi mereka untuk dapat bebas darinya. Dia memutuskan untuk pindah ke barat, ke negeri Aram atau Syria yang subur, dan kemudian ke selatan, ke negeri Kanaan di Palestina. Pada saat itu Palestina adalah sebuah propinsi bagian dari Mesir.
Demikianlah, Ibrahim meninggalkan ayahnya, kaumnya dan rumahnya di Ur, di Kaldea, demi kebaikan, demi tujuan kebenaran yang tengah diperjuangkannya. ia tidak berkompromi dengan para penguasa, dengan raja-tuhan dan dengan ayahnya. Tujuan kebenaran adalah hal yang paling berharga di dunia. Berjuang membela kebenaran, kesetaraan manusia, cinta kasih, dan persaudaraan adalah berjuang untuk ‘jalan Allah’, dan dalam bahasa Al-Qur’an:
“Dan sekiranya kamu terbunuh atau mati di jalan Allah, pengampunan dan rahmat dari Allah pasti lebih baik daripada segala yang mereka kumpulkan”. (Q.S. 3:157)
Ini adalah migrasi, hi’jrah, besar-besaran Ibrahim demi menegakkan tujuan kebenaran. Hijrah adalah sesuatu yang umum dilakukan dalam perjuangan-perjuangan para Nabi-revolusioner yang melawan kepalsuan dan korupsi dan yang tidak pernah mau berkompromi.
Istrinya, Sarah, dan keponakannya, Luth, mendampinginya selama dalam pengadilan. Mereka yakin akan kebenarannya dan tetap bersamanya dalam penderitaan dan kesengsaraan. Di Palestina, dia tinggal di daerah pantai Kanaan bersama dengan kawanan-kawanan domba dan kambingnya, berkelana dari padang rumput yang satu ke padang rumput yang lain dan berjuang melawan tiran dan raja-tuhan berbagai tempat.
Ibrahim menjadi seorang Nabi-revolusioner, pemimpin, pejuang kebenaran dan keadilan yang baik hati, searang hamba kebenaran (hanif kekasih Allah (Khalil Allah) yang tidak menyembah apapun dan tidak takut pada apapun selain Allah.
Musa adalah seorang pemberani yang berdiri menantang diskriminasi dan kekerasan raja-tuhan Mesir, dan dengan tegas menghadapi serangan korupsi dan kejahatan yang dilakukan secara bersama-sama. Musa adalah seorang penggembala, seorang hamba kebenaran, cinta kasih dan keadilan yang sederhana dan jujur, seorang guru besar dan Nabi agung yang berhasil membebaskan orang-orang Israel dari perbudakan yang telah berlangsung selama berabad-abad.
Al-Qur’an menggambarkan fakta-fakta sejarah kehidupan dan misi Musa sejajar dengan perjuangan heroik Nabi-Nabi-revolusioner lainnya, sebagai sebuah perang antara kekuatan kebaikan dengan kekuatan kejahatan. Musa memimpin kekuatan-kekuatan kebenaran, keadilan, cinta kasih dan kesetaraan, sedangkan Fir’aun, raja-tuhan yang arogan itu, mengepalai kekuatan-kekuatan kepalsuan, ketidakadilan, keangkaraan, arogansi dan penindasan. Dan seperti biasanya, kebenaran pada akhirnya mengalahkan kepalsuan.
Fir’aun dan para pemukanya yang berkuasa mengejek ide bahwa seorang penggembala yang berasal dari golongan rendahan, lemah, miskin dan sederhana dapat mengalahkan kekuatan-kekuatan Mesir yang superior dan membebaskan para budak. Dan daripada memberontak terhadap tatanan sosial yang korup itu, Musa justru harus tunduk kepada Fir’aun, karena Fir’aun telah memelihara dan mendidik serta membuatnya berbudaya di dalam istananya. Fir’aun berusaha untuk membujuk dan memperdaya orang yang jujur itu: “…Bukankah kami telah memelihara kau sejak kau kecil di tengah-tengah kami dan kau tetap bersama kami selama bertahun-tahun dalam hidupmu?” (Q.S. 26: 18). Demikianlah Fir’aun berkata sambil menyatakan bahwa dialah sang raja-tuhan, pemelihara umat manusia yang maha kuasa dan bahwa Musa adalah seorang pem¬bunuh yang rendah dan seorang penghasut budak-budak. “Dan engkau mengerjakan perbuatan yang kauperbuat itu tanpa kenal terima kasih” (Q.S. 26: 19).
Musa menyerang tipuan jahatnya yang licik dengan kebenaran dan kelugasannya yang sederhana:
“Aku melakukannya karena khilaf. Maka aku pun lari dari kamu sebab aku takut kepadamu; tetapi Tuhanku telah meng¬anugerahi aku kearifan dan mengangkatku menjadi salah se¬orang rasul. Dan itulah kenikmatan yang kaulimpahkan kepada¬ku dengan ketentuan kau memperbudak Bani Israil” (Q.S. 26: 20-22).
Sang raja-tuhan dan para penasihat, agamawan, ideolog, dan administratornya menganggap keberanian para pemberontak ini sebagai pemberontakan terhadap tatanan sosial mereka yang opresif yang kepadanya kekayaan, kekuasaan, dan hak-hak istimewa mereka terikat. Fir’aun berkata:
“Biarlah kubunuh Musa, dan biarlah dia berdoa kepada Tuhannya! Aku khawatir dia akan mengganti agamamu, atau akan membuat kerusakan di bumi” (Q.S. 40: 26). “Mereka saling berselisih antara sesamanya tentang perkara yang mereka hadapi, tapi mereka rahasiakan. Mereka berkata: ‘Kedua orang ini pasti tukang sihir (yang mahir). Tujuannya akan mengusir kamu dari negerimu dengan perbuatan sihir mereka dan menghilangkan adat lembagamu yang utama” (QS. 20:62-63).
Lembaga-lembaga yang paling diagungkan yang sekarang tengah terancam adalah agama palsu negara, upacara pemujaan terhadap raja-tuhan, semua lembaga dan ide-ide ekonomi, sosial, politik, dan agama yang telah me¬mecah-belah umat manusia ke dalam golongan budak dan majikan, golongan tertindas dan penindas, orang-orang papa dan para pemilik tanah serta para pemilik budak.
Sang raja-tuhan juga mencoba kekuatan ideologis (dalam bentuk) sihir dan propaganda, kekuatan ideologis ide-ide palsu yang dibuat-buat untuk mengutuk pikiran Musa dan untuk mempesonakannya ke dalam ilusi dan. kebohongan seperti budak-budak lain. Serangan bersama yang dilakukan para penindas itu kadang-kadang sangat besar dan tiba-tiba melalui media dan agama negara sehingga mampu memalsukan kebenaran. Dusta dan kejahatan dibuat agar tampak sebagai kebenaran. Bahkan semangat-semangat yang sangat beranipun menjadi takut akan serangan gencar kejahatan yang telah direncanakan dengan sangat baik itu.
Tetapi Musa, manusia yang berani dan selalu berkata dan bertindak benar itu menyerukan kebenarannya dengan penuh keyakinan, kebijaksanaan, dan kejujuran; dan kebenaran memiliki kekuatan untuk menghilangkan kekaburan ideologis dan menghaneurkan semua kepalsuan, seperti matahari yang terang benderang mengusir kabut dan kegelapan dari langit. Kebodohan adalah seperti malam, sedangkan wahyu dan kebenaran seperti siang.
Tatanan sosial yang berdasarkan penindasan dan eksploitasi secara ideologis ditopang oleh propaganda, kebohongan, dan dalih-dalih sistematis yang secara berangsur-angsur membangkitkan teror di dalam hati kaum yang tertindas. Dengan ideologi kepalsuan dan teror inilah kelas-kelas penguasa mengabadikan penindasan mereka terhadap orang-orang lemah. Tongkat Musa adalah simbol kebenaran, keadilan, dan kesetaraan:
“Lalu Kami memberi wahyu kepada Musa: ‘Lemparkanlah tongkatmu!’ Ternyata itu menelan habis segala kepalsuan mereka. Maka kebenaranlah yang terbukti dan segala yang mereka kerjakan sia-sia. Mereka dikalahkan di tempat itu juga, dan mereka kembali dalam keadaan hina” (Q.S. 7:117-119).
“Setelah mereka melempar, Musa berkata: ‘Apa yang kamu bawa adalah sihir. Allah akan membatalkannya, karena Allah tidak akan membiarkan berlangsung terus pekerjaan orang yang berbuat kerusakan. Dan Allah membuktikan kebenaran dengan firman-firman-Nya, sekalipun tak disukai para pelaku kejahatan” (Q.S.10: 81-82).
****
Menurut Al-Qur’an, Isa adalah seorang manusia yang rendah hati, seorang Nabi-revolusioner, seorang hamba Allah yang menempuh jalan lurus kebenaran seperti halnya Nabi-Nabi revolusioner lainnya. Dia adalah seorang manusia, seorang guru yang menerima wahyu Ilahi, Ruh Allah, ‘Inspirasi Allah’, pejuang pemberani yang melawan kejahatan dan penindasan. Dia tidak terbunuh ataupun disalibkan karena Nabi-revolusioner tidak pernah mati. Mereka selalu hidup di dalam hati nurani umat manusia.
“Dan karena perkataan mereka: ‘Kami telah membunuh Isa Almasih putra Maryam, Utusan Allah’; padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi demikianlah ditampakkan kepada mereka. Dan mereka yang berselisih pendapat selalu dalam keraguan mengenai itu, tanpa didasari suatu pengetahuan selain dengan perkiraan saja, dan yang mereka bunuh tidak meyakinkan. Tetapi Allah telah mengangkatnya ke hadirat-Nya. Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana” (Q.S. 4:157-158).
Isa adalah seorang Nabi-revolusioner yang mengajarkan kebenaran dan kesetaraan sosial, cinta kasih, dan persaudaraan kepada para pengikutnya. Nabi Isa adalah seorang hamba kebenaran yang besar. Nabi Isa hidup sebagai manusia biasa yang sederhana, jujur, dan rendah hati. Nabi Isa memikirkan orang lain, hidup untuk orang lain, dan menderita untuk orang lain. Nabi Isa memiliki tempramen seorang yang berkhalwat. Nabi Isa berdo’a sendirian secara sembunyi-sembunyi, agar tidak dilihat orang lain (tidak riya’).
Nabi Isa adalah seorang yang bijaksana, seorang guru besar (ulama), dan cendikiawan terpelajar. Nabi Isa adalah seorang guru yang merasa cukup dengan apa adanya dan tanpa pamrih bagi orang-orang miskin dan lemah. Al-Qur’an dan hadist banyak mencatat aporisme dan perkataan-perkataan Nabi Isa ini: ‘Janganlah terlalu banyak berbicara tanpa mengingat Allah; ini akan mengeraskan hati kalian. Dan hati yang telah mengeras tersingkir jauh dari Allah tanpa kalian sadari. Dan janganlah mengamat-amati dosa-dosa orang lain seolah-olah kamu adalah majikan mereka; tetapi awasilah dosa-dosamu sendiri seakan-akan kamu adalah budak (hamba sahaya). Manusia terbagi kedalam dua jenis: sebagian yang menderita karena dosa-dosanya sendiri dan sebagian lain yang diampuni; jadi, carilah ampunan bagi orang-orang yang sedang disiksa dan bersyukurlah kepada Tuhan karena kamu terbebas dari hukuman dan penderitaan.
****
Nabi-revolusioner Muhammad Saw., seperti halnya Nabi-Nabi yang lain, berserah diri kepada kehendak Allah: yang berarti bahwa dia adalah seorang hamba kebenaran. Dia menyatakan kebenaran dan memperjuangkan kesetaraan sosial. Dia begitu setia kepada tujuannya. Menurut definisi, dia adalah seorang Muslim, seperti halnya semua Nabi-revolusioner.
Apakah makna dari menyerahkan kehendak sesorang kepada kehendak Allah? Menurut Al-Qur’an, ini adalah sebuah jual-beli, dan sebuah tawar-menawar dimana revolusioner menyerahkan kehendaknya kepada kehendak Allah. Allah mengambil kehendak, jiwa, hati, kekuatan, bakat-bakat, pikiran, kekayaan, harta-benda dan segala sesuatu yang dimilikinya dan sebagai balasannya Allah memberikan kebahagiaan besar yang abadi.
Dia memperjuangkan tujuan kebenaran dan kesetaraan dan dengan demikian bekerja untuk kehendak Allah. Di dalam tawar-menawar ini, para revolusioner, kaum Muslim, meninggalkan tatanan sosial yang lama, kemewahan, hak-hak istimewa dan hubungan-hubungannya, dan memperjuangkan sebuah tatanan sosial baru, sebuah surga kebenaran, kesetaraan dan persaudaraan, keadilan dan cinta kasih.
Para revolusioner menyerahkan seluruh jiwa-raga dan harta miliknya kepada Allah; yaitu kepada tujuan kebenaraan, dan Allah memberi mereka keselamatan dan kebebasan dari perbudakan, penindasan, kepalsuan, dan kejahatan.
Dari ayat-ayat Al-Qur’an ini kita dapat menyimpulkan bahwa seorang Nabi-revolusioner, Ibrahim, Musa, atau Muhammad Saw. yang menyerahkan kehendak, jiwa, pikiran, hati, kekuatan, bakat-bakatnya, dna segala sesuatu yang menjadi miliknya kepada kehendak tuhan, pada dasarnya adalah seorang revolusioner yang membaktikan hidup dan kekuatannya untuk kebenaran dan kesetaraan sosial.
Kebenaran adalah sebuah istilah luas yang meliputi kebaikan, ketulusan , kesucian, kesesuaian dengan hukum-hukum alam, kesetaraan sosial, cinta kasih persaudaraan, kejujuran, dan keadilan. Dengan demikian dalam kontek sosial, Islam berarti sebuah tatanan sosial yang berdasarkan pada nilai-nilai luhur yang menjadikan masyarakat manusia sebuah surga dimuka bumi dimana manusia tidak menindas dan mengeksploitasi manusia lain dan dimana semua orang setara, bebas, dan bersaudara satu sama lain. Jadi, Islam dalam konteks yang luas adalah sebuah sistem egalitarianisme (kedaulatan) dan kebenaran. Inilah konsepsi Al-Qur’an tentang Islam.
‘Cara hidup’, din, semua Nabi-revolusioner pada hakikatnya adalah sama. Prinsip-prinsip fundamental dan cita-cita mereka adalah sama: kebenaran dan kesetaraan sosial yang mereka perjuangkan dengan memerangi penindasan dan kejahatan. Inilah prinsip-prinsip yang diperjuangkan oleh Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad Saw. Kebenaran dan kesetaraan, persaudara an, dan cinta kasih tidaklah konsisten dengan egoisme, kerakusan, penindasan kaum lemah, dan kepalsuan:
“…Hari ini orang kafir sudah putus asa untuk mengalahkan agamamu. Janganlah kamu takut kepada mereka; takutlah kepada-Ku. Hari ini Ku-sempurnakan agamamu bagimu dan Ku cukupknn karunia-Ku untukmu dan Ku-pilihkan Islam menjadi agamamu…” (Q.S. 5: 3).

0 komentar:

Posting Komentar